JAKARTA, LINTAS — Tiga sungai besar di Kota Palu, Sulawesi Tengah, sedang dikebut penanganannya. Hal itu guna memperkuat perlindungan terhadap risiko banjir dan tsunami. Proyek yang digarap Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini telah mencapai progres 81,14 persen dan ditargetkan rampung pada 2025.
Dikutip dari rilis pers, Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan komitmen pemerintah memperkuat ketahanan wilayah lewat pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang terintegrasi dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Penanganan sungai dilakukan pada Sungai Palu, Sungai Kawatuna, dan Sungai Ngia. Ketiganya dianggap krusial setelah bencana gempa bumi dan tsunami 2018 menyebabkan kerusakan besar. Termasuk tumpukan sedimen di hilir Sungai Palu serta saluran air di bawah landasan pacu bandara.
“Penanganan tiga sungai ini sangat penting. Jika tidak dilakukan, banjir bandang seperti tahun 2019 bisa terulang,” ujar Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Dedi Yudha Lesmana, Sabtu (28/6/2025).



Pengaman Tebing
Di Sungai Palu, pemerintah membangun tanggul sungai dan pantai di kedua sisi sungai serta pengerukan sedimen sepanjang 800 meter. Tanggul sungai dibangun 376 meter di sisi kiri dan 368 meter di sisi kanan. Sementara tanggul pantai sepanjang 457 meter di sisi kiri dan 385 meter di sisi kanan.
Untuk Sungai Kawatuna, dilakukan pembangunan dua unit dam konsolidasi setinggi 6 meter, enam unit groundsill, serta pengaman tebing sungai (revetment) untuk menahan erosi. Di Sungai Ngia, dibangun tiga unit dam konsolidasi dan beberapa groundsill guna memperlambat arus air.
Luas wilayah yang akan terlindungi dari banjir dan tsunami diperkirakan mencapai 133,7 hektar. Proyek ini dimulai sejak Agustus 2022 dan dikerjakan secara bertahap.
“Ini bagian dari upaya kami menjaga keselamatan warga dan memastikan keberlanjutan infrastruktur penting seperti bandara dan irigasi,” tutur Dedi.
Dengan penanganan menyeluruh, pemerintah berharap Kota Palu makin tangguh menghadapi bencana hidrometeorologi di masa depan.
Seperti diberitakan, pada 28 September 2018, Palu dan sekitarnya diguncang gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,4. Gempa diikuti tsunami dan likuefaksi.
Peristiwa ini mengakibatkan 4.340 orang meninggal. Sebagian besar akibat dari tsunami dan likuefaksi yang melanda daerah Petobo, Balaroa, dan Jono Oge. (HRZ)
Baca Juga: Pascagempa, Pemerintah dan Warga Bangun Palu Bahu-membahu





