Keberadaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang diinisiasi pembangunannya oleh Ibu Tien Soeharto dan diresmikan pada 20 April 1975, hingga sekarang kokoh sebagai ikon kebinekaan bangsa Indonesia. Untuk menjelajahi Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas ke Pulau Rote, datanglah ke TMII.
Oleh Harazaki
Kenangan awal-awal perencanaan pembangunan TMII masih disimpan kuat oleh Ismet Rauf (78), pensiunan wartawan Lembaga Kantor Berita Negara (LKBN) Antara. Ismet, kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, ketika itu (1978) memenangi lomba penulisan tentang TMII. Tidak tanggung-tanggung, ia menerima langsung penghargaan dari Presiden Republik Indonesia Soeharto.

Menerima penghargaan dari Presiden Soeharto adalah sebuah kebanggaan luar biasa. Kalau tidak menang lomba, menurut Ismet, mungkin dirinya tidak pernah bisa bersalaman dengan Presiden Soeharto. Semua orang pun mahfum bahwa bertemu dengan Presiden Soeharto bukanlah sesuatu yang mudah. Hanya orang-orang VVIP yang setelah melalui protokol ketat yang bisa bertemu muka dengan Presiden kedua Republik Indonesia itu.
“Hadiah dari memenangi lomba itu, lembaga saya mendapatkan TV hitam putih. Selain itu, saya mendapatkan honor pada waktu itu nilainya Rp 1 juta. Kurang tahu seberapa besar jika dikonversi dengan nilai uang saat ini,” kata Ismet sambil tersenyum.
Ismet bercerita, dalam tulisannya ia mengungkap keberadaan TMII yang sangat diperlukan oleh bangsa ini sebagai ikon persatuan dan pemersatu.
Dia tidak memungkiri bahwa di awal-awal pendirian TMII, ada kelompok masyarakat, terutama para mahasiswa, yang menolak pendirian TMII.
Para pendemo atau penentang menganggap bahwa pembangunan TMII hanya sekadar membuang-buang uang. Menurut mereka, TMII tidak begitu diperlukan oleh bangsa ini.
Ikon Persatuan
Akan tetapi, Ismet mencoba melihat dari sisi lain. Dalam tulisannya, ia membeberkan bahwa TMII yang merupakan potret mini dari bangsa besar bernama Republik Indonesia sangat dibutuhkan. Tidak saja sebagai pemersatu bangsa, tetapi juga sebagai destinasi pariwisata bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Ismet tidak menyembunyikan kekagumannya, bagaimana ide TMII yang membuat anjungan rumah adat setiap suku bukan hanya dalam bentuk miniatur.
“Namun, rumah-rumah adat tersebut dibangun dalam ukuran satu banding satu dengan aslinya. Anjungan-anjungan itu hingga sekarang dimanfaatkan oleh daerah yang bersangkutan untuk kegiatan pameran budaya,” ujar Pemimpin Redaksi Lintas ini.
Baca Juga: Menikmati Keindahan TMII dari Kereta Gantung
Bahkan, tidak itu saja, kata Ismet, berbagai rumah ibadah yang ada di negera kita dibangun berjejer di TMII. “Ini kan luar biasa. Hal ini sebagai cerminan bahwa semangat toleransi di bangsa kita tetap tinggi dan harus selalu kita pelihara. Juga TMII bisa digunakan masyarakat untuk mengadakan pertunjukan budaya, termasuk pesta pernikahan, bisa menggunakan TMII yang asri,” katanya.

Satu hal yang menarik perhatian Ismet adalah kebijakan pemerintah menerapkan kebijakan penggunaan transportasi ramah lingkungan di TMII. Kendaraan yang berbahan bakar fosil dilarang masuk berkeliling TMII.
“Sebagai gantinya, pengelola menyediakan kendaraan shuttle berbahan bakar listrik yang akan mengantar pengunjung berkeliling Taman Mini. Ini bagus sekali. Kebijakan ini awal yang baik. Mungkin bagi yang belum terbiasa terasa berat. Namun, lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Ingat kebijakan larangan merokok. Pasti di awal banyak yang protes. Namun, sekarang masyarakat pun menurut,” kata Ismet yang juga banyak memenangi lomba menulis di berbagai kementerian di masa produktifnya sebagai wartawan.
Baca Juga: Pengelola TMII Siapkan Angkutan Antar-Jemput Gratis untuk Pengunjung
Menyandang nama Taman Mini Indonesia Indah, artinya, kata Ismet, semua tentang keindonesiaan bisa dilihat di TMII. Ada banyak museum dan benda-benda bersejarah yang bisa disaksikan di TMII. “Meseum transportasi, misalnya, menunjukkan kepada kita bagaimana perjalanan sejarah transportasi di Indonesia. Gerbong kereta api yang dulu sering dipakai untuk mobilitasi Soekarno bisa dilihat di museum transportasi ini,” kata Ismet.
Jadi Kenyataan
Apa yang diprediksi Ismet dalam untaian kalimat, yang membawanya menjadi pemenang lomba, terbukti sudah. Lihatlah Taman Mini sekarang. Pemerintahan Joko Widodo lewat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bahkan menggelontorkan dana hingga Rp 1,07 triliun untuk revitalisasi TMII.
“Menurut saya, apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang adalah sebuah pengakuan bahwa TMII sangat dibutuhkan untuk menjaga persatuan bangsa kita,” kata Ismet, Jumat (29/9/2023), di ruang kerjanya di Jl. Pattimura, Jakarta.
Kunjungan Ismet menyambangi TMII pada 23 September 2023 seakan mengingatkannya kembali pada peristiwa besar yang telah mengubah perjalanan hidupnya. Seraya bersyukur diberi kesempatan untuk menikmati karya anak bangsa menjaga keutuhan NKRI di TMII, ia juga tak pernah melupakan bahwa lewat torehan prestasi memenangi lomba tentang TMII disusul berbagai prestasi lain di dunia jurnalistik, telah membawanya hingga sekarang tetap eksis dan berkiprah mencerahkan bangsa.
Bagi Ismet, datang ke TMII berarti semakin mengenali negeri kebanggaan kita. Setelah itu, tak ada alasan untuk tidak mencintai Indonesia. (HRZ)
Baca juga: Presiden Jokowi: TMII Wajah Baru Jadi Kebanggaan Indonesia






















