Jalan Pantai Selatan atau Pansela Pulau Jawa bukan hanya sebagai jalur alternatif, tapi juga bak menjadi tempat liburan setiap saat karena pemandangannya yang indah.
Pansela Jawa yang membentang dari Provinsi Banten hingga ke Jawa Timur memang memiliki pemandangan indah.
“Daya tarik utama jalur Pansela ini memiliki keseruan tersendiri, mulai dari disuguhkannya pemandangan pantai yang indah, bukit-bukit yang sudah dipapras, dan perjalanan menjadi seperti everyday is holiday (liburan setiap hari/saat), karena banyaknya tempat wisata pantai di sepanjang jalur Pansela ini,” kata Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DI Yogyakarta Rien Marlia di acara Podcast Bincang Jalan dan Jembatan dilansir web Ditjen Bina Marga.

Jalur Pansela memperbanyak pilihan pengendara melintasi Pulau Jawa, selain jalur utara, jalan tol Trans Jawa, serta jalur tengah.
Makin banyaknya pilihan ini bisa mengurangi kepadatan kendaraan yang berimbas kepada memangkas waktu tempuh.
“Jalur Pansela yang menjadi wewenang BBPJN Jawa Tengah-DIY, dimulai dari batas Jawa Barat, daerah Cilacap yang menghubungkan Kebumen,” terang Rien.
“Kemudian menyambung di DI Yogyakarta mulai di Kulon Progo, Bantul, Gunung Kidul, lalu bertemu Wonogiri, Jawa Tengah, sampai batas Jawa Timur di Kabupaten Pacitan,” lanjutnya.
Panjang Pansela
Total panjang jalan Pansela untuk area Jawa Tengah dan DI Yogyakarta yakni 330,49 km yang terdiri dari 213,36 km di Jawa Tengah dan 117,13 km di DIY.
Panjang jalan yang sudah tertangani hingga 2022 totalnya 274,37 km dan sisanya 56,12 km.
Baca juga: Menteri PUPR: Kondisi Jalan Nasional di Pantai Selatan Sangat Baik
Pendanaan untuk pembangunan jalan maupun jembatan di jalur Pansela bersumber dari APBN melalui pinjaman Islamic Development Bank (IsDB), pinjaman Asian Development Bank (ADB), dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Rien menginformasikan, Pansela yang sudah diinisiasi sejak tahun 2015, sedang melakukan proses pembangunan dua paket jalan.
Paket pertama, Tepus-Jerukwudel II di Kabupaten Gunung Kidul dengan panjang 10,9 km, ditargetkan selesai di akhir tahun 2023.
Lalu, di Bantul pada ruas Kretek-Girijati dengan panjang 5,64 km yang baru kontrak pada Agustus dan akan selesai di tahun 2025.
Pembangunan jalur Pansela berdampak kepada peningkatan perekonomian masyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat berjualan di tempat wisata di sepanjang jalur selatan ini.
Jembatan Unik
Di ruas Pansela, BBPJN Jateng-DIY membangun Jembatan Kretek II yang unik karena memiliki teknologi antigempa dan ornamen dengan kearifan lokal.
Dengan total panjang jembatan 2,6 km termasuk jalan pendekat, Jembatan Kretek II menghubungkan antara Desa Parangtritis dan Tirtohargo di Kecamatan Kretek dengan melintasi Sungai Opak.
“Wilayah Sesar Opak ini rawan gempa dan likuifaksi. Lokasinya hanya berjarak 50 meter dari pusat gempa yang terjadi di Yogya tahun 2006 lalu,” ujar Rien.
“Maka, dalam perencanaan dan pembangunannya dimasukkan teknologi-teknologi mitigasi bencana,” lanjutnya.

Teknologi mitigasi bencana yang digunakan di Jembatan Kretek II di antaranya Lead Rubber Bearing (LRB) pada struktur penyambung girder yang fungsinya untuk meredam gempa.
Lalu, MSE (Mechanically Stabilized Earth) Wall sebagai perkuatan timbunan, dan juga dilakukan Soil Replacement sedalam 3 meter untuk menggantikan tanah yang terlikuifaksi.
Sementara itu, untuk memonitor kondisi struktur secara realtime dan terintegrasi untuk memberi peringatan dini terhadap kemungkinan bahaya, digunakan teknologi Structural Health Monitoring System (SHMS). (EDW)
Baca Juga: Jalur Pantai Selatan di DIY Rampung pada 2024

























