JAKARTA, LINTAS – PT Jasa Marga (Persero) Tbk memperkirakan sekitar 3,5 juta kendaraan akan meninggalkan Jakarta selama periode mudik Lebaran 2026. Prediksi tersebut disusun berdasarkan hasil analisis data lalu lintas yang dilakukan Jasa Marga bersama Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan.
Direktur Utama PT Jasa Marga Rivan Achmad Purwantono mengatakan, proyeksi tersebut bukan angka yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil proses identifikasi berbasis data yang dianalisis melalui sistem pemantauan lalu lintas milik Jasa Marga.
“Kami mengantisipasi sekitar 3,5 juta pergerakan kendaraan keluar dari Jakarta. Angka ini merupakan hasil proses identifikasi dan analisis yang kami lakukan bersama Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan,” ujar Rivan dalam Media Briefing di Jasa Marga Siaga Operasional Libur Idul Fitri 1447 H, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, JMTC menjadi pusat kendali lalu lintas yang dilengkapi teknologi canggih untuk memantau kondisi jalan tol secara real time. Selain pemantauan visual, sistem tersebut juga memanfaatkan machine learning dan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu analisis pergerakan kendaraan hingga mendukung pengambilan keputusan operasional.
“Kami boleh berbangga karena command center ini merupakan salah satu yang paling lengkap. Tidak hanya secara visual, tetapi juga menggunakan machine learning dan AI untuk menghitung pergerakan kendaraan serta membantu pengambilan keputusan lalu lintas,” jelasnya.

Puncak Mudik Diprediksi 18 Maret
Berdasarkan proyeksi Jasa Marga, puncak arus mudik Lebaran 2026 diperkirakan terjadi pada 18 Maret 2026, sementara puncak arus balik diprediksi pada 24 Maret 2026 atau H+3 Lebaran.
Meski demikian, Rivan memperkirakan pergerakan kendaraan sudah mulai terlihat sejak akhir pekan ini seiring dengan adanya masa libur yang cukup panjang.
“Kami melihat pergerakan kendaraan kemungkinan sudah mulai muncul sejak Jumat ini. Dengan libur yang cukup panjang, masyarakat cenderung memilih waktu perjalanan yang lebih awal agar perjalanan mudik lebih nyaman,” ujarnya.
Pada arus balik nanti, kata Rivan, sebagian masyarakat diperkirakan kembali lebih cepat karena harus kembali bekerja di Jakarta, sementara sebagian lainnya tetap berada di kampung halaman hingga akhir masa libur.
Mayoritas Kendaraan Menuju Arah Timur
Dari total 3,5 juta kendaraan yang diproyeksikan keluar dari Jakarta, sekitar 50 persen diperkirakan menuju arah timur melalui ruas tol Jakarta–Cikampek dan Cipularang.
Sementara itu, sekitar 28 persen kendaraan bergerak ke arah barat menuju Merak, dan sekitar 20 persen lainnya menuju wilayah selatan atau Bogor.
Pergerakan ke arah timur menjadi perhatian utama karena jumlahnya paling besar. Dari total kendaraan yang menuju timur tersebut, sekitar 57 persen akan melanjutkan perjalanan ke Trans Jawa, sedangkan sekitar 42 persen menuju arah Bandung melalui Tol Cipularang.
“Karena itu yang perlu diantisipasi adalah pergerakan ke arah timur. Kepadatan biasanya terjadi di sekitar KM 66 karena adanya pertemuan arus kendaraan menuju Trans Jawa,” kata Rivan.

































