Home Berita Potensi Pasar Sekunder Rumah Subsidi Melejit, Maruarar Dorong Broker Masuk Ekosistem Pemerintah

Potensi Pasar Sekunder Rumah Subsidi Melejit, Maruarar Dorong Broker Masuk Ekosistem Pemerintah

Share

JAKARTA, LINTAS – Pasar sekunder rumah subsidi mulai mencuri perhatian pemerintah. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, menegaskan bahwa peluang bisnis di sektor ini sangat besar, terutama ketika jumlah rumah subsidi terus melonjak dari tahun ke tahun.

Ara, demikian ia biasa disapa, mengatakan pasar secondary market bisa menjadi ladang ekonomi baru yang membuka kesempatan bagi ribuan tenaga pemasaran properti di seluruh Indonesia.

Ara menjelaskan bahwa pemerintah menyalurkan sekitar 200.000 unit rumah subsidi pada 2024. Jumlah itu melonjak menjadi 350.000 unit pada 2025. Pertumbuhan ini langsung memperbesar potensi perputaran ekonomi di pasar sekunder.

“Kalau setiap tahun bisa mencapai angka itu, maka dalam sepuluh tahun akan ada sekitar 3,5 juta rumah subsidi. Ini potensi luar biasa yang bisa menjadi sumber penghidupan baru bagi puluhan ribu broker di seluruh Indonesia,” tegas Ara.

Menurutnya, broker properti bisa berperan penting dalam membangun ekosistem secondary market. Ketika masyarakat berpenghasilan rendah ingin meningkatkan kualitas hunian mereka dan memenuhi syarat untuk naik kelas ke rumah yang lebih besar, sistem pasar sekunder diperlukan agar proses jual-beli berjalan tertib dan transparan.

Ara menilai peluang ekonomi bagi broker akan terbuka lebar ketika mekanisme pasar sekunder berjalan terstruktur. Ia menekankan bahwa peran broker bukan hanya menjembatani transaksi, tetapi juga ikut memperkuat perputaran ekonomi masyarakat di sektor perumahan.

Kalau masyarakat sudah memenuhi syarat dan ingin naik kelas, harus ada mekanisme secondary market agar rumah subsidi itu bisa dijual kembali dengan tertib. Ini bisa menjadi peluang ekonomi bagi broker sekaligus memperkuat ekosistem perumahan rakyat,” ujarnya.

Meski begitu, Ara mengingatkan bahwa konsep broker rumah subsidi perlu dipetakan dengan matang. Mekanisasi harus sesuai dengan kebijakan pemerintah dan tetap menjaga prinsip pemerataan agar rumah subsidi tetap menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah. Dengan aturan yang tepat, potensi pasar sekunder tidak hanya mendorong ekonomi, tetapi juga memastikan distribusi hunian tetap adil.

Ia menyampaikan harapan agar kerja sama antara pemerintah, perbankan, pengembang, dan asosiasi broker seperti Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) berjalan lebih solid. Sinergi lintas sektor diyakini akan menciptakan sistem yang terhubung dari hulu ke hilir, sehingga pasar rumah subsidi dapat berkembang tidak hanya dari sisi penyediaan unit, tetapi juga dari sisi transaksi dan likuiditas pasar.

Ara menegaskan bahwa percepatan perputaran ekonomi juga harus dirasakan oleh masyarakat di lapisan bawah.
“Kita ingin ekonomi di sektor bawah juga bergerak. Kalau ekosistem ini terbentuk, pemerataan ekonomi bisa tercapai dari atas hingga ke bawah,” katanya.

Ketua Umum Arebi, Clement Francis, menyatakan pihaknya siap mendukung penuh program pemerintah, termasuk Program 3 Juta Rumah yang menjadi agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto. Ia memastikan Arebi akan ikut mendongkrak target penjualan rumah subsidi maupun komersial.

Kami akan membantu meningkatkan target penjualan hunian baik rumah subsidi maupun komersial,” ujar Clement. (GIT)

Baca Juga: Sukseskan Piala Menteri PU 2025, PB Pergatsi Perkuat Koordinasi dan Kesiapan 12 Lapangan Gateball

Share