BOGOR, LINTAS — PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) memastikan seluruh bandara yang dikelola akan beroperasi siaga 24 jam selama periode angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru 2025/2026). Kebijakan ini untuk mengantisipasi potensi keterlambatan penerbangan akibat cuaca maupun peningkatan trafik penumpang.
PGS. Corporate Secretary Group Head InJourney Airports, Arie Ahsanurrohim, mengatakan operasional 24 jam diperlukan agar pesawat yang mengalami delay tetap dapat didaratkan dan diberangkatkan pada hari yang sama.
“Angkasa Pura berkomitmen open 24 jam. Ini tergantung kebutuhan maskapai, tetapi kami siap. Kenapa 24 jam? Karena jika terjadi delay, harus selesai di hari itu,” kata Arie, Kamis (11/12/2025).
Arie menekankan bahwa kebijakan ini penting agar tidak terjadi penumpukan pesawat maupun penumpang di bandara asal maupun bandara tujuan.
“Jangan sampai karena bandara close, pesawat yang delay tidak bisa landing. Itu akan menumpuk semua—termasuk penumpang di bandara asal,” ujarnya.
Meskipun bandara disiagakan 24 jam, operasional penuh tetap menyesuaikan kebutuhan maskapai.
“Selama 22 Desember sampai 10 Januari, bandara siap 24 jam. Bukan soal operasional semata, tapi pelayanan kepada masyarakat selama puncak perjalanan Nataru,” tutur Arie.

5 Bandara Tersibuk Saat Nataru 2025/2026
InJourney Airports memproyeksikan puncak arus keberangkatan terjadi pada 20–21 Desember 2025, sementara arus balik diperkirakan pada 3–4 Januari 2026.
Perseroan juga memprediksi total pergerakan penumpang selama periode Nataru mencapai 9.035.958 penumpang, atau tumbuh 3,8 persen dibanding tahun sebelumnya.
Lima bandara diperkirakan menjadi yang tersibuk, yakni: Soekarno-Hatta (Cengkareng), I Gusti Ngurah Rai (Bali), Juanda (Surabaya), Sultan Hasanuddin (Makassar) dan Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan (Balikpapan).
Menurut Arie, secara keseluruhan InJourney Airports memprediksi peningkatan penumpang sekitar 4 persen, sementara pergerakan pesawat tumbuh 2 persen.
Manajemen Operasi Berbasis Trafik
Sementara itu untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan potensi kepadatan di area bandara, InJourney Airports menerapkan manajemen operasi berbasis trafik yang diperkuat teknologi prediktif.
Teknologi tersebut mampu memetakan titik-titik rawan kepadatan seperti area drop zone, check-in, ruang tunggu, hingga airside.
“Tiket prediktif kita akurasinya 98 persen. Jadi meskipun trafik tinggi, bandara tetap akan terasa lengang,” jelas Arie.
Sejumlah penyesuaian kapasitas juga telah dilakukan, termasuk peningkatan kapasitas sisi udara di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dari 24 juta menjadi 32,4 juta penumpang per tahun.
Arie menegaskan bahwa pengelolaan operasional Nataru membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, termasuk maskapai, regulator, TNI–Polri, komunitas bandara, dan mitra layanan.
“Semua ini menjadi prioritas khusus di seluruh kantor regional dan cabang. Persiapan infrastruktur, fasilitas, prosedur, dan personel harus dimulai sejak sekarang,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama puncak Nataru, InJourney Airports akan menambah personel layanan, termasuk customer service, untuk mempercepat respons terhadap komplain penumpang—terutama terkait delay dan informasi penerbangan.
“Kalau bicara komplain delay, kuncinya adalah informasi. Kami berusaha memberi dukungan psikologis agar tidak terjadi dampak negatif di lapangan,” kata dia. (CHI)
Baca Juga: Bandara IKN Siap Beroperasi





