Yogyakarta, Lintas — Pendanaan air bersih secara berkelanjutan masih jadi masalah dunia. Hal ini jadi perhatian jelang World Water Forum ke-10 tahun 2024.
Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna mengatakan bahwa tantangan penyediaan air bersih dan sanitasi tak hanya dihadapi Indonesia.
Hal ini menjadi tantangan global, terutama dalam soal pendanaan. “Saat ini 20 negara berkembang dan kawasan di dunia mengalami kesenjangan pendanaan hingga 61 persen untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi sehat,” kata Herry dalam workshop “Secure and Increase Funding for Basic Access to Safe Water and Sanitation for All at All Scales” di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Selasa (4/7/2023).
Workshop ini digelar Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan bekerja sama dengan UGM.
Baca juga: 3 Tahap Persiapan Indonesia Menyongsong World Water Forum
Ini merupakan workshop ketiga bagian dari rangkaian Side Event Subtