Penataan kawasan kumuh melalui program bedah rumah di Menteng Tenggulun, Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta, tak sekadar mengubah rumah warga menjadi lebih layak huni. Program ini juga menjadi bagian dari upaya membenahi lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Tak berhenti pada perbaikan hunian, penataan kawasan tersebut turut menyentuh aspek ekonomi warga melalui pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pembinaan UMKM diharapkan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan penghasilan.
Sebanyak 152 rumah tidak layak huni di kawasan tersebut mendapatkan penanganan pada periode 1 April hingga 15 Juli 2026. Program ini turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Astra sebanyak 100 unit, serta Boy Thohir dan Lawrence Barki masing-masing 25 unit serta dukungan Ibu Shinta Triastuti Sirait istri dari Menteri PKP untuk penataan boulevard.
Selain itu juga dukungan dan kolaborasi lainnya yaitu dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta yang membantu mendesaikan 50 rumah, PT PNM mendukung dalam pengelolaan sampah, Pemprov DKI Jakarta melakukan pembinaan UMKM dan pembersihan kali sekitar kawasan dan TNI Angkatan Laut membantu pengawasan dan keamanan pelaksanaan kegiatan.
Ketua RW 01 Kelurahan Menteng, Isnaeni, mengatakan program bedah rumah bermula dari pendataan kondisihunian warga yang dilakukan Kementerian Perumahandan Kawasan Permukiman (PKP) bersama pemerintah kelurahan.
“Awalnya orang dari Kementerian datang bersama Pak Lurah Menteng menemui saya. Mereka ingin berkeliling RW 01 untuk melihat rumah-rumah warga dan bagaimana kondisi masyarakatnya. Dari situ kemudianada keinginan untuk memperbaiki atau membedah rumah warga yang memang dinilai tidak layak,” ujar Isnaini saat diwawancarai khusus Lintas di Menteng Tanggulun, Jakarta, Jumat (18/9/2026).



Cakupan Program
Menurut Isnaeni, pada tahap awal hanya terdapat duarumah yang menjadi perhatian untuk mendapatkan penanganan. Namun setelah dilakukan peninjauan terhadap kondisi lingkungan, cakupan program berkembang kepada rumah-rumah warga lainnya yang dinilai membutuhkan perbaikan.
“Awalnya saya pikir dari pihak PKP hanya melakukan bedah rumah untuk dua rumah. Alhamdulillah kenyataannya bertambah dan meluas ke rumah-rumahwarga lain yang memang belum pantas dan layak untukditempati,” katanya.
Kondisi permukiman Menteng Tenggulun yang padat membuat kebutuhan terhadap peningkatan kualitas hunian cukup besar. RW 01 sendiri terdiri atas 16 RT dengan jumlah warga yang berbeda-beda di setiap wilayah.
Isnaeni berharap program bedah rumah tidak berhentipada pelaksanaan tahun ini. Menurut dia, masih terdapat warga yang membutuhkan penanganan serupa.
“Harapan kami, program terkait bedah rumah atau renovasi ini bukan yang pertama dan terakhir, tetapi berkelanjutan. Karena kemarin baru beberapa persen dari warga kami yang tersentuh. Masih banyak warga yang memang membutuhkan bantuan,” tuturnya.
Tantangan Teknis di Permukiman Padat
Pelaksanaan bedah rumah di Menteng Tenggulun juga menghadapi tantangan teknis karena posisi bangunan yang saling berdekatan. Kondisi tersebut membuat proses pembongkaran dan pembangunan harus dilakukan secara hati-hati.
Khanif Asror, selaku kontraktor pelaksana program bedah rumah, mengatakan setiap rumah memiliki kondisi berbeda sehingga metode penanganannya tidak dapat disamaratakan.
“Di sini memang padat, rumah berdempetan. Kalau bongkar kanan-kiri harus hati-hati. Yang tadinya tidak bocor, jangan sampai setelah kita kerjakan justru menjadi bocor,” ujar Khanif.
Ia menjelaskan, sejumlah rumah yang pada awalnya direncanakan hanya mendapatkan renovasi ternyata memiliki persoalan struktur setelah dilakukan pembongkaran. Kondisi tersebut membuat pekerjaan harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan di lapangan.
