Senin (18/8/2025), langit Jakarta berawan tipis ketika hiruk-pikuk perayaan 80 tahun Indonesia merdeka terasa di mana-mana. Di tengah semarak bendera merah putih yang berkibar, ada cerita lain yang ikut menandai perjalanan bangsa: infrastruktur yang kini merajut Sabang sampai Merauke.
Tak banyak yang menyangka, di balik jalan tol yang mulus, jembatan megah yang melintang di atas sungai, hingga akses jalan ke kampung-kampung terpencil, ada tangan-tangan Hutama Karya yang bekerja senyap selama lebih dari enam dekade. Dari proyek perdana Simpang Susun Semanggi di tahun 1960-an, hingga Jalan Tol Trans Sumatera hari ini, infrastruktur menjadi saksi bagaimana wajah Indonesia berubah.
Jalan Tol Trans Sumatera
Beberapa tahun lalu, perjalanan Pekanbaru–Dumai butuh waktu hingga empat jam. Kini, hanya 1,5 jam saja. “Dulu kalau bawa hasil kebun sawit bisa sampai sore di jalan, sekarang sebelum makan siang sudah sampai,” ujar Roni, seorang sopir truk dari Siak yang ditemui tim Lintas di ruas tol tersebut.
Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) memang menjadi magnet utama perubahan. Membentang hampir seribu kilometer melintasi delapan provinsi, jaringan ini bukan hanya memperpendek jarak, tapi juga membuka pasar bagi petani, nelayan, hingga pengusaha kecil di sepanjang lintasannya.
Bergeser ke Kalimantan Timur, pembangunan jalan menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa harapan baru. Dari Jembatan Pulau Balang yang rampung tahun lalu, hingga koridor-koridor strategis yang kini dikerjakan, semua ditujukan untuk menghubungkan pusat pemerintahan baru dengan sentra ekonomi sekitarnya.
“Kalau tidak ada jalan, bagaimana nanti logistik dan layanan bisa jalan? Jadi kami sangat terbantu dengan pembangunan ini,” kata Dwi, pedagang sembako di Sepaku, yang kini lebih mudah mengakses barang dari Balikpapan.
Lebih jauh di Papua, ruas Muri–Kwartisore dan rencana Trans Papua membuka isolasi kampung-kampung pegunungan. Dari sana, akses kesehatan dan pendidikan lebih cepat dijangkau, sementara masyarakat lokal bisa membawa hasil bumi ke kota dengan biaya lebih murah.
Jembatan sebagai Ikon dan Penggerak
Selain tol, jembatan-jembatan karya Hutama Karya menjadi penanda zaman. Suramadu yang menyatukan Jawa–Madura, Youtefa di Jayapura yang sekaligus ikon wisata, hingga Rumpiang di Kalimantan Selatan yang kini jadi kebanggaan Barito Kuala.
Dan tentu saja Pulau Balang, cable stayed bridge dengan bentang utama 804 meter, yang menjulang gagah di atas teluk Kalimantan. “Dulu mau ke kota harus putar jauh, sekarang cukup lewat jembatan. Cepat dan hemat,” kata Iskandar, warga Balikpapan yang kini saban minggu menyeberang untuk urusan kerja maupun keluarga.
Cerita konektivitas ini juga merambah pariwisata. Tol Bali Mandara, yang melintas di atas laut sepanjang 12,7 kilometer, bukan hanya mempersingkat waktu tempuh wisatawan, tapi juga memberi pengalaman berkendara yang unik.
Di sisi lain, sejarah mencatat bahwa teknologi Sosrobahu di Tol Cawang–Priok menjadi kebanggaan global, karena dari sana lahir inovasi teknik konstruksi yang diadopsi banyak negara.
Dampak yang Terasa
Dari data Hutama Karya, lebih dari 15.000 pekerja terlibat di proyek-proyek strategis ini, mayoritas dari masyarakat lokal. UMKM yang dulunya terpinggirkan kini lebih mudah mengakses pasar. Biaya logistik turun hingga 30–40 persen, sementara destinasi wisata lebih mudah dijangkau.
Di Sumatra, perjalanan Medan–Jakarta yang dulu 30 jam kini bisa ditempuh 20 jam saja. Di Bali, kunjungan wisatawan naik 20 persen pada periode awal beroperasinya Tol Bali Mandara. “Dulu saya takut kalau anak sakit malam-malam, harus ke rumah sakit besar jauh. Sekarang lebih cepat karena jalan bagus,” kata Maria, warga Jayapura yang kini merasakan manfaat Jembatan Youtefa.
Menatap Indonesia Emas
Executive Vice President Hutama Karya, Adjib Al Hakim, menegaskan arah pembangunan tidak akan berhenti di sini. “Infrastruktur harus mempermudah hidup, mendorong usaha, dan memperkuat layanan publik. Itu fokus kami,” ujarnya.
Menjelang 2045, perusahaan menyiapkan jaringan Trans Papua, penyelesaian JTTS penuh, hingga smart infrastructure berbasis IoT. Semua diarahkan pada efisiensi, keselamatan, dan keberlanjutan menuju Indonesia Emas.
Dari Sabang sampai Merauke, dari jalan tol di Sumatra hingga jembatan di Papua, konektivitas yang dirajut Hutama Karya bukan sekadar proyek beton dan aspal. Ia adalah urat nadi baru yang menggerakkan kehidupan, menghubungkan orang, barang, dan harapan di seluruh penjuru negeri. (GIT)































