Koordinasi
Salah satu proyek besar yang ia tangani adalah restorasi Danau Kaskade Mahakam. Dalam proyek ini, Mislan memimpin studi penetapan sempadan danau serta pengukuran kualitas air. Hasil risetnya menjadi dasar penyusunan kebijakan pengelolaan DAS Mahakam yang lebih berkelanjutan.
Selain aktif di lapangan, ia juga terlibat dalam Capacity Building Water Resources Management (CBWRM).
Melalui program ini, ia berperan dalam memperkuat koordinasi antar-instansi dalam pengelolaan sumber daya air, sekaligus menjadi penghubung antara ilmu pengetahuan dan kebijakan.
Komitmennya terhadap pendidikan lingkungan tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa, tetapi juga kepada masyarakat umum dan pemerintah daerah. Pada tahun 2015, ia bekerja sama dengan PT Pertamina EP dalam proyek edukasi konservasi di Sangasanga. Ia membimbing warga untuk mengenali peran penting air dan cara-cara sederhana menjaganya.

Pada 2023, Mislan turut terlibat dalam upaya restorasi Sungai Karang Mumus. Sungai yang selama bertahun-tahun tercemar akibat limbah ini, mulai dipulihkan melalui pendekatan kolaboratif yang ia rancang. Ia tidak hanya berbicara kepada warga, tetapi juga mengajak mereka terlibat dalam aksi nyata.
Tak tanggung-tanggung, dalam tiga tahun terakhir saja, ia telah menulis 15 buku ilmiah. Di antaranya Identifikasi Perubahan Iklim dan Neraca Air di DAS Mahakam serta Pengelolaan Lahan Basah-Mesangat Suwi. Buku-buku tersebut kini menjadi referensi penting di kalangan akademisi, peneliti, dan praktisi lingkungan.
Karya tulisnya menggambarkan kemampuannya menyederhanakan isu-isu kompleks menjadi bahan renungan yang mudah dicerna masyarakat. Ini menjadikannya sosok langka: seorang ilmuwan yang mampu berbicara dengan bahasa rakyat.
Keaktifannya dalam organisasi profesi juga mencerminkan dedikasi totalnya. Ia adalah Profesional Madya Sumber Daya Air di HATHI sejak 2009 dan aktif di Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI). Selain itu, ia menjabat Ketua Forum DAS Kalimantan Timur, dan aktif sebagai fasilitator pengelolaan Danau Kaskade Mahakam termasuk anggota Tim Penetapan Sempadan Sungai, serta berperan penting dalam menyusun strategi pengelolaan sumber daya air tingkat provinsi.
Tidak hanya itu gagasannya untuk mengembangkan potensi DKM untuk obyek wisata kini terwujud. Dengan melakukan pembinaan para kader potensial di desa, telah terbentuk Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) di Desa Pela Kecamatan Kotabangun Kabupaten Kutai Kartanegara, yang diketuai oleh salah seorang warga desa setempat bernama Alimin Azebaijan.
Di usianya yang ke 47,dengan bangganya Alimin memperlihatkan piagam penghargaan dari Menteri Pariwisata periode 2019-2024 Sandiaga Uno.
“Tanpa dibina dan dibimbing Pak Mislan saya tidak akan berhasil seperti sekarang” kata Alimin. Pokdarwis yang diketuainya kini telah memiliki 30 anggota termasuk 16 anggota aktif. Alimin merelakan sebagian rumah tinggalnya dijadikan homestay/ penginapan bagi wisatawan yang berkunjung ke desanya. Kini rata-rata 50 wisatawan per hari telah datang Desa Pela.
Bahkan untuk mengapresiasi prestasinya Kepala Desa Pela telah mengangkat ke 16 anggota aktif Pokdarwis menjadi pegawai perangkat desa. Program lainnya untuk menggalakkan wisata setiap tahun diselenggarakan Festival Danau yang dipusatkan di desa-desa di kawasan DKM.

























