JAKARTA, LINTAS — Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut memberikan pembekalan keselamatan kepada awak kapal dalam kegiatan Workshop Safety Training yang diselenggarakan PT PELNI di atas KM Bukit Raya pada pelayaran rute Jakarta–Kijang, 16–18 September 2026.
Mengusung tema “Kesiapan Awak Kapal dalam Menghadapi Situasi Darurat”, kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kompetensi awak kapal sekaligus membangun budaya keselamatan dalam pelayanan angkutan laut.
Kegiatan tersebut dihadiri Komisaris Independen PT PELNI Sosialisman Hidayat Hasibuan, Direktur SDM dan Umum PT PELNI Heri Purnomo, serta Kepala DPA QHSSE Capt. Aldrin Dalimunte.
Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Samsuddin, mengatakan keselamatan pelayaran merupakan satu sistem yang saling berkaitan. Kapal yang laik harus didukung awak yang kompeten, peralatan yang andal, prosedur yang jelas, serta dukungan manajemen.
“Karena itu, setiap pihak harus memahami tanggung jawabnya dan menjaga koordinasi. Melalui Safety Training ini kita menguji kemampuan seluruh unsur untuk bekerja bersama,” ujar Samsuddin dikutip Senin (21/9/2026).
Pelatihan difokuskan pada pemahaman tugas dan tanggung jawab awak kapal saat menghadapi keadaan darurat, termasuk koordinasi antara nakhoda, perwira, dan seluruh awak. Kesiapan tersebut diperlukan agar tindakan penyelamatan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi dengan tetap mengutamakan keselamatan penumpang.
“Karena itu, setiap pihak harus memahami tanggung jawabnya dan menjaga koordinasi. Melalui Safety Training ini kita menguji kemampuan seluruh unsur untuk bekerja bersama,” ujar Samsuddin dikutip Senin (21/9/2026).
Baca Juga: Transjakarta Ubah Operasional 9 Rute Imbas Rekayasa Lalu Lintas di Monas, Cek di Sini
Menurut dia, ketersediaan peralatan dan prosedur keselamatan harus diikuti kemampuan awak kapal dalam menggunakannya secara benar. Setiap awak harus mengetahui lokasi penugasan, jalur komunikasi, serta tindakan yang menjadi tanggung jawabnya sesuai daftar tugas keadaan darurat atau muster list.

Kesiapan Awak dan Perlindungan Penumpang
Pada kapal penumpang, kesiapan menghadapi keadaan darurat tidak hanya berkaitan dengan penanganan sumber bahaya, tetapi juga kemampuan awak memberikan instruksi yang jelas dan mengarahkan penumpang ke lokasi aman.
Perhatian khusus juga diperlukan bagi penumpang yang membutuhkan bantuan, seperti anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, dan penumpang dengan keterbatasan mobilitas.
“Dalam keadaan darurat, setiap awak harus mengetahui apa yang harus dilakukan, kepada siapa melapor, dan bagaimana membantu penumpang. Karena itu, latihan harus menjadi sarana untuk menguji kesiapan nyata, menemukan kekurangan, dan memastikan perbaikannya ditindaklanjuti,” kata Samsuddin.
Ia menambahkan, kesiapan awak kapal perlu dijaga secara berkelanjutan melalui keterlibatan manajemen perusahaan dan jajaran kapal. Evaluasi perlu dilakukan terhadap pemahaman prosedur, koordinasi personel, kesiapan peralatan, serta berbagai kendala yang ditemukan selama latihan.
Melalui kegiatan tersebut, Kementerian Perhubungan mendorong kerja sama antara regulator dan operator untuk menjaga budaya keselamatan pelayaran.
“Awak kapal Pelni diharapkan semakin siap menghadapi situasi darurat serta memberikan perlindungan dan pelayanan yang aman bagi seluruh penumpang,” pungkasnya. (CHI)
Baca Juga: Kawasan Wisata Mendale Aceh Tengah Ditata, 24 Kios Baru dan Fasilitas Publik Disiapkan












