Home Berita TPST Kebon Talo Mataram Ditargetkan Selesai 31 Desember 2026, Olah 60 Ton Sampah

TPST Kebon Talo Mataram Ditargetkan Selesai 31 Desember 2026, Olah 60 Ton Sampah

Share

JAKARTA, LINTAS – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo, Mataran, Nusa Tenggara Barat dengan kapasitas pengolahan hingga 60 ton sampah per hari untuk menangani sampah.

Fasilitas yang dibangun di atas lahan seluas 1,48 hektar tersebut akan melayani kebutuhan pengelolaan sampah di Kecamatan Ampenan dan Kecamatan Sekarbela. Kehadirannya diharapkan dapat mengurangi beban sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir sekaligus memperkuat kualitas lingkungan perkotaan dan mendukung sektor pariwisata di Mataram.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, pemerintah terus mempercepat penanganan persoalan sampah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu upayanya dilakukan dengan memperkuat infrastruktur persampahan sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi agar sampah dapat diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.

“Ke depan, gunungan sampah akan kita ubah menjadi listrik. Tapi yang lebih penting, kita ubah dulu budaya kita. Hentikan membuang sampah ke sungai dan laut. Karena ketika kita membuang sembarangan, alam akan menghukum kita kembali, misalnya banjir dari sungai, rob dari laut,” kata Dody, Senin (10/8/2026).

Pembangunan TPST Kebon Talo menjadi semakin penting karena Kota Mataram menghasilkan sekitar 425 ton sampah setiap hari. Di sisi lain, penutupan TPA Regional Kebon Kongok turut mempersempit ruang pengelolaan sampah sehingga membutuhkan dukungan infrastruktur baru yang lebih efektif.

Dilengkapi Teknologi Pemilahan Sampah

TPST Kebon Talo tidak dirancang sekadar sebagai lokasi penampungan sampah. Fasilitas ini menggunakan konsep pengelolaan sampah terpadu, mulai dari pemilahan hingga pengolahan untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.

Teknologi pemilahan otomatis akan digunakan untuk memisahkan berbagai jenis sampah, seperti organik, anorganik, logam, dan residu. Dengan sistem tersebut, material yang masih memiliki nilai guna dapat diproses lebih lanjut, sementara residu yang tersisa dapat ditekan volumenya.

TPST ini juga dilengkapi teknologi Solid Recovered Fuel (SRF) untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif. Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan tingkat daur ulang sekaligus memberikan nilai tambah terhadap sampah yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.

Secara operasional, proses pengolahan akan dibagi dalam dua lini utama, yakni lini organik serta lini RDF/anorganik. Pembagian tersebut dirancang agar proses pengolahan berlangsung lebih efisien dan menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.

Dibangun di Atas Lahan 1,48 Hektar

Dari sisi fasilitas, bangunan utama TPST Kebon Talo berupa hanggar pengolahan dengan luas mencapai 2.592 meter persegi. Hanggar tersebut akan didukung sejumlah fasilitas penunjang, antara lain kantor operasional, pos operator jembatan timbang, ruang panel, powerhouse, serta berbagai prasarana pendukung lainnya.

Pembangunan TPST Kebon Talo telah dimulai pada 12 Juni 2026 dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026. Setelah beroperasi, fasilitas tersebut diproyeksikan memiliki masa layanan hingga 20 tahun. (CHI)

Baca Juga: Wajah Baru Danau Bakuok Kampar, Dulu Aliran Sungai Mati Kini Jadi Ruang Wisata

Oleh:

Share