JAKARTA, LINTAS – Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A terus menunjukkan kemajuan signifikan. Hingga 25 September 2025, progres pekerjaan paket kontrak CP202 telah mencapai 58,37 persen, melampaui target rencana sebesar 54,92 persen.
“Capaian ini menunjukkan bahwa pekerjaan konstruksi berjalan sesuai jadwal bahkan lebih cepat dari rencana. Kami terus memastikan pelaksanaan di lapangan memenuhi standar mutu dan keselamatan tinggi,” ujar Rendy Primartantyo, Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta (Perseroda), dalam keterangannya, Senin (6/9/2025).
Menurutnya, sejumlah pekerjaan utama tengah dikebut, di antaranya pengecoran canal underpass box utara sisi Jalan Gajah Mada di area pembangunan Stasiun Harmoni, pengecoran lantai di Stasiun Sawah Besar dan Mangga Besar, serta pengecoran canal underpass sisi utara Jalan Hayam Wuruk.
Rendy menambahkan, hingga akhir September 2025, dua mesin bor terowongan (TBM 1 dan TBM 2) telah menyelesaikan pembangunan terowongan bertingkat pertama di Indonesia yang menghubungkan Stasiun Harmoni dan Sawah Besar.
“Selanjutnya, kedua TBM akan melanjutkan pekerjaan membangun terowongan bertingkat menuju Stasiun Mangga Besar,” jelasnya.
Progres CP201 Capai 89,57 Persen
Selain CP202, paket kontrak CP201 yang mencakup pembangunan Stasiun Thamrin dan Monas juga mencatat capaian positif, yakni 89,57 persen. Paket ini ditargetkan selesai pada 2027. Saat ini, di Stasiun Monas, pekerjaan finishing arsitektural di koridor entrance 1 dan 2 masih berlangsung.
Baca Juga: Tol Bogor–Serpong via Parung, Simpul Baru Konektivitas Jabodetabek Bernilai Rp 12,35 Triliun
Sementara di Stasiun Thamrin, sejumlah pekerjaan utama seperti reinstatement center median di area shaft Bundaran HI, pemasangan sheet pile pada entrance 3, serta pengecoran dinding dan lantai untuk entrance 5, 7, dan 8 terus dilakukan.

“Stasiun Thamrin akan memiliki sembilan entrance, menjadikannya stasiun dengan akses terbanyak di Fase 2A,” tutur Rendy.
CP203 Sudah 77,84 Persen
Kemajuan juga terlihat pada paket kontrak CP203 yang membangun Stasiun Glodok dan Kota, dengan progres mencapai 77,84 persen. Di Stasiun Kota, pekerjaan utama meliputi koridor penghubung antara entrance 4 dan Stasiun Jakarta Kota, serta instalasi sistem mekanikal, elektrikal, dan pemipaan (plumbing).
Sedangkan di Stasiun Glodok, tim tengah menyelesaikan pemasangan platform screen door, dinding dan plafon arsitektural, serta sheet steel pile pada entrance 3 dan 4.
Sementara itu, paket kontrak CP205 telah mencapai 26,116 persen. Seluruh material rel telah dikirim ke lokasi proyek dan siap untuk proses pemasangan. Selain itu, tim tengah memproduksi bantalan rel beton pratekan (pre-stressed concrete sleeper).
Untuk CP206 (rolling stock) atau pengadaan kereta Ratangga, saat ini masih dalam tahap market sounding dengan calon kandidat potensial untuk re-bidding. Sedangkan CP207 (automatic fare collection system) atau sistem pembayaran tiket sedang dalam proses klarifikasi dokumen tender.
Fase 2A Hubungkan Bundaran HI–Kota
Fase 2A MRT Jakarta akan menghubungkan Stasiun Bundaran HI hingga Stasiun Kota dengan panjang lintasan sekitar 5,8 kilometer dan tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota.
Pembangunan Fase 2A dibagi menjadi dua segmen: Segmen 1 (Bundaran HI–Harmoni) ditargetkan selesai pada 2027. Segmen 2 (Harmoni–Kota) ditargetkan rampung pada 2029.
Total nilai proyek Fase 2A mencapai sekitar Rp 25,3 triliun, yang didanai melalui kerja sama pinjaman antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang. Sementara itu, Fase 2B, yang akan memperpanjang jalur dari Kota menuju Depo Ancol Barat, masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).
Baca Juga: Terowongan Bertingkat Bawah Tanah MRT Jakarta Selesai, Hubungkan Harmoni dan Sawah Besar
Rendy menambahkan, berbeda dari Fase 1, pembangunan Fase 2A juga mengusung konsep Transit Oriented Development (TOD). Dengan konsep ini, MRT Jakarta tidak hanya membangun infrastruktur transportasi, tetapi juga mengembangkan kawasan terintegrasi yang menggabungkan fungsi transit, hunian, ruang publik, dan aktivitas ekonomi.
“Konsep TOD akan meningkatkan keterhubungan masyarakat dengan transportasi publik, memperkuat daya angkut penumpang, serta menciptakan kawasan yang lebih hidup dan berkelanjutan,” tutur Rendy. (CHI)
