“Yang tadinya hanya bongkar atap, kemudian bikin dapur atau fasad, setelah bagian atas dibongkar ternyata struktur di bawahnya sudah tidak kuat. Tulang-tulang atau penyangganya sudah tidak bisa dipakai, sehingga akhirnya dibongkar total,” jelasnya.
Hati-hati
Menurut Khanif, terdapat rumah yang cukup ditangani melalui renovasi pada bagian tertentu, seperti atap, lantai, kamar mandi atau dapur. Namun, untuk bangunan dengan kondisi struktur yang sudah tidak memungkinkan dipertahankan, pekerjaan dilakukan secara menyeluruh.
“Kalau yang renovasi memang di RAB-nya sudah tercantum, seperti perbaikan atap, kamar mandi, lantai dan bagian lainnya. Tetapi ada beberapa rumah yang akhirnya kena bongkar total karena setelah dibuka kondisinya memang sudah tidak kuat,” katanya.
Penataan tidak hanya menyentuh bangunan rumah. Pembenahan lingkungan juga menjadi bagian dari program, mulai dari jalan lingkungan, drainase, sanitasi, fasilitas ibadah hingga pembangunan boulevard yang dilengkapi ruang terbuka hijau, area komunal dan taman bermain.
Khanif mengatakan kebutuhan sanitasi juga diperhatikan dalam penanganan rumah. Fasilitas seperti kamar mandi, dapur, saluran pembuangan dan septic tank disesuaikan dengan kondisi rumah serta lingkungan sekitar.
“Saluran sudah ada masing-masing. Untuk septic tank ada yang existing dan ada juga yang kita buat baru,” ujarnya.
Penataan tersebut menjadi penting mengingat kawasan Menteng Tenggulun memiliki tingkat kepadatan bangunan yang tinggi. Perbaikan rumah sekaligus lingkungan diharapkan dapat meningkatkan kualitas hunian dan kesehatan masyarakat.
Pembinaan UMKM
Selain peningkatan kualitas hunian, program penataan Menteng Tenggulun juga diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sebanyak 35 pelaku UMKM mendapatkan pembinaan melalui Ladies Bankers dari sejumlah perbankan.
Pembinaan tersebut melibatkan antara lain Artha Graha, CIMB Niaga, BNI, Hi Bank, Nobu Bank, BTN, BRI, Bank Jago dan BCA.
Isnaeni menilai pendekatan tersebut memberikan manfaat lebih luas karena warga tidak hanya mendapatkan rumah yang lebih layak, tetapi juga memperoleh pendampingan untuk mengembangkan usaha.
“Alhamdulillah, bukan cuma bedah rumah warga. Ada juga beberapa UMKM yang dibina oleh pihak pemerintah PKP. Selain rumahnya dibedah, masyarakat yang punya usaha juga dibina dan diberi pelatihan,” katanya.
“Jadi diharapkan bukan hanya rumahnya menjadi lebih sehat, tetapi ekonominya juga sehat,” lanjut Isnaeni.
Warga Rasakan Perubahan
Manfaat program dirasakan langsung oleh wargapenerima bantuan. Bu Ratna (64), warga yang telah tinggal di Menteng Tenggulun sejak 2000, mengaku bersyukur rumahnya mendapatkan perbaikan.
Sebelumnya, rumah Ratna kerap mengalami kebocoran dan berbagai kerusakan. Setelah diperbaiki, kondisi hunian menjadi lebih layak dan nyaman.
“Saya sangat bersyukur rumah kami dapat diperbaiki. Selama ini rumah kami sering bocor dan banyak kerusakan lainnya. Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah, khususnya Kementerian PKP, yang memperhatikan kami dan memberikan rumah yang layak huni,” ungkap Ratna.
Selain perbaikan rumah, Ratna juga mengikuti pemberdayaan UMKM yang diberikan kepada warga. Menurutnya, pembinaan tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha.
“Kami juga dibekali pemberdayaan UMKM, jadi bisa mengembangkan usaha jualan nasi uduk,” katanya.(PAH/ROY)












