Home Berita Dampak Jembatan Oyo Putus, Warga 97 Desa di Nias Barat Tempuh Jalan Alternatif

Dampak Jembatan Oyo Putus, Warga 97 Desa di Nias Barat Tempuh Jalan Alternatif

Share

JAKARTA, LINTAS — Warga di 97 desa di 7 kecamatan di Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, terdampak robohnya Jembatan Oyo, terpaksa harus memutar lebih jauh melalui jalan alternatif sehingga aktivitas ekonomi bisa tetap berjalan.

Hal ini disampaikan Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu, dalam keterangannya kepada majalahlintas.com, Kamis (6/3/2025).

“Pemerintah Kabupaten Nias Barat telah melakukan koordinasi intensif dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), Dinas Perhubungan, Kasat Lantas Polres Nias, serta instansi terkait lainnya untuk langkah-langkah tanggap darurat dan pemulihan akses,” kata Eliyunus.

Menurut Eliyunus, pascarobohnya Jembatan Oyo di Desa Huruna, Kecamatan Mandrehe, Rabu (5/3/2025), BPBD telah bergerak cepat dalam penanganan darurat, pemantauan kondisi wilayah terdampak, serta distribusi bantuan bagi masyarakat.

“Dinas Perhubungan sedang menyiapkan rencana pengalihan arus transportasi dan rekayasa lalu lintas guna meminimalkan dampak terganggunya akses,” ujarnya.

Baca Juga: Jembatan Oyo di Nias Barat Roboh Diterjang Banjir, Gebrakan Cepat Gubernur Sumut Bobby Nasution Ditunggu

Kasat Lantas Polres Nias telah menerjunkan personel untuk mengatur lalu lintas dan membantu masyarakat mencari jalur alternatif yang lebih aman.

Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu memberikan keterangan kepada media saat meninjau Jembatan Oyo, Rabu (5/3/2025). | Dok. Pribadi Bupati Nias Barat

“Kami juga terus berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk mempercepat perbaikan dan pembangunan jembatan darurat,” ujar Eliyunus.

Dirikan Tenda dan Siapkan Perahu

Sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten Nias Barat telah mendirikan tenda tanggap darurat di sekitar lokasi jembatan yang putus untuk membantu masyarakat yang terdampak. Selain itu, Pemkab Nias Barat juga telah menyediakan perahu fiber untuk membantu warga menyeberangi sungai sementara waktu.

Eliyunus berharap, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara segera memulai pembangunan Jembatan Oyo. “Saat ini, kami masih menunggu tindak lanjut teknis dan alokasi anggaran dari provinsi. Namun, dari pihak Pemkab Nias Barat sendiri, kami terus mencari solusi agar akses masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.

Hingga saat ini, kendaraan roda dua dan roda empat dari Gunungsitoli menuju Nias Barat harus melalui jalur alternatif. Dari Gunungsitoli melalui Kecamatan Moi-Simpang Tiga Hilimbuasi-Desa Duria-Desa Soliga, Kecamatan Huruna-Simpang Beskem (Belok Kanan)-Desa Maluo, Kecamatan Hilisalawa Ahe-Desa Sisobaoho, Lahomi-Simpang Tiga Bawadasi-Onolimbu (Kabupaten Nias Barat).

“Kami menyadari bahwa jalur ini lebih jauh. Namun, ini adalah satu-satunya alternatif yang bisa dilalui untuk sementara waktu hingga jembatan darurat dibangun,” kata Eliyunus.

Putusnya Jembatan Oyo berdampak luas, terutama bagi masyarakat di Kabupaten Nias Barat, Nias Utara, dan Nias. Dampak paling besar dirasakan oleh warga yang bergantung pada akses ini untuk kebutuhan ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Secara spesifik, sebanyak 97 desa di 7 kecamatan di Kabupaten Nias Barat terdampak langsung akibat terputusnya akses ini. Beberapa kecamatan yang terdampak, antara lain Kecamatan Mandrehe, Kecamatan Mandrehe Barat, Kecamatan Mandrehe Utara, Kecamatan Ulu Moro’ö, Kecamatan Moro’ö, Kecamatan Sirombu, Kecamatan Lahömi,

“Selain itu, akses menuju Bandara Binaka dan Pelabuhan Gunungsitoli juga ikut terganggu, menghambat distribusi barang dan mobilitas masyarakat,” katanya.

Berdasarkan analisis awal, kata Eliyunus, dampak ekonomi akibat putusnya Jembatan Oyo sangat signifikan, terutama bagi sektor perdagangan, pertanian, dan transportasi.

“Meski angka pastinya masih dalam pendataan, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai miliaran rupiah mengingat jembatan ini merupakan jalur utama yang menopang aktivitas ekonomi di wilayah Kepulauan Nias. Kami terus berupaya mencari solusi terbaik agar akses masyarakat dapat segera kembali normal. Kami juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kondisi cuaca ekstrem yang masih berlangsung,” pungkasnya. (HRZ)

Oleh:

Share