JAKARTA, LINTAS — Guna mengatasi tidak terjadinya konflik sosial di Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, atas permintaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), akan dibangun akses Ruas Hurung-Ilepati-Demondei. Kementerian PU merencanakan pembangunan akses itu melalui program inpres jalan daerah (IJD).
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti mewakili Menteri PU Dody Hanggodo dalam Rapat Tingkat Menteri Penanganan Pascabencana Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki dan Konflik Sosial Adonara di Kabupaten Flores Timur, Jumat (21/3/2025), di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
Diana menjelaskan, ruas jalan yang akan dibangun tersebut memiliki panjang 10,3 km dengan lebar badan jalan 3,5 meter. Dengan sisi kanan-kiri terdapat bangunan rumah, dan kondisi jalan rusak berat.
“Kementerian PU telah melakukan survei untuk penanganan ruas tersebut. Rencana pelaksanaannya akan ditangani melalui Inpres Jalan Daerah (IJD) Tahun 2025 yang saat ini sedang dalam proses pembahasan. Mohon kepada pemerintah daerah untuk membantu terkait pembebasan lahan di sekitarnya. Harus dilakukan land clearing terlebih dahulu agar Kementerian PU bisa menambah badan jalan dan drainase. Mudah-mudahan proses IJD lancar dan tahun ini dapat segera kita lakukan penanganannya,” kata Diana dikutip dari rilis pers yang diterima, Jumat (21/3).
Pascabencana
Adapun terkait penanganan pascabencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, Menko PMK Pratikno mengatakan, rapat tingkat menteri menyepakati beberapa hal.
“Ada beberapa pending matters yang kita tuntaskan pada rapat kali ini, mulai dari permasalahan lahan, permasalahan pembangunan hunian tetap, permasalahan penyelesaian akses jalan ke huntap, dan juga pembangunan infrastruktur lain di Adonara, selain pembangunan rumah yang menjadi korban dari konflik sosial dan juga akses ke atas. Tadi kami bahas satu per satu secara detail koordinasi lintas K/L. Kami sepakati juga langkah-langkah yang bisa dilakukan secepat-cepatnya tanpa menimbulkan masalah baru, baik sosial maupun lingkungan,” kata Pratikno.
Sementara itu, Diana menerangkan, Kementerian PU telah melakukan penanganan pascabencana melalui bidang Sumber Daya Air (SDA), Bina Marga, dan Cipta Karya. Di bidang SDA, dilakukan pengecekan Bendungan Napun Gete dan pembangunan Sumur Air Tanah di 2 lokasi.
Kemudian, di bidang akses dilakukan pembersihan jalan, pemotongan dahan dan ranting, mobilisasi truck crane, dan penyiraman badan jalan.
Sementara di bidang permukiman, telah dilakukan pengisian air bersih, pemasangan hidran umum, penyediaan toilet portable, hingga dukungan pembangunan hunian sementara (huntara).
“Untuk penanganan pascabencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, Kementerian PU telah membangun sumur di 2 lokasi. Untuk sumur pertama memiliki kedalaman 36 meter, dan sumur kedua memiliki kedalaman 46 meter yang telah dilengkapi dengan pipa air. Kementerian PU juga sudah melakukan clearing lokasi dan sedang menyiapkan untuk penyediaan sarana pengelolaan persampahan di huntara,” kata Diana.

Terkait dukungan pada kawasan relokasi huntap di Noboleto, Kabupaten Flores Timur, Kementerian PU juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) untuk melakukan pembangunan infrastruktur dasar.
“Sesuai arahan Pak Menko PMK, kami akan segera mempercepat pembangunan infrastruktur dasar di kawasan Noboleto dengan menggunakan DSP (Dana Siap Pakai) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Untuk pelaksanaannya, Kementerian PKP akan melakukan pembangunan hunian termasuk kawasannya, dan Kementerian PU akan melakukan land development termasuk dengan dukungan air, sanitasi, dan aksesnya,” tandas Diana.
Seperti diberitakan, Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, NTT naik dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV) menyusul ledakan beruntun yang terjadi pada Kamis (20/3/2025) pukul 22.56 Wita dan Jumat (21/3) dini hari pukul 00.10 Wita.
Dikutip dari cnbcindonesia.com, erupsi tersebut menyebabkan 2 orang terluka bakar. Saat letusan, korban disebutkan sedang berada di kebun.
Dari penelusuran majalahlintas.com, erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pertama kali tercatat pada 1861. Terakhir, gunung ini mengalami erupsi pada Minggu, 3 November 2024.
Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki kembaran bernama Gunung Lewotobi Perempuan setinggi 1.708 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Puncak kedua gunung itu terpisah jarak lebih kurang 2 kilometer. Pelana yang memisahkan kedua puncak tersebut berketinggian 1.232 mdpl. Adapun erupsi Gunung Lewotobi Perempuan pertama kali tercatat pada 1921. (HRZ)































