Suasana haru terasa di Stasiun Jakarta Kota pada Selasa (11/11/2025) siang. Denting bel peron dan suara pengeras yang biasanya jadi penanda keberangkatan kali ini terdengar berbeda—lebih pelan, seolah ikut menahan perpisahan.
Di antara sorak dan lambaian tangan para penumpang, tiga rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) legendaris: Seri 7000, Seri 8500, dan Seri 203, resmi menjalani perjalanan terakhirnya (Last Run).
Selama lebih dari satu dekade, ketiganya menjadi saksi dari hiruk-pikuk perjalanan jutaan komuter di Jabodetabek. Kini, setelah puluhan ribu kilometer ditempuh dan tak terhitung banyaknya pagi yang mereka sambut, KAI Commuter mengucap selamat tinggal dengan tema penuh makna: “Arigato KRL.”
Perpisahan untuk yang Pernah Jadi Tulang Punggung
Bagi sebagian besar warga Jabodetabek, kereta-kereta ini bukan sekadar moda transportasi. Mereka adalah teman perjalanan—yang setia mengantarkan pelajar, pekerja, dan pedagang menuju tujuan mereka setiap hari.
Direktur Utama KAI Commuter Asdo Artriviyanto menyebut, ketiga seri KRL ini telah menjadi bagian penting dari perjalanan panjang modernisasi transportasi publik di Indonesia.
“KRL Seri 8500, Seri 7000, dan Seri 203 adalah saksi bisu dari transformasi transportasi Jabodetabek. Mereka menjadi penopang utama mobilitas masyarakat dan membuka jalan bagi generasi baru kereta yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” ujar Asdo dikutip Rabu (12/11/2025).

KRL Seri 8500, atau yang akrab dijuluki “JALITA” (Jalan-Jalan Lintas Jakarta), menjadi yang paling banyak beroperasi dengan total 400 unit. Sedangkan Seri 203, sebanyak 170 unit, telah lebih dulu berhenti beroperasi sejak September 2025.
Adapun Seri 7000 dari Tokyo Metro, yang datang ke Indonesia pada 2010 dengan 40 unit, kini resmi pensiun setelah 15 tahun setia melintasi rel Jabodetabek.
Ruang Kenangan di Atas Rel
Sebagai bentuk penghormatan, KAI Commuter menghadirkan Mini Museum JALITA, yang uniknya menggunakan rangkaian asli KRL Seri 8500. Di dalamnya, pengunjung bisa menelusuri sejarah panjang perjalanan KRL di Jabodetabek, dari masa awal hingga era modern.
“Mini Museum JALITA tidak hanya menghadirkan sejarah pengoperasian ketiga seri ini, tapi juga menjadi sarana edukasi tentang keselamatan di perlintasan dan pencegahan pelecehan seksual,” jelas Asdo.
Selain deretan foto dan panel informasi, museum mini ini juga menampilkan miniatur KRL dari masa ke masa, lengkap dengan detail yang memanjakan penggemar kereta. Ada pula Farewell Board, tempat para pengunjung bisa menuliskan pesan dan kenangan mereka untuk KRL yang pernah mengantarkan mereka pulang dan pergi selama bertahun-tahun.
Meski bernuansa nostalgia, KAI Commuter memastikan bahwa langkah ini juga menjadi bagian dari transformasi. Menurut VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, purnatugas tiga seri KRL ini adalah bagian dari program peremajaan sarana demi meningkatkan keselamatan dan kenyamanan.
“Jumlah pengguna Commuter Line kini sudah melampaui satu juta orang per hari. Dengan permintaan yang terus meningkat, kami harus memastikan armada yang beroperasi tetap andal dan modern,” ujar Karina.
Ia menambahkan, armada baru dengan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan akan menggantikan generasi lama, sebagai bagian dari komitmen KAI Commuter untuk memberikan layanan publik yang prima.
Nostalgia yang Masih Bisa Dinikmati
Bagi mereka yang belum siap berpisah, Mini Museum JALITA masih bisa dikunjungi di Stasiun Jakarta Kota hingga Minggu, 16 November 2025. Museum ini dibuka gratis setiap hari pukul 09.00–18.00 WIB.

Di sela-sela pameran, banyak pengunjung yang datang hanya untuk sekadar berfoto, menulis pesan perpisahan, atau duduk diam di dalam gerbong JALITA—mendengarkan dentingan yang dulu menemani perjalanan mereka menuju kantor, sekolah, atau rumah.
“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang ketiga seri KRL ini—para masinis, teknisi, petugas stasiun, hingga pengguna setia Commuter Line,” tutur Asdo menutup pernyataannya.
Kini, setelah ribuan hari mengantar langkah masyarakat urban, KRL Seri 7000, 8500, dan 203 resmi beristirahat. Namun bagi banyak orang, suara pintu otomatis yang menutup pelan itu tidak akan pernah benar-benar hilang—ia akan terus bergema di ingatan setiap komuter yang pernah naik dan berkata, “Arigato, KRL.” (CHI)
Baca Juga: Pastikan Bus Layak Jalan, Kemenhub Lakukan Rampcheck di PO Sinar Jaya Jelang Nataru 2025/2026





