Jakarta – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta direnovasi jelang gelaran internasional Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.
Adapun G20 merupakan organisasi yang diisi 19 negara dan Uni Eropa. Tahun ini giliran Indonesia yang menjadi tuan rumah pertemuan ekonomi itu.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyampaikan renovasi itu merupakan tugas langsung dari Presiden Joko Widodo.
“Penugasan khusus ini berdasarkan Perpres Nomor 116 Tahun 2021 tentang percepatan, pelaksanaan, pembangunan infrastruktur untuk mendukung penyelenggaraan acara internasional di Provinsi Bali, DKI Jakarta, NTB dan NTT,” ungkap Basuki dalam keterangannya dikutip Jumat (27/5/2022).
Renovasi itu juga meliputi penataan joglo Sasono Utomo, Sasono Langgeng Budoyo dan Sasono Adiguno dengan progres mencapai 19,69 persen.
Selain itu juga dilakukan penataan lanskap pedestrian anjungan, viewing tower, Kaca Benggala, dan pembangunan community center dengan capaian 39,60 persen dan penataan pulau-pulau Danau Archipelago mencapai 49,42 persen.
Kemudian pengerjaan renovasi di area Museum Garuda, Museum Telkom, dan Museum Keong Mas dengan progres 40,27 persen.
Pengerjaan renovasi dan penataan dilakukan Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya.
“Anggaran yang dialokasikan untuk renovasi kawasan TMII sejumlah Rp 1,13 triliun,” kata Direktur Jenderal Cipta Karya Diana Kusumastuti.
Ia mengungkapkan, proses renovasi telah berlangsung awal Januari 2022 dan ditargetkan selesai September ini.
“Sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal pada perhelatan KTT G20,” tuturnya.
Diketahui Taman Mini Indonesia Indah adalah kawasan wisata yang memamerkan ragam budaya Tanah Air seperti arsitektur tradisional, aneka busana, tarian dan tradisi dari berbagai wilayah.
Kawasan ini dibangun atas ide dari istri Presiden Soeharto, Siti Hartinah Soeharto atau Ibu Tien. Gagasan pembangunannya disampaikan Ibu Tien di Jalan Cendana 8, Jakarta Pusat, pada 13 Maret 1970. Ibu Tien berharap TMII dapat menjadi tempat yang merepresentasikan miniatur Indonesia.
Usulan itu pun disambut dengan baik oleh Gubernur DKI Jakarta kala itu, Ali Sadikin. Pembangunannya disebut menghabiskan biaya Rp 10,5 miliar dan akhirnya diresmikan pada 20 April 1975. (*)
Baca juga: Bali Dihijaukan untuk Sambut KTT-G20 Tahun 2022 Mendatang

























