Home Berita Politeknik PU Semarang Pencetak Lulusan Siap Kerja

Politeknik PU Semarang Pencetak Lulusan Siap Kerja

Share

SEMARANG, LINTAS – Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech)Semarang yang didirikan pada Desember 2018 silam, kini terus berkembang untuk menghasilkan lulusan bersertifikasi profesi yang siap menjawab kebutuhan dunia konstruksi dan industri, baik dalam negeri dan luar negeri. Tidak lagi hanya terbatas pada bidang ke-PU-an, bahkan sudah merambah ke industri perkapalan.

Lulusannya PUtech dibekali dengan sertifikasi keahlian khusus, seperti juru gambar dan juru ukur, agar mampu bersaing langsung di industri konstruksi Indonesia. Meskipun berada di bawah naungan Kementerian PU, PUtech bukanlah sekolah ikatan dinas, tetapi juga mempersiapkan SDM unggul yang siap bersaing di dunia konstruksi global.

Direktur Politeknik Pekerjaan Umum Ir Brawijaya, ST, SE, MEng.I.E, MSCE, PhD, IPU, ASEAN.Eng, mengatakan, kemajuan PUtech Semarang tidak cukup hanya dengan mengandalkan kemampuan fasilitas prasarana dan sarana yang disediakan kampus sebagai pendukung kegiatan akademik, riset, dan pengembangan minat mahasiswa. “Akan tetapi, hal yang paling penting ke depan setelah lulus mereka mau ke mana?,” tegas Brawijaya, Kamis (2/7/2026) dalam wawancara via Zoom.

Untuk menjawab tantangan itu, PUtech tidak hanya terbatas pada kerja sama dengan BUMN Karya dan kontraktor nasional, tetapi terbuka kerja sama dengan dunia industri yang lain. “Baru-baru ini PUtech kolaborasi dengan Geoforce Indonesia yang sudah beberapa tahun ini menjalin kerja sama,” lanjutnya.

Namun, bagi Brawijaya, yang paling penting roadmap ke depan PUtech Semarang akan menambah program studi (Prodi) baru dan pembekalan para dosen dan menghadirkan dosen-dosen praktisi untuk mengajar.

Adapun target PUtech dalam 5 tahun ke depan bisa mencetak sebanyak 3.000 mahasiswa, di mana pada tahun 2024 awal masih sekitar 500 mahasiswa dan sekarang sudah mendekati 1.000 mahasiswa, sehingga 3 tahun yang akan datang bisa mencapai 3.000 mahasiswa.

Brawijaya mengatakan, dari segi ruang kelas masih sangat memadai, namun yang paling utama jumlah dosen yang juga sudah kami minta adanya penambahan. Kemudian, kurikulum harus kita jaga dengan memperhatikan sejumlah masukan dari dunia usaha dan dunia industri supaya begitu mereka lulus sesuai dengan kebutuhan.

Saat ini, mahasiswa PUtech diarahkan untuk bisa menggunakan IoT (Internet of Things) di bidang konstruksi, sehingga bisa bersaing di dunia kerja. Selain yang sudah diterapkan seperti BIM (Building Information Modeling) serta ilmu ukur tanah yang sudah menggunakan berbagai macam teknologi bagus termasuk teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging).

Menurut Brawijaya, mahasiswa PUtech sebenarnya sudah memiliki modal pengetahuan terkait dengan BIM, tetapi kami juga sudah mempersiapkan, seperti mata kuliah gambar teknik yang tidak hanya menggunakan AutoCAD, tetapi juga sudah menggunakan aplikasi yang nantinya sudah siap diintergrasikan ke dalam BIM, termasuk pengukuran tanah sudah disiapkan aplikasi-aplikasi yang sudah di gabung saat mereka mengambil mata kuliah BIM.

Selama ini lulusan PUtech sudah cukup terkenal kemampuannya dalam penerapan BIM. Kemudian, yang sedang kita godok bagaimana menyiapkan IoT yaitu segala sesuatu yang dihubungkan dengan internet yang menjadi the next big step PUtech. Sedangkan AI (artificial intelligence) sudah mulai kita terapkan tidak hanya sebagai bahan belajar mengajar, tetapi juga bagaimana menerapkan AI di dunia konstruksi, bisa untuk scheduling, pengenalan progres di lapangan menggunakan CCTV dan sebagainya yang sudah mulai digunakan di bendungan.

Bahkan, pada bulan lalu, PUtech Semarang Juara dalam penerapan BIM, baik itu yang diselenggarakan UNDIP maupun UGM yang merupakan level internasional karena BIM di PUtech bukan hal baru, termasuk di IKN kami bekerja sama untuk mengirimkan dosen dan mahasiswa untuk melakukan kegiatan penerapan BIM dan Geodesi yang memanfaatkan teknologi LiDAR yang sudah digunakan di Kertosono (2008) dan Cisumdawu di dalam perencanaannya. Dan ini sudah menjadi materi kuliah yang diajarkan di PUtech.

