JAKARTA, LINTAS — Pemerintah memprioritaskan pembangunan empat sabo dam permanen di Sungai Aek Tukka, Tapanuli Tengah, untuk menahan laju sedimen dan material banjir dari hulu. Proyek ini ditargetkan mulai tuntas pada 2026.
Langkah tersebut dipilih setelah tanggul darurat dinilai belum cukup aman menghadapi hujan ekstrem. Saat ini penanganan masih mengandalkan tanggul tanah dan sheet pile di kawasan padat penduduk.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, melalui keterangan tertulis, menegaskan, solusi permanen harus segera dibangun.
“Khusus di sini saya minta dipercepat pembangunan sabo dam-nya. Paling tidak tahun ini harus sudah ada yang selesai. Karena kalau terjadi hujan deras 4–5 jam, saya khawatir tanggul darurat ini tidak akan mampu menahan material dari hulu,” ujarnya saat meninjau lokasi, Kamis (26/2/2026).
Empat sabo dam yang disiapkan berada di Desa Bona Lumban, Hutan Nabolon, Sigala-gala, dan Tukka. Bentangnya antara 15 hingga 50 meter dengan tinggi 3 sampai 6 meter. Total kapasitas tampungan mencapai 205.000 meter kubik.
“Kalau air saja tidak ada masalah. Yang menjadi persoalan ketika air membawa batu, kayu, dan pasir dalam jumlah besar. Itu yang harus kita tahan di dam,” kata Dody.

Sebelumnya, Kementerian PU telah memulai soil investigation sebagai dasar desain konstruksi. Tahap ini penting untuk memastikan keamanan struktur.
Kepala BBWS Sumatera II Medan Feriyanto Pawenrusi menyebut pembangunan sabo dam bagian dari rencana pengendalian sungai terpadu di wilayah Tapanuli. Total kebutuhan di kawasan ini mencapai 30 sabo dam dan 6 sand pocket.
Namun, fokus utama diarahkan ke Aek Tukka. Pemerintah menargetkan proyek prioritas rampung pada 2026 agar warga di bantaran sungai terlindungi dari banjir material.
Dengan percepatan ini, penanganan tidak lagi bersifat sementara. Pemerintah ingin membangun sistem pengendalian sedimen yang lebih kuat dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda Astacita dalam memperkuat ketahanan infrastruktur dan perlindungan masyarakat. (HRZ)
































