Home Fitur Buldozer Tak Pernah Pensiun: Jejak Silaturahmi, Kenangan, dan Tawa di Rel Waktu

Buldozer Tak Pernah Pensiun: Jejak Silaturahmi, Kenangan, dan Tawa di Rel Waktu

Share

Pagi itu, Senin 20 April 2026, langit Bintaro tampak biasa saja. Tak ada yang benar-benar istimewa jika dilihat sekilas. Namun di balik kesederhanaan pagi itu, ada sekelompok orang yang membawa cerita panjang—cerita tentang jalan, tentang pengabdian, tentang waktu yang tak pernah benar-benar berhenti. Mereka menyebut diri mereka Buldozer—bukan sekadar nama, melainkan simbol kekuatan, ketangguhan, dan perjalanan panjang di dunia Bina Marga.

Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB ketika satu per satu mereka mulai berdatangan di Stasiun Pondok Ranji. Wajah-wajah yang mungkin telah dimakan usia, namun tetap menyimpan semangat yang sama seperti puluhan tahun lalu saat mereka masih aktif bekerja. Tawa kecil mulai pecah di antara sapaan hangat. Ada pelukan, ada tepukan bahu, ada juga tatapan haru yang seolah berkata: “Kita masih di sini.”

Di tengah kerumunan itu, berdiri sosok yang menjadi penggerak, Didi Bernaldy—atau akrab disapa Diber bersama dengan Paul Ames Halomoan. Dengan senyum tenang dan aura kepemimpinan yang tak luntur oleh waktu, ia menyapa satu per satu rekannya.

Perjalanan hari itu bukan sekadar perjalanan fisik menuju Rangkas Bitung, melainkan perjalanan batin kembali ke masa lalu—masa di mana mereka membangun jalan, menghubungkan daerah, dan mengabdikan diri tanpa lelah.

Sekitar 15 orang berkumpul pagi itu. Jumlah yang mungkin tak besar, namun cukup untuk menghidupkan kembali kenangan yang sempat tersimpan rapi. Saat kereta KRL mulai bergerak meninggalkan stasiun, percakapan pun mengalir tanpa jeda. Ada yang bercerita tentang cucu, ada yang membahas kesehatan, dan tak sedikit yang mulai mengungkit cerita lama saat masih aktif di lapangan.

Kereta melaju, membawa mereka melewati rel waktu yang seolah menyambungkan masa kini dengan masa lalu.

Pensiunan Kementerian Pekerjaan Umum Bina Marga. Lintas/Roy Afriansyah.

Kebersamaan Bermakna

Setibanya di Stasiun Rangkas Bitung, perjalanan belum usai. Dengan langkah perlahan namun penuh semangat, mereka berjalan kaki sekitar 800 meter menuju sebuah restoran sederhana yang telah menjadi tujuan makan siang mereka. Jalanan yang dilalui terasa ringan, bukan karena jaraknya yang pendek, melainkan karena kebersamaan yang membuat setiap langkah terasa bermakna.

Sesampainya di lokasi, suasana langsung mencair. Meja-meja yang tersusun rapi berubah menjadi saksi pertemuan penuh cerita. Hidangan mulai tersaji, dan aroma durian pun menambah semarak suasana. Tak butuh waktu lama hingga tawa kembali pecah, kali ini lebih lepas, lebih dalam.

Karaoke menjadi pengiring siang itu. Lagu-lagu lama yang mungkin pernah mereka dengarkan di masa muda kembali menggema. Suara yang mungkin tak lagi sekuat dulu, namun penuh rasa. Setiap lirik seolah menjadi jembatan menuju kenangan lama—kenangan tentang proyek, tentang tantangan, tentang persahabatan yang terjalin di bawah terik matahari dan derasnya hujan.

Di tengah suasana hangat itu, Ibu Ir. Bintari (76), pensiunan tahun 2008, tampak begitu menikmati momen. Dengan mata yang berbinar, ia menyampaikan betapa berharganya pertemuan ini.

“Ini bukan hanya sekadar kumpul-kumpul,” ujarnya pelan namun penuh makna. “Ini mengingatkan saya pada masa lalu… teman-teman satu tim, satu perjuangan. Rasanya seperti kembali ke masa itu.”

Ia berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Baginya, silaturahmi adalah energi yang menghidupkan kembali semangat yang mungkin sempat redup.

Leboh dari Sekadar Reuni

Hal senada disampaikan oleh Ahmad Helmi, pensiunan tahun 2018. Dengan nada reflektif, ia memaknai pertemuan ini lebih dari sekadar reuni.

“Ini bukan hanya pertemuan biasa,” katanya. “Ini silaturahmi yang penuh nilai ibadah. Bertemu teman lama, bercerita… rasanya seperti kembali muda.”

Ucapan itu diamini oleh yang lain. Waktu memang berjalan maju, namun kenangan memiliki caranya sendiri untuk membawa manusia kembali ke titik-titik yang paling berarti dalam hidupnya.

Ibu Kenni, pensiunan tahun 2010, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Senyum lebar terus menghiasi wajahnya sepanjang acara. Baginya, momen ini adalah obat rindu yang tak ternilai.

Sementara itu, Muhammad Iqbal Pane, pensiunan tahun 2013, mulai membuka lembaran cerita tentang suka duka selama berkarir di Bina Marga. Ia bercerita tentang tantangan di lapangan, tentang tekanan pekerjaan, namun juga tentang kebanggaan ketika melihat hasil kerja mereka benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Kisah yang Bercerita

Cerita demi cerita mengalir, membentuk mozaik kenangan yang begitu kaya. Tak ada yang merasa lebih hebat, tak ada yang merasa paling berjasa. Semua larut dalam satu rasa: kebersamaan.

Waktu berlalu tanpa terasa. Matahari mulai condong ke barat ketika mereka bersiap untuk kembali. Perjalanan pulang dari Rangkas Bitung ke Pondok Ranji memakan waktu sekitar satu setengah jam. Namun perjalanan kali ini terasa berbeda.

Di dalam kereta, suasana lebih tenang. Bukan karena lelah, melainkan karena hati yang penuh. Penuh dengan cerita, dengan tawa, dengan rasa syukur.

Beberapa terdiam, mungkin merenung. Beberapa masih melanjutkan obrolan ringan. Namun satu hal yang pasti—hari itu meninggalkan jejak yang dalam di hati masing-masing.

Ada banyak cerita yang belum sempat terucap. Banyak kenangan yang masih tersimpan. Namun justru di situlah letak keindahannya. Bahwa perjalanan ini belum selesai.

Komunitas Buldozer membuktikan bahwa pensiun bukanlah akhir. Ia hanyalah bab baru dari kehidupan—bab yang memberi ruang untuk kembali terhubung, untuk berbagi, dan untuk merayakan perjalanan panjang yang telah dilalui.

Di balik keriput wajah dan langkah yang tak lagi secepat dulu, ada jiwa-jiwa yang tetap kuat, tetap hangat, dan tetap hidup.

Karena sejatinya, seperti buldozer yang tak kenal lelah meratakan jalan, mereka pun terus melangkah—membuka jalan bagi kenangan, persahabatan, dan makna hidup yang tak pernah pensiun. (PAH/ROY)

Oleh:

Share