Dampak bencana banjir kerap menimbulkan masalah banjir. Masalah banjir pasti menimbulkan kerugian yang tidak sedikit baik yang bisa dihitung (tangible) maupun yang tidak bisa dihitung (intangible). Kejadian banjir yang selalu berulang memaksa pemerintah dan para pakar berupaya mencari jalan keluar mengatasi dampak akibat terjadinya banjir. Faktor alam sebagai penyebab banjir jangan lagi selalu disalahkan karena faktor manusialah yang sepatutnya dipersalahkan.
Pemerhati masalah banjir, Ir Siswoko Sastrodihardjo, Dipl., HE, menyampaikan betapa pentingnya masyarakat perlu mengetahui mengapa banjir terjadi, dan apa itu dataran banjir karena berkaitan dengan keamanan tempat tinggal mereka terhadap banjir. Dan yang tak kalah pentingnya masyarakat perlu tahu sejauh mana upaya pemerintah melindungi masyarakatnya terhadap banjir (15/5/2024)
Paparan lengkap Siswoko bisa dilihat pada tautan ini.
Adapun materi paparan bagian I Siswoko ini juga bisa disaksikan di Podcast Melintas di channel Youtube Majalah Lintas berikut ini.
Pengalamannya melanglang buana sebagai ketua Global Water Partnership (GWP) wilayah Asia Tenggara membuahkan perbandingan tentang bagaimana negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Malaysia, dan lainnya dalam mengelola banjir.
Sembari menunjukkan buku yang ditulisnya berjudul Upaya Mengatasi Masalah Banjir secara Menyeluruh”, Siswoko yang pernah menjabat Direktur Jenderal Sumber Daya Air periode 2005-2007, banyak mengupas proses perubahan paradigma masalah banjir.
Sejarah
Perubahan paradigma masalah banjir diawali dengan kegagalan konsep pengendalian banjir (flood control) dalam mengatasi masalah banjir. Konsep ini cenderung mengandalkan pembangunan fisik untuk menyelesaikan masalah banjir dan apa yang terjadi? Di Amerika Serikat (AS) terjadi banjir besar pada tahun 1993 akibat jebolnya tanggul Sungai Mississippi. Tanggul yang didesain mampu menahan banjir periode 100 tahunan (Q100) jebol setelah diterjang banjir yang besarnya setara 5 kali Q desain (Q500),.
Tidak hanya di AS, di Belanda pun terjadi hal yang sama, tetapi Belanda lebih beruntung. Tanggul Sungai Rheine yang diperhitungkan mampu menahan banjir Q1000 tahunan, diuji oleh banjir yang datang mendekati Q1000, terbukti dengan tingginya muka air sungai yang mendekati elevasi puncak tanggul, tetapi tidak sampai menjebol tanggul, walau masyarakat di sekitar tanggul sempat mengalami kepanikan serius,” ujar Siswoko lebih lanjut.

Becermin dari kejadian di atas dan di banyak negara lain, para ahli berkesimpulan konsep pengendalian banjir tidak lagi efektif mengatasi masalah banjir. Sehingga kemudian tercetuslah konsep baru pada era tahun 2000-an, yakni konsep pengelolaan banjir yang tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik semata, tetapi lebih mengandalkan pada upaya nonfisik (perpaduan upaya struktural dan nonstruktural) yang dikenal dengan Integrated Flood Management (IFM). Konsep baru inilah yang kemudian mewarnai Undang Undang No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang juga dibidani oleh Siswoko. Sekalipun UU No 7/2004 berubah menjadi UU No 17 Tahun 2019, tetapi marwah undang-undang tetap berlandaskan pada upaya struktural dan nonstruktural (IFM) dalam mengelola banjir.
Dataran Banjir
Salah satu hal yang sangat penting dalam konsep pengelolaan banjir, yakni terpetakannya dataran banjir di daerah/kawasan sekitar sungai. Pemetaan dataran banjir menyajikan informasi berbagai variasi ketinggian muka air banjir ketika aliran sungai meluap menggenangi kawasan disebelah kiri dan kanan sekitar sungai.
Salah satu fungsi penting peta dataran banjir dapat menjadi sumber informasi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sungai sejauh mana mereka akan terdampak banjir ketika aliran sungai meluap keluar sungai. Tidak hanya itu, pemerintah pun dapat melakukan pengelolaan dataran banjir melalui kebijakan, regulasi, sosialisasi dan sebagainya.
Yang menjadi pertanyaan saat ini, sudah sejauh manakah pemerintah baik pusat maupun daerah melakukan pengelolaan dataran banjir. Contoh konsep rumah panggung yang banyak diterapkan sejak dahulu oleh nenek moyang kita, mencerminkan betapa mereka bisa hidup secara harmoni dengan banjir, karena sadar tinggal di kawasan dataran banjir yang suatu saat banjir akan datang kembali.
Baca Juga: Hidup Harmoni Bersama Banjir





















