Di tepi Sungai Citarum yang mengalir tenang, bangunan tua berarsitektur Eropa–Tionghoa itu berdiri kokoh meski usia sudah satu abad. Siang itu, Selasa (25/11/2025), suara gemericik air terdengar jelas dari sela-sela lima pintu air Bendung Walahar. Sementara itu, para petani tampak beraktivitas di persawahan yang membentang luas tak jauh dari lokasi bendung. Di sanalah denyut kehidupan Karawang—lumbung padi nasional—berpaut erat dengan sejarah panjang infrastruktur air peninggalan masa kolonial.
Di pelataran bendung, Direktur Utama Perum Jasa Tirta (PJT) II, Imam Santoso, berdiri menatap aliran air yang sejak tahun 1925 menjadi sumber penghidupan masyarakat. Dalam media gathering yang digelar sore itu, suaranya tegas saat menyampaikan harapan agar Karawang tetap bertahan sebagai pusat produksi pangan Indonesia. “Dan kita berharap ke depannya tidak ada alih fungsi lahan yang terjadi. Karena Karawang ini daerah lumbung padi nasional. Jadi, kita berharap bahwa 87.194 hektar itu tetap bertahan,” ujar Imam.
Nafas Seratus Tahun untuk Karawang
Bendung Walahar memasuki usia ke-100 tahun—sebuah capaian yang jarang diraih infrastruktur air mana pun di Indonesia. Bendung ini dibangun oleh Direktur Pekerjaan Umum Sipil asal Belanda, J. Blackstone, pada masa Bupati Karawang Raden Adipati Aria Suryamiharja (1925–1942). Pembangunannya berjalan paralel dengan kepemimpinan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Dirk Fock, pada awal 1920-an.
Dirancang untuk menaikkan muka air Sungai Citarum hingga delapan meter, bendung seluas hampir 50 meter itu memungkinkan aliran air mencapai wilayah Karawang bagian utara—wilayah yang kini menjadi pusat produksi padi nasional. Dari titik itu pula, air dialirkan ke arah timur dan barat melalui Induk Tarum Utara, jalur vital yang hingga kini menjadi nadi bagi ratusan ribu petani.
Arsitektur bendung turut mengisahkan perjalanan panjang teknologi air Indonesia. Banyak peralatan masih orisinil sejak dipasang seabad lalu, dipertahankan melalui perawatan para profesional PJT II yang menjaga agar fungsinya tetap optimal di tengah modernisasi.
Abadi di Tengah Perubahan

Mengutip Jurnal Universitas Indraprasta PGRI, Bendung Walahar memiliki struktur monumental: tinggi 150 meter dan lebar 200 meter, serta terbagi dalam tiga bagian utama.
Bagian pertama adalah dam besar dengan lima pintu air yang mengalirkan air Sungai Citarum ke sawah-sawah di Karawang. Pintu-pintu inilah yang memastikan 87.194 hektare lahan pertanian mendapatkan suplai air yang stabil sepanjang tahun.
Bagian kedua berupa jembatan kuno selebar tiga meter, membentang di atas tubuh bendung, menghubungkan Desa Klari dan Anggadita. Lengkungan pada langit-langitnya mempertahankan bentuk asli sejak masa pembangunan, menghadirkan atmosfer klasik yang langsung mencuri perhatian siapa pun yang melintas.
Bagian ketiga adalah ruangan-ruangan teknis, tempat pengawasan debit air dan mesin-mesin pengendali aliran. Dari ruangan inilah para operator memastikan air tetap mengalir sesuai kebutuhan petani.
Uniknya, bangunan ini memadukan gaya arsitektur Eropa dengan sentuhan Tionghoa. Atap susun ma tou qiang menghiasi lantai dua, sementara ornamen naga terpahat jelas di atas tembok—simbol keberlanjutan dan kekuatan dalam budaya Tionghoa.
Pertaruhan Masa Depan Lumbung Pangan
Meski telah seratus tahun menyalurkan air, Bendung Walahar kini menghadapi tantangan baru: alih fungsi lahan. Urbanisasi, perluasan kawasan industri, dan permintaan perumahan menjadi ancaman nyata bagi luas sawah produktif Karawang.
PJT II menegaskan bahwa keberlanjutan fungsi bendung sangat bergantung pada keberadaan lahan pertanian. Tanpa sawah, air yang dialirkan berpotensi tak lagi memiliki tujuan. Karena itu, seruan agar Karawang mempertahankan statusnya sebagai lumbung pangan nasional menjadi semakin mendesak.
Imam menekankan bahwa pemerintah, lembaga pengelola air, dan masyarakat harus bekerja bersama menjaga lahan pertanian tetap lestari. Selama bentang sawah itu bertahan, Bendung Walahar akan terus menjadi penjaga kehidupan bagi ribuan keluarga petani.
Warisan yang Harus Dijaga
Di tengah derasnya arus modernisasi, Bendung Walahar adalah simbol ketangguhan. Ia bukan hanya bangunan tua yang melintas zaman, tetapi penopang ketahanan pangan Indonesia. Seabad berlalu, air dari Sungai Citarum masih mengalir melalui struktur kuno itu—seperti aliran harapan yang terus diperbarui.
Di bawah cahaya senja Karawang, pantulan air dari pintu-pintu bendung mengingatkan bahwa masa depan pangan negeri ini ditentukan oleh keberanian menjaga warisan yang telah bertahan begitu lama. Dan selama Bendung Walahar berdiri, Karawang akan terus menjadi rumah bagi para petani yang menjaga dapur bangsa tetap berasap. (GIT)
Baca Juga: Seabad Mengalirkan Kehidupan! Bendung Walahar Jadi Penopang Pangan Nasional dari Karawang





