Home Berita SPAM Karang Baru Diperkuat, RSUD Aceh Tamiang Diprioritaskan

SPAM Karang Baru Diperkuat, RSUD Aceh Tamiang Diprioritaskan

Share

JAKARTA, LINTAS — Pemerintah memprioritaskan pemulihan suplai air bersih untuk fasilitas kesehatan pascabencana di Aceh Tamiang. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Karang Baru menjadi fokus utama karena menopang kebutuhan air warga sekaligus operasional RSUD Aceh Tamiang.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo bersama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono meninjau langsung SPAM Karang Baru. Peninjauan dilakukan untuk memastikan layanan air bersih tetap berjalan di tengah proses pemulihan.

SPAM Karang Baru melayani kawasan Karang Baru, Kuala Simpang, dan Rantau. Sistem ini juga menjadi sumber utama air bersih bagi RSUD Aceh Tamiang yang melayani ribuan warga.

“Air bersih adalah kebutuhan mendasar, apalagi untuk rumah sakit. Karena itu, suplai harus terjaga,” kata Dody dari keterangan tertulis.

Ia menegaskan, Kementerian PU menyiapkan penanganan jangka pendek dan jangka panjang secara paralel. Langkah ini bertujuan menjaga layanan dasar sekaligus meningkatkan keandalan sistem ke depan.

Penanganan permanen dilakukan dengan skema design and build. Kementerian PU akan membangun instalasi pengolahan air dan reservoir baru. Proses pembangunan diperkirakan berlangsung sekitar enam bulan.

Instalasi Pengolahan Air

Sambil menunggu pembangunan selesai, perbaikan sistem eksisting terus dilakukan. Kementerian PU mengoptimalkan jaringan PDAM Tirta Tamiang dan mengoperasikan instalasi pengolahan air bergerak. Upaya ini difokuskan untuk menjaga suplai ke RSUD Aceh Tamiang tetap aman.

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU Dewi Chomistriana mengatakan, peningkatan kapasitas menjadi kunci. “Kami membangun instalasi pengolahan air berkapasitas 100 liter per detik dan reservoir 1.000 meter kubik,” ujarnya.

Menurut Dewi, pembangunan reservoir telah dimulai. Selain itu, Kementerian PU menambahkan bangunan prasedimentasi. Fasilitas ini diperlukan untuk mengatasi kekeruhan air baku yang meningkat tajam pascabencana.

“Air baku sangat keruh. Tanpa prasedimentasi, pengolahan tidak akan optimal,” kata Dewi.

Secara lebih luas, Kementerian PU mencatat kerusakan pada 52 SPAM di 11 kabupaten dan kota di Aceh. Total kapasitas terdampak mencapai 2.151 liter per detik. Penanganan dilakukan bertahap dan terintegrasi bersama pemerintah daerah.

Langkah ini sejalan dengan Astacita, yakni memastikan layanan dasar tetap berjalan, terutama di wilayah terdampak bencana. (HRZ)

Baca Juga: Kementerian PU Usulkan SPAM Langkahan Baru di Aceh Utara

Share