JAKARTA, LINTAS — Pemerintah menegaskan tekadnya membangun infrastruktur air yang tangguh. Hal ini untuk mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyatakan, pembangunan infrastruktur harus adil, inklusif, dan berkelanjutan. “Seluruh program prioritas dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata,” ujarnya dikutip dari rilis pers yang diterima majalahlintas.com, Jumat (13/6/2025).
Pesan serupa ditegaskan Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Lilik Retno Cahyadiningsih. Ia berbicara dalam forum internasional ICI 2025 di Jakarta, Kamis (12/6). Ia menyoroti tantangan besar akibat urbanisasi yang tak terkendali.

Menurut dia, banjir kota, degradasi daerah aliran sungai, dan turunnya muka tanah akibat eksploitasi air tanah, harus segera diatasi. Akses air bersih juga masih menjadi masalah di banyak daerah.
Untuk itu, infrastruktur air dan sanitasi harus diperkuat. “Air baku yang andal dan pengendalian banjir adalah prioritas utama kami,” ujar Lilik.
Modernisasi Irigasi
Ia menekankan pentingnya kerja lintas sektor. Air baku harus dikelola bersama Ditjen Cipta Karya dan PDAM agar sampai ke masyarakat.
Sejauh ini, Ditjen SDA mencatat sejumlah capaian penting. Hingga 2024, 53 bendungan rampung. Dibangun pula 179 embung dan irigasi baru di lahan seluas 238.410 hektar. Rehabilitasi irigasi mencakup 1,59 juta hektar. Pengendalian banjir dan perlindungan pantai mencapai 864 kilometer lebih.







Ke depan, strategi 2025–2029 akan difokuskan pada modernisasi irigasi dan perluasan lahan produktif. Pemerintah juga akan menggandeng sektor swasta lewat skema KPBU.
Lilik optimistis. Dengan kerja sama dan pertukaran pengetahuan, infrastruktur air yang kuat dan merata bisa tercapai. “Inilah cara kita membangun masa depan yang tangguh dan berkelanjutan,” katanya. (HRZ)
Baca Juga: Dody Hanggodo: Infrastruktur SDA Jadi Kunci Menuju Swasembada Pangan





