Tanjung Selor, Lintas – Membangun infrastruktur jaringan jalan di wilayah perbatasan sering kali menemui sejumlah keterbatasan material, sumber daya manusia, dan kondisi alam yang sulit. Tantangan ini membutuhkan gagasan yang cerdas untuk menghasilkan solusi yang tepat untuk segera diaplikasikan. Setelah dua tahun menjabat sebagai Kepala Balai Pelaksaan Jalan Nasional Provinsi Kalimantan Utara (BPJN Kaltara) Zamzami, ST, Msi, masih memiliki harapan untuk dapat mewujudkan jalan nasional yang saling berkesinambungan di wilayah perbatasan.
Selama bekerja dan menjabat di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Bina Marga, diakui Zamzami, tidak ada kendala berarti yang harus dihadapi. Namun, pada saat menangani beberapa paket yang memang harus dilaksanakan secara cepat, ketika ditunjuk sebagai Kepala BPJN Kaltara, ia merasakan hal yang berbeda. Terutama terkait penanganan pembangunan di kawasan perbatasan.
“Selain kondisi medan yang sulit dan terbatasnya material, terus terang saja ini sangat baru buat saya karena saya belum pernah menginjakkan kaki di provinsi termuda di Indonesia. Dan balai ini juga baru terbentuk dari pemekaran Balai Kalimantan Timur, akses yang serba terbatas, transportasi yang berganti-ganti untuk mencapai satu lokasi itu juga tantangan buat saya diawal bekerja, tetapi sekarang pergi ke proyek menggunakan speedboat seperti hobi buat saya,” tuturnya seraya tertawa.
Namun, meski kondisi lapangan yang sulit, ia tetap berharap untuk bisa terus mengembangkan akses jalan terutama di wilayah perbatasan Kaltara.
“Memang jalan perbatasan ini sulit sekali untuk direalisasikan dalam waktu singkat karena terlalu panjang, akan tetapi saya ingin sekali ada satu saja ruas yang bisa fungsional sehingga masyarakatnya bisa terlepas dari keterisolasian. Itu saja cita-cita saya sebelum masa kerja saya berakhir,” lanjutnya.
Adapun keterisolasian yang dimaksud adalah jalan akses perbatasan pada ruas Malinau-Semamu-Binuang-Long Bawan-Long Midang. Hingga saat ini, jalan tersebut sudah tembus, tetapi belum bisa fungsional karena masih terdapat tanjakan dengan kemiringan 30%.
Di samping membuka akses perbatasan, Zamzami, ST, MSi, juga berharap BPJN Kaltara dapat memiliki aset gedung kantor milik sendiri.
“Kami mendapatkan hibah tanah dari Kabupaten Bulungan untuk bakal kantor. Saat ini, sedang diupayakan bisa segera dibangun, tetapi untuk membangun gedung di sini juga cukup sulit harus ada izin sampai ke presiden. Harapannya, pada tahun 2023, pembangunan fisiknya bisa dimulai meskipun nantinya baru ada desain saja. Saya sudah cukup senang melihatnya, itu bisa menjadi salah satu legacy saya selama menjabat di sini,” tutur Zamzami.
Ia berpesan pada rekan-rekan di BPJN Kaltara, bahwa tidaklah rugi bekerja baik dan bekerja cerdas karena tuntutan tugas yang semakin sulit dengan segala keterbatasan, sementara diharapkan oleh masyarakat harus menyediakan infrastruktur yang layak dan baik.
Pada saat puncak pandemi Covid-19, kebutuhan material untuk pembangunan jalan sempat terkendala karena ditutupnya perbatasan Malaysia. Sejumlah material harus didatangkan dari daerah yang jauh sehingga menambah beban anggaran dan menghabiskan waktu lebih lama untuk sampai ke lokasi proyek.
“Harapannya, memang di daerah-daerah terpencil seperti ini bisa ada terbangun infrastruktur jalan yang dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga seiring berjalannya pembangunan tersebut, nantinya akan ada juga pertumbuhan ekonomi di sana,” ujar Zamzami.
Awal karier
Berlatar belakang pendidikan pascasarjana dari Universitas Syiah Kuala di Provinsi Aceh, Zamzami, ST, MSi, pertama kali bekerja di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebagai karyawan honorer.
“Saya lulus kuliah tahun 1994, pada tahun 1993 sampai 1997 tidak ada tes penerimaan PNS oleh karenanya selama kurang lebih tiga tahun saya menjadi karyawan harian sebagai pelaksana di Aceh untuk program swakelola skala besar. Saat itu, hanya ada di tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat. Baru pada tahun 1997 saya ikut tes dan keterima,” ungkapnya.
Lanjut Zamzami, salah satu orang yang memotivasi untuk bekerja di Kementerian PUPR adalah pakdhe-nya yang juga bekerja di kementerian ini.
“Saat itu saya baru selesai kuliah, karena sudah terlalu lama menyelesaikan kuliah, saya langsung mencoba untuk melamar ke BUMN tapi yang dipanggil lebih dulu dari Kementerian PU, kebetulan di sana juga ada pakdhe saya. Nah beliau lah yang mengarahkan saya untuk bekerja di PU saja,” tuturnya.
Saat awal bekerja, dukungan yang sangat luar biasa juga datang dari sang istri yang baru saja dinikahinya.
“Saya berkeluarga tahun 1995, satu tahun setelah menjadi pegawai harian. Jadi, karena memang sudah dari awal berkeluarga, istri sudah tahu kondisi kita bekerja di lapangan. Sudah memahami betul dan sudah terbiasa untuk jarang bertemu bahkan sampai sekarang ini,” kata Zamzami.
Saat ini, Zamzami sudah dikarunai dua orang anak, baginya dengan kondisi pekerjaan seperti sekarang menjaga komunikasi dengan keluarga sangatlah penting. (LTS)
Baca juga:
Wida Nurfaida: Meniti Karier dan Mendidik Anak dari jauh
Rien Marlia: Wanita Jangan Pernah Diminta Memilih antara Karier atau Keluarga

































