JAKARTA, LINTAS – Pembangunan infrastruktur jalan tol di Indonesia menorehkan babak penting dengan penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT), Perjanjian Penjaminan, dan Perjanjian Regres untuk proyek Jalan Tol Bogor–Serpong (via Parung).
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo dalam sambutannya menegaskan, bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan wujud nyata komitmen pemerintah dalam menjaga kesinambungan pembangunan infrastruktur.
“Lebih dari 3.100 km jalan tol telah beroperasi dalam lima tahun terakhir, rata-rata 100 km per tahun. Ini bukan hanya statistik, melainkan bukti komitmen kita dalam memperkuat konektivitas nasional,” ujar Dody di Pendopo Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta Selatan, Jumat (3/10/25).
Menurutnya, Jalan Tol Bogor–Serpong via Parung akan menjadi simpul penting dalam jaringan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) 3, sekaligus memperkuat integrasi kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Jakarta.
“Ruas ini bukan sekadar jalur transportasi, tapi motor pertumbuhan wilayah, penciptaan lapangan kerja, hingga pengurang kemiskinan,” tambahnya.
Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi
Lebih dari sekadar mempercepat mobilitas, jalan tol ini diperkirakan akan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di sepanjang koridor, memperluas kesempatan kerja, memperkuat rantai pasok logistik, hingga menurunkan biaya distribusi pangan dan energi.
“Jalan tol ini adalah jalan kehidupan, yang bukan hanya menghubungkan wilayah, tapi juga membawa kebaikan bagi masa depan bangsa,” tutur Dody.

Dengan kehadiran Jalan Tol Bogor–Serpong via Parung, pemerintah berharap tercipta konektivitas yang lebih baik antara kota satelit di sekitar Jakarta, mengurangi beban jalan arteri, serta mendorong terciptanya ekosistem investasi yang lebih kuat.
Penandatanganan tiga perjanjian strategis ini menjadi tonggak baru sinergi antara pemerintah, badan usaha, dan investor swasta dalam membangun infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.
Skema Investasi Rp12,35 Triliun, Tanpa APBN
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Wilan Oktavian, dalam laporannya menyebut proyek ini digarap oleh PT Bogor Serpong Infrastruktur Indonesia (BSII), yang dimiliki konsorsium PT Pesada Utama Infra (52%), PT Jasa Marga (26%), PT Adhi Karya (12%), dan PT Hutama Karya Infrastruktur (10%).
Nilai investasinya mencapai Rp 12,351 triliun dengan skema Build, Operate, Transfer (BOT) tanpa menggunakan dana APBN.
“Proyek ini mendapat dukungan penjaminan dari PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia, sehingga risiko dapat diminimalkan dan keberlanjutan proyek lebih terjamin,” jelas Wilan.
Tol sepanjang 32,03 km ini akan melintasi 27,83 km di Jawa Barat dan 4,2 km di Banten, terbagi dalam empat seksi. Jalan dirancang dengan kecepatan 100 km/jam, lebar lajur 3,6 meter, dengan konfigurasi 2×2 lajur pada tahap awal, yang nantinya dikembangkan menjadi 2×3 lajur.
Rincian teknis jalan tol sepanjang 32,03 km, yang terbagi menjadi empat seksi:
- Seksi 1: JC Salabenda – Simpang Susun Pondok Udik (3,97 km).
- Seksi 2: Simpang Susun Pondok Udik – Simpang Susun Putat Nutug (9,27 km).
- Seksi 3: Simpang Susun Putat Nutug – Simpang Susun Rumpin (8,23 km).
- Seksi 4: Simpang Susun Rumpin – JC Serpong (10,56 km).
“Sesuai dengan proyeksi pertumbuhan lalu lintas di masa mendatang,” jelas Wilan.
Ia menyebut, lewat jalan tol ini, perjalanan dari Bogor ke Serpong diprediksi bisa ditempuh dala waktu kurang dari 45 menit. Pembangunan direncanakan dimulai dengan pembebasan lahan pada awal 2026, konstruksi pada Oktober 2026, dan ditargetkan selesai Agustus 2028.
Baca Juga: Bus Tingkat “Open Top Tour of Jakarta” Diluncurkan, Nikmati Wisata Sejarah di Jakarta
Jalan tol ini akan terhubung dengan jaringan strategis lain seperti Tol Serbaraja, Tol Depok–Antasari, serta Tol Sentul Selatan–Karawang Barat. (ROY)
.

























