JAKARTA, LINTAS – Pengelolaan keselamatan kerja di kawasan pelabuhan menjadi perhatian serius seiring tingginya risiko dalam aktivitas bongkar muat. PT Pelabuhan Tanjung Priok menegaskan komitmennya memperkuat mitigasi keselamatan untuk berbagai jenis kargo, mulai dari kargo berat hingga kargo curah cair.
Asisten Senior Manajer HSSE PT Pelabuhan Tanjung Priok, Arif Aksi, menjelaskan bahwa setiap jenis kargo memiliki karakteristik risiko yang berbeda sehingga membutuhkan strategi pengamanan khusus.
“Ketika bicara bisnis pelabuhan, prosesnya sangat beragam. Ada kargo berat, cair, dan padat, yang masing-masing punya risiko berbeda. Karena itu mitigasinya juga tidak bisa disamaratakan,” ujar Arif kepada Lintas, Rabu (29/4/2026).
Risiko Kargo Berat hingga Kargo Cair
Menurutnya, aktivitas kargo berat memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan pekerja di lapangan, terutama terkait pergerakan alat berat dan kendaraan operasional di area dermaga.
“Risiko terbesar kargo berat adalah pergerakan alat dan kendaraan. Area kerja harus benar-benar diamankan agar pekerja tidak berada di titik berbahaya seperti belakang truk atau pinggir dermaga,” jelasnya.
Sementara pada kargo curah cair, potensi bahaya lebih banyak berkaitan dengan pencemaran lingkungan akibat tumpahan muatan.


“Kalau kargo cair tumpah ke perairan, dampaknya bisa luas. Ikan mati, nelayan terdampak, bahkan bisa memicu protes masyarakat. Karena itu sebelum bongkar muat, kami pasang oil boom sebagai penghalang agar tumpahan tidak menyebar,” kata Arif.
Ia menegaskan, tidak ada jenis kargo yang bisa dianggap lebih mudah atau lebih sulit. “Semuanya punya tantangan sendiri. Kargo berat berisiko pada pergerakan alat, sedangkan kargo cair dan berdebu punya tantangan berbeda.”
Cuaca Panas dan Risiko Kesehatan Pekerja
Selain risiko operasional, faktor kesehatan pekerja juga menjadi perhatian, terutama saat cuaca panas ekstrem.
“Paparan panas bisa menyebabkan dehidrasi dan menurunkan konsentrasi pekerja. Ini berbahaya, apalagi jika sedang mengoperasikan alat berat. Situasinya mirip seperti mengemudi saat mengantuk,” kata Arif.
Untuk mencegah risiko tersebut, perusahaan menjalankan program fit to work atau pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja.
“Kami melakukan pengecekan tekanan darah, kondisi fisik, asam urat, kolesterol, gula darah, hingga tes narkoba. Tujuannya memastikan pekerja benar-benar siap sebelum bekerja,” tutur Arif.
Patroli Digital dengan Geofencing
Upaya pengawasan juga diperkuat melalui pemanfaatan teknologi. Pelabuhan kini menggunakan aplikasi Dashboard ICC untuk memantau patroli keamanan.
“Petugas keamanan melakukan patroli tiap jam dengan sistem geofencing. Mereka harus mengambil foto di titik yang sudah ditentukan agar laporan tidak bisa dimanipulasi,” jelasnya.
Di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, sekitar 60 petugas keamanan menggunakan aplikasi tersebut untuk mendukung patroli keselamatan dan pelaporan kondisi lapangan secara real-time.
Tantangan Pengawasan Tenaga Kerja Bongkar Muat
Meski demikian, pengawasan tenaga kerja bongkar muat (TKBM) masih menjadi tantangan tersendiri karena berada di bawah pembinaan pihak lain.
“Secara aturan, tanggung jawab kesehatan pekerja di luar karyawan tetap berada pada vendor atau kontraktor. Namun kami tetap mendorong minimal pemeriksaan dasar seperti tekanan darah dan suhu tubuh sebelum bekerja,” ujarnya.
Ia menegaskan, keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas pelabuhan. “Yang paling penting, semua pihak yang masuk area kerja harus memastikan kondisi sehat dan mengikuti prosedur keselamatan,” pungkas Arif. (CHI)
Baca Juga: Tanjung Priok Jadi Motor Pertumbuhan PTP Nonpetikemas Awal 2026

























