JAKARTA, LINTAS – PT MRT Jakarta memastikan seluruh desain dan infrastruktur stasiun telah dilengkapi sistem proteksi untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, khususnya potensi banjir. Langkah ini dilakukan melalui perencanaan teknis berbasis analisis hidrologi jangka panjang serta penerapan berbagai sistem pengendalian air di area stasiun.
Direktur Operasional dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta, Mega Tarigan, menjelaskan bahwa desain bangunan stasiun MRT Jakarta telah mempertimbangkan data banjir hingga 200 tahun ke belakang.
“Desain stasiun MRT Jakarta berbasis analisis banjir jangka panjang, menggunakan data hidrologi hingga 200 tahun. Ini menjadi dasar dalam menentukan elevasi, sistem drainase, hingga proteksi di area rawan genangan,” kata Mega dalam Forum Jurnalis MRT, Selasa (27/1/2026).
Penyesuaian Pintu Masuk Bawah Tanah
Mega memaparkan, salah satu upaya utama adalah penyesuaian elevasi pintu masuk stasiun bawah tanah. Entrance stasiun dirancang berada sekitar 1,5 meter di atas permukaan tanah untuk menghindari limpasan air saat hujan deras.
Selain itu, setiap stasiun dilengkapi sistem pompa air permanen, termasuk pompa submersible yang ditempatkan di area stasiun maupun pintu masuk. Sistem ini berfungsi untuk mengendalikan genangan air yang berpotensi masuk ke area operasional.
“Di beberapa stasiun yang memiliki risiko genangan lebih tinggi, seperti Stasiun Setiabudi Astra dan Istora Mandiri, kami juga menyiapkan pompa khusus di area entrance agar air tidak masuk ke dalam stasiun,” ujarnya.
Tak hanya itu, MRT Jakarta juga membangun saluran tali air, water trap, serta sistem drainase untuk mengalirkan limpasan air hujan dari jalan maupun gedung di sekitar stasiun menuju drainase kota. Pada area pedestrian dengan potensi genangan, disiapkan pula sumur resapan guna mengurangi limpasan air.
Memasang Sensor Ketinggian Air
Sebagai bagian dari sistem peringatan dini, MRT Jakarta memasang sensor ketinggian air di sungai-sungai sekitar stasiun, seperti Kali Krukut. Sensor ini terhubung langsung ke Operation Control Center (OCC) sehingga memungkinkan pemantauan kondisi air secara real time.
“Jika terjadi peningkatan muka air yang berpotensi berdampak ke operasional, kami bisa melakukan langkah mitigasi lebih cepat,” jelas Mega.
Sementara itu, Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menyebut tidak akan melakukan revitalisasi total stasiun MRT Fatmawati menyusul adanya tampias air hujan deras yang sempat terjadi.
“Revitalisasi total tidak. Tapi kalau terkait pelayanan, misalnya ada tampias hujan, apa yang bisa kita lakukan supaya tidak terjadi lagi, tentu akan kita lakukan. Itu sudah menjadi bagian dari pelayanan dan penganggaran kami,” kata Tuhiyat.
Ia menegaskan bahwa metode teknis akan disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran yang tersedia. “Bentuknya seperti apa, apakah kaca atau metode lain, itu akan kami sesuaikan. Yang jelas, upaya perbaikan tetap dilakukan sesuai perencanaan dan penganggaran,” tutur Tuhiyat. (CHI)
Baca Juga: Proyek Cincin Donat MRT Dukuh Atas Ditargetkan “Groundbreaking” Pertengahan 2026
























