Home Profil Mislan, Sahabat Air, Ilmuwan Lingkungan, dan Pemersatu Masyarakat

Mislan, Sahabat Air, Ilmuwan Lingkungan, dan Pemersatu Masyarakat

Share

Rendah Hati

Salah satu ciri khas Mislan adalah sikap rendah hatinya. Meskipun ia dihormati sebagai pakar dan pemimpin, ia lebih suka mendengarkan ketimbang berbicara. Ia tidak pernah mencari popularitas; ia percaya bahwa kerja keras dan ketulusan akan berbicara dengan sendirinya.
Rekan sejawatnya, Ir. Eko Wahyudi, M.Tech, pernah menyebutnya sebagai “penyair lingkungan.”

Bagi Eko, Mislan bukan sekadar akademisi, melainkan penyambung rasa antara manusia dan alam. “Air adalah kekasihnya,” kata Eko, “yang bisa diajak bicara dalam diam maupun puisi.”

Dalam setiap seminar, diskusi publik, atau forum kebijakan, Mislan konsisten menyuarakan pentingnya keterlibatan masyarakat. Ia menekankan bahwa pelestarian lingkungan tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh pemerintah atau LSM.

“Air adalah milik bersama. Kita semua harus bertanggung jawab,” katanya tegas.

Salah satu pendekatan inovatif yang ia gagas adalah dialog multipihak. Dalam proyek pengelolaan Kawasan Hidrologis Gambut (KHG) Belayan-Kelinjau, ia memfasilitasi pertemuan antara warga, pengusaha, dan pemerintah daerah untuk membahas solusi bersama.

Hingga kini, di usianya yang ke-57, semangat Mislan tak pernah surut. Ia terus menulis, meneliti, dan menggerakkan masyarakat. Bahkan dalam kondisi lelah sekalipun, ia tetap bersedia hadir di acara komunitas, berbagi cerita dan inspirasi.

Bagi Mislan, perjuangan menjaga air bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk masa depan. “Jika kita merusak air hari ini,” ucapnya dalam suatu forum, “kita sedang membangun kehancuran bagi anak cucu kita.”

Ia percaya bahwa perubahan sejati harus dimulai dari hati. Karena itu, ia tidak hanya mengandalkan pendekatan teknis, tetapi juga pendekatan humanistik. Ia menyentuh kesadaran, bukan sekadar memberi instruksi.

Kecintaan Mislan terhadap air mengajarkan kita bahwa ilmu pengetahuan bisa bersanding harmonis dengan seni, bahwa logika bisa berjalan seiring dengan rasa. Ia adalah jembatan antara sains dan nurani.

Dalam salah satu catatannya, ia menulis: “Bencana bukanlah takdir. Ia adalah pilihan. Kita bisa memilih untuk mencintai air, atau membiarkannya mati.” Kata-kata ini bukan hanya pesan, melainkan peringatan.

Mislan bukan hanya pejuang lingkungan. Ia adalah suara yang terus mengalir, seperti sungai yang jernih dan penuh harapan. Suaranya mengingatkan kita bahwa selama masih ada air yang mengalir, selalu ada harapan untuk berubah. (MAL)

Oleh:

Share