Program Studi Baru

Sementara ini, jumlah Prodi di PUtech ada tiga, yaitu Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung, Teknologi Konstruksi Bangunan Air, serta Teknologi Konstruksi Jalan dan Jembatan. Dan dalam waktu dekat ini PUtech akan menambah 3 Prodi baru yang tinggal menunggu izin, di antaranya Teknologi Konstruksi Sanitasi, Teknologi Konstruksi Air Minum, dan Teknologi Keselamatan Konstruksi. Jadi, ke depan total akan ada 6 Prodi dan pada tahun 2029 total menjadi 10 Prodi, termasuk Prodi S-2 Terapan.

“Tugas utama kami adalah mengisi kekosongan tenaga kerja konstruksi (TKK) pada Jenjang Level V diklasifikasikan sebagai kelompok Teknisi atau Analis Madya yang kosong, karena perguruan tinggi (PT) yang menawarkan program Diploma III masih sangat sedikit, sementara kebutuhan di lapangan akhirnya di isi oleh lulusan S-1 yang belum siap kerja,” kata Brawijaya. 

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa PUtech melalui jalur pendidikan vokasi berfokus pada penguasaan keahlian terapan, yang memang sudah dilatih untuk siap kerja.Kurikulumnya dirancang dengan porsi praktik lebih besar daripada teori (sekitar 60%-70% praktik) untuk memastikan lulusannya memiliki keterampilan teknis yang spesifik dan siap langsung bekerja di industri.

Sekarang, lulusan PUtech baru 600 mahasiswa atau masih jauh dari kebutuhan.  “Makanya, kita salah satunya memenuhi apa yang tertulis di dalam Renstra yakni menambah jumlah mahasiswa. Untuk itu kita harus juga bisa menyediakan alumni yang tangguh, unggul, dan berintegritas, sesuai dengan slogan PUtech,” ujarnya.

Lulusan siap kerja

Sesuai dengan kondisi geografis Indonesia alumni PUtech harus tangguh. Unggulnya yakni dengan menyiapkan bukan hanya dari segi penguasaan materi kuliah atau kemampuan akademik dan praktik di lapangan, tetapi juga mereka juga memiliki soft skill atau keterampilan non-teknis yang berkaitan dengan kepemimpinan dan berorganisasi, termasuk olahraga dan berkesenian untuk membentuk jati diri mahasiswa, sehingga mereka siap terjun ke tengah-tengah masyarakat dan berintegritas.

Terkait lapangan kerja PUtech tidak hanya bergantung dengan BUMN Karya, tetapi juga sudah terbuka kerja sama dengan Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) yang terdiri dari 125 kontraktor besar (termasuk kontraktor dari BUMN Karya) dan kontraktor internasional, termasuk kerja sama dengan pemerintah daerah. 

Selain itu, PUtech tahun lalu ada 5 alumni yang masuk dunia perkapalan di Taiwan yang memerlukan lulusan politeknik yang juga diberikan kesempatan melanjutkan pendidikan setara S-1 sehingga mereka bisa terus bekerja di tempat tesebut. 

“Harapannya, ke depan kita juga bisa bekerja sama dengan Korea Selatan, Malaysia, dan Jepang. Kami juga sudah berkomunikasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia  (KP2MI) untuk memuluskan jalan bahwa lulusan PUtech siap kerja dalam dan luar negeri,” kata Brawijaya.

Ia juga berharap, lulusan PUtech dapat bekerja di sejumlah kontraktor swasta dalam dan luar negeri. “Kami juga sudah menjalin kerja sama dengan Yayasan Buddha Tzu Chiuntuk kurikulum bahasa Mandarin dan fasilitasnya sudah siap semua,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Direktur II Politeknik Pekerjaan Umum Ir Iriandi Azwartika, SP.I,menambahkan, bahwa lulusan PUtech setelah lulus tidak sekadar mambawa ijazah, tetapi juga dibekali dengan 4 Sertifikat Kompetensi Level V setiap lulusan, yaitu sertifikasi pengukuran tanah, BIM, pengawasan konstruksi, dan OP (Operasi dan Pemeliharaan) untuk setiap Prodi.  

“Khusus BIM sertifikasinya 5-D dari total 10-D, tetapi yang diajarkan di PUtech sudah 6-D selanjutnya kami akan menambahkan satu dimensi lagi terkait K3 pada 2026 akhir sudah bisa diterapkan menjadi 7-D,” kata Iriandi.

Brawijaya mengatakan, pada tahun ini PUtech Semarang juga akan menjadi Institusi yang memiliki fasilitas laboratorium Asbuton terbaik dan termodern di Indonesia, yang saat ini hanya ada di Jawa Timur (BBPJN Jatim-Bali) dan Balai Perkerasan (Bandung). Artinya, ke depan untuk pengujian-pengujian bisa dilakukan di Laboratorium AsbutonPUtech Semarang, termasuk gedung sudah tersedia mulai dari pemeriksaan, pelaksanaan, dan pengawasan semuanya sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh Kementerian PU.

Selain itu, mahasiswa juga sudah diajarkan bagaimana cara bongkar-pasang jembatan (Bailey), bahkan mahasiswa PUtech mengirimkan sebanyak 29 mahasiswa untuk membantu pascabencana di Aceh selama 6 bulan penuh.

“Mahasiswa selain kompeten dan unggul juga harus didukung kedesiplinan yang tinggi dan tidak terlibat narkoba, sehingga siap kerja,” tutup Brawijaya. (PAH/ROY/SAL)

Oleh:

Share