Home Berita Hutama Karya Garap Rehabilitasi Irigasi, Targetkan Perbaikan 76 Km Saluran untuk Swasembada Pangan

Hutama Karya Garap Rehabilitasi Irigasi, Targetkan Perbaikan 76 Km Saluran untuk Swasembada Pangan

Share

JAKARTA, LINTAS – Ketahanan pangan kembali menjadi perhatian serius pemerintah. Salah satu langkah strategis ditempuh melalui rehabilitasi jaringan irigasi di berbagai daerah, yang kini digarap PT Hutama Karya (Persero).

Perusahaan konstruksi milik negara itu mengantongi enam kontrak proyek perbaikan irigasi di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi dengan target rampung akhir 2025.

Total panjang saluran yang akan diperbaiki mencapai 76 kilometer, meliputi saluran primer hingga tersier, serta perbaikan pintu air. Proyek ini akan melayani area pertanian seluas lebih dari 10.700 hektare, sehingga diproyeksikan mampu mendongkrak produktivitas lahan dan intensitas tanam petani.

“Rehabilitasi jaringan irigasi bukan sekadar memperbaiki infrastruktur, tetapi investasi jangka panjang untuk kemandirian pangan Indonesia,” ujar EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim, di Jakarta, Kamis (5/9/2025).

Paket rehabilitasi yang dikerjakan Hutama Karya meliputi:

  • Rehabilitasi Jaringan Irigasi BBWS Bengawan Solo Paket 1 dan 2,
  • Rehabilitasi Jaringan Irigasi BWS Sumatera III Paket 1 dan 2,
  • Rehabilitasi Jaringan Irigasi BWS Sulawesi I,
  • Rehabilitasi Jaringan Irigasi BBWS Cimanuk Cisanggarung.

Pengerjaan dimulai pada 3 September 2025 dan didanai melalui APBN 2025. Proyek ini juga menjadi bagian dari Program Optimasi Lahan (OPLAH) yang mendukung visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada poin swasembada pangan.

Serap Tenaga Kerja Lokal

Tak hanya soal infrastruktur, Hutama Karya menargetkan 80 persen tenaga kerja berasal dari masyarakat setempat. Strategi ini diharapkan memberi nilai tambah ekonomi bagi desa-desa sekitar lokasi proyek.

Perusahaan juga berkomitmen menggunakan teknologi konstruksi modern serta menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) agar pekerjaan selesai tepat waktu tanpa mengganggu aktivitas pertanian.

“Koordinasi dengan petani dan pemerintah desa menjadi kunci. Metode kerja harus adaptif agar proses rehabilitasi tetap berjalan, sementara petani bisa melanjutkan aktivitas mereka,” kata Adjib.

Pilar Ketahanan Pangan

Rehabilitasi irigasi ini memperlihatkan bahwa upaya menciptakan swasembada pangan tidak bisa dilepaskan dari infrastruktur dasar. Air yang terdistribusi dengan efisien akan membuka peluang peningkatan hasil panen, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Baca Juga: PU Kebut Perbaikan Fasilitas Umum Rusak

“Dengan jaringan irigasi yang lebih andal, produktivitas meningkat dan kesejahteraan petani ikut terangkat,” tegas Adjib. (GIT)

Share