GORONTALO, LINTAS – Proyek strategis Preservasi Jalan Ruas Paguyaman-Tabulo yang berfokus pada lima titik shortcut (jalan pintas) di Kabupaten Boalemo menunjukkan progres yang signifikan.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) I Gorontalo, Doni Setiawan Dwi Harnowo, menyatakan bahwa progres fisik pekerjaan saat ini telah mencapai 64,88 persen. Proyek yang didanai melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan memangkas waktu tempuh bagi masyarakat.
Doni menjelaskan bahwa keberadaan pekerjaan shortcut dalam paket preservasi ini memiliki sejarah yang unik. Awalnya, jalan-jalan pintas ini dibangun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Boalemo untuk memotong tikungan-tikungan tajam dan memperpendek jarak tempuh di ruas jalan nasional yang ada. Pembangunan yang didanai APBD ini berhasil mempersingkat rute, sehingga lebih banyak pengendara memilihnya.
Namun, keterbatasan anggaran pemeliharaan dari pemerintah daerah menyebabkan kondisi jalan pintas tersebut rusak berat dan rawan kecelakaan. Menanggapi hal ini, Pemda Boalemo mengusulkan agar status jalan tersebut dialihkan menjadi jalan nasional.

“Setelah melalui pembahasan berjenjang dan dilengkapi data pendukung, Kementerian PUPR menyetujui alih status tersebut melalui SK Menteri PUPR Tahun 2022,” jelas Doni.
Perubahan ini mengakibatkan ruas Paguyaman–Tabulo yang semula sepanjang 63,08 Km menjadi 60,09 Km yang terbagi dalam 11 segmen. Setelah resmi menjadi jalan nasional, penanganannya diusulkan melalui dana SBSN dan dilaksanakan pada tahun 2025.
Anggaran, Progres, dan Tantangan
Pemerintah pusat mengalokasikan dana yang signifikan untuk perbaikan ini. “Nilai kontrak untuk paket Preservasi Jalan Paguyaman – Tabulo (Shortcut I, II, III, IV dan V) adalah sebesar Rp 83 miliar dengan jangka waktu pelaksanaan 235 hari kalender,” ungkap Doni. Hingga saat ini, realisasi keuangan proyek telah mencapai 66,80%, termasuk uang muka.
Doni juga memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan. Kendala utama yang pertama, permasalahan Lahan sehinga diperlukan penyelesaian masalah lahan di lokasi galian untuk perbaikan geometri jalan, yang penanganannya melibatkan hingga tingkat Bupati Boalemo. Kedua, aduan masyarakat kami menghadapi sorotan dan aduan dari beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terkait pelaksanaan pekerjaan.
Baca Juga: Proyek Konstruksi 3D Printing Terbesar di Dunia
Selanjutnya,ketiga yaitu aspirasi tambahan terkait dengan menyikapi usulan penambahan volume pekerjaan seperti saluran dan pasangan batu dari Pemda yang muncul saat pekerjaan telah berkontrak dan Keempat, pemanfaatan bahu jalan sehingga ada upaya Menangani masyarakat yang telah memanfaatkan bahu jalan untuk mendirikan warung jualan.
“Semua tantangan ini kami selesaikan melalui berbagai langkah, terutama pendekatan persuasif seperti musyawarah bersama aparat pemerintah daerah. Bahkan, beberapa warga yang awalnya keberatan kami rekrut menjadi tenaga kerja proyek, sehingga pekerjaan dapat berjalan aman dan lancar,” tambahnya.
Manfaat bagi Masyarakat
Setelah proyek ini tuntas, manfaatnya akan dirasakan secara langsung oleh masyarakat luas. Menurut Doni, manfaat utamanya adalah waktu tempuh yang semakin cepat bagi pengguna jalan dari dan menuju Kabupaten Boalemo dan sekitarnya.
“Selain itu, masyarakat akan merasakan kenyamanan dan keamanan berkendara yang lebih baik dengan kondisi jalan yang mantap serta geometri yang sudah diperbaiki,” tuturnya. (ROY/DWO)































