Home Berita Proyek Surabaya Regional Railway Line Tahap 1 Ditargetkan Beroperasi 2029, Pendanaan dari Jerman

Proyek Surabaya Regional Railway Line Tahap 1 Ditargetkan Beroperasi 2029, Pendanaan dari Jerman

Share

JAKARTA, LINTAS – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) memastikan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) terus berjalan.

Proyek transportasi perkotaan berbasis rel ini resmi mendapatkan dukungan pendanaan dari Bank Pembangunan Jerman (KfW) senilai 230 juta euro atau setara Rp 3,76 triliun (kurs Rp 16.375 per dolar AS).

“SRRL kita sudah mendapatkan loan agreement dengan KfW Jerman,” ujar Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api DJKA Kemenhub, Arif Anwar, dalam acara Press Background di Kantor Kemenhub, Jakarta, Senin (15/9/2025).

Menurut Arif, tahap pertama proyek KRL Surabaya akan memanfaatkan jalur ganda (double track) eksisting, menghubungkan Stasiun Gubeng Surabaya hingga Stasiun Sidoarjo sepanjang 27 kilometer. Selain itu, pembangunan depo baru di Sidotopo juga akan dilakukan. Target operasional ditetapkan pada tahun 2029.

Perjanjian Pinjaman Indonesia–Jerman

Mengutip web Kedutan Besar Jerman, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan bersama Pemerintah Jerman melalui KfW telah menandatangani perjanjian pinjaman pada 30 Juni 2025. Kesepakatan tersebut mencakup 230 juta euro untuk pembangunan SRRL Tahap 1 dan tambahan 6 juta euro untuk mendukung integrasi antarmoda serta keberlanjutan investasi.

Dengan total investasi mencapai 296,8 juta euro, proyek SRRL Tahap 1 terdiri atas pinjaman lunak dari KfW sebesar 230 juta euro, pendanaan pendamping dari Pemerintah Indonesia sebesar 66,8 juta euro, serta hibah senilai 6 juta euro. Proyek ini ditargetkan mampu melayani lebih dari 200 ribu penumpang per hari saat beroperasi penuh.

Proyek Hijau dan Berkelanjutan

SRRL Tahap 1 akan mengusung konsep infrastruktur hijau sejalan dengan Asta Cita dan Prioritas Nasional (PN) Presiden, khususnya PN2 (Transformasi Ekonomi Hijau), PN3 (Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan), dan PN6 (Penguatan Kawasan Perkotaan).

Proyek ini diproyeksikan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 150 ribu ton per tahun pada 2045, sekaligus meningkatkan aksesibilitas perkotaan, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong alih pengetahuan internasional.

Baca Juga: Harmoni Tanpa Deru Mesin di Gili Trawangan

Selain manfaat lingkungan, SRRL juga diharapkan memberikan dampak sosial-ekonomi yang signifikan, mulai dari mengurangi kemacetan lalu lintas, menekan biaya logistik, hingga meningkatkan keselamatan penumpang.

Ke depan, sistem ini akan diintegrasikan dengan layanan kereta api dan bus lain serta dikembangkan dengan konsep Transit-Oriented Development (TOD), yang mendorong kawasan padat, ramah pejalan kaki, dan terpusat pada transportasi publik. (CHI)

Oleh:

Share