JAKARTA, LINTAS — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperbaiki sistem pompa Bendung Sungai Bawah Tanah (BSBT) Bribin II di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk mendukung ketersediaan air irigasi dan mengurangi dampak kekeringan.
Infrastruktur yang tidak beroperasi sejak 2017 akibat terdampak Badai Cempaka tersebut ditargetkan kembali siap digunakan pada 30 November 2026. Perbaikan dilaksanakan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak sejak 1 September 2026.
Saat ini, pekerjaan telah memasuki tahap pengujian untuk memastikan kondisi pompa dan jaringan pendukung sebelum sistem dioperasikan kembali.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, optimalisasi infrastruktur sumber daya air (SDA) menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian, terutama ketika menghadapi musim kemarau dan kekeringan.
“Kita harus menjaga agar produktivitas petani tidak turun meskipun dalam kondisi kekeringan,” kata Dody dikutip Kamis (5/11/2026).
Baca Juga: Helikopter Water Bombing Jatuh di Kalteng, Tiga Orang Meninggal Dunia
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BBWS Serayu Opak Parlinggoman Simanungkalit menjelaskan, salah satu tahapan penting dalam perbaikan Bribin II adalah pumping test yang telah dilaksanakan pada 28 September 2026.

Pengujian tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi pompa sekaligus mengevaluasi kesiapan jaringan setelah hampir sembilan tahun tidak beroperasi.
“Hasil pengujian menjadi bagian dari dasar evaluasi teknis untuk memastikan sistem Bribin II dapat berfungsi secara aman dan optimal,” ujar Parlinggoman.
Manfaatkan Potensi Air
Menurut dia, rehabilitasi Bribin II dilakukan secara bertahap mengingat sistem tersebut sudah lama tidak digunakan. Pekerjaan tidak hanya mencakup pengujian pompa, tetapi juga pemeriksaan dan perbaikan jaringan pendukung, termasuk pipa yang berada di bawah permukaan tanah.
Bribin II merupakan bagian dari sistem pemanfaatan air bawah tanah di kawasan karst Gunungkidul. Sistem ini memanfaatkan potensi air yang tersimpan di gua bawah tanah untuk dipompa ke permukaan dan selanjutnya dialirkan guna memenuhi kebutuhan air masyarakat.
“Bribin II merupakan bagian dari sistem pemanfaatan air bawah tanah di kawasan karst Gunungkidul. Infrastruktur tersebut memanfaatkan potensi air yang berada di gua bawah tanah untuk kemudian dipompa dan dialirkan ke permukaan sebagai bagian dari penyediaan air bagi masyarakat,” tambah Parlinggoman.


Kondisi geografis Gunungkidul yang didominasi kawasan karst menyebabkan sejumlah wilayah memiliki keterbatasan sumber air permukaan. Karena itu, pemanfaatan sumber air bawah tanah menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat ketahanan air, termasuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian.
Perbaikan Bribin II merupakan bagian dari optimalisasi, operasi, pemeliharaan, dan rehabilitasi infrastruktur SDA yang dilakukan Kementerian PU. Upaya tersebut bertujuan mengembalikan fungsi infrastruktur yang telah tersedia agar dapat memberikan manfaat secara maksimal. (CHI)
Baca Juga: Kementerian PU Siapkan 4 Sabo Dam untuk Cegah Banjir Berulang di Pidie Jaya












