JAKARTA, LINTAS – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku menuntaskan pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di 13 titik yang tersebar di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 Tahap III untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung target swasembada pangan.
Keberadaan JIAT diharapkan mampu menjawab tantangan ketersediaan air bagi lahan pertanian, khususnya saat musim kemarau yang semakin panjang akibat fenomena El Nino. Dengan pasokan air yang lebih terjamin, produktivitas pertanian di wilayah tersebut diproyeksikan meningkat secara signifikan.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan pembangunan JIAT merupakan langkah strategis pemerintah dalam memastikan keberlanjutan sektor pertanian melalui penyediaan air irigasi yang andal.
“Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” kata Dody dari keterangannya yang dikutip Senin (20/7/2026).
Ia menambahkan, pengembangan JIAT tidak cukup hanya membangun sumur bor dan pompa air tanah. Menurutnya, sistem tersebut harus dilengkapi jaringan saluran irigasi tersier yang disesuaikan dengan kondisi morfologi lahan agar distribusi air dapat menjangkau seluruh area pertanian secara efektif.
“Jaringan distribusi air harus dirancang sesuai karakteristik lahan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan petani,” tegasnya.


Ubah Pola Tanam
Manfaat pembangunan JIAT mulai dirasakan para petani di Desa Latdalam, Pulau Yamdena. Salah seorang anggota Kelompok Tani (Poktan) Desa Latdalam, Curcil B. Watumlawar, mengungkapkan bahwa keberadaan sistem irigasi tersebut telah mengubah pola tanam di wilayahnya.
JIAT yang melayani lahan seluas 108 hektar dengan jaringan pipa sepanjang 10,8 kilometer mampu menjaga ketersediaan air sepanjang musim. Kondisi ini memungkinkan petani meningkatkan intensitas tanam yang sebelumnya sangat bergantung pada curah hujan.
Sebelum proyek tersebut dibangun, petani umumnya hanya mampu melakukan panen satu kali dalam setahun. Kini, dengan dukungan sumur bor dan sistem irigasi yang berfungsi optimal, mereka optimistis dapat melakukan panen hingga tiga kali setiap tahun.
“Satu tahun kemarin itu kami cuma panen satu kali. Dan mungkin dengan adanya air, adanya sumur bor ini, kami selaku petani akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa melaksanakan panen dalam satu tahun bisa tiga kali panen,” tutur Curcil.
Pembangunan JIAT Pulau Yamdena dikerjakan oleh PT Hutama Karya (Persero) menggunakan alokasi APBN Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp 24,4 miliar.
Proyek tersebut meliputi pembangunan 13 unit rumah pompa lengkap dengan panel listrik dan pagar pengaman, 13 unit pompa submersible berbasis tenaga surya, 26 menara air, jaringan pipa High Density Polyethylene (HDPE) sepanjang 10.800 meter, serta 13 unit sumur bor. Selain pembangunan JIAT, Kementerian PU juga terus memperkuat infrastruktur irigasi nasional melalui berbagai program pada Tahun Anggaran 2025.
Program tersebut meliputi rehabilitasi jaringan irigasi utama di 69 lokasi, peningkatan jaringan irigasi tersier melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) di 441 lokasi, pelaksanaan Inpres Percepatan Pembangunan Irigasi di 69 lokasi, serta pembangunan JIAT di 45 lokasi di berbagai daerah. (CHI)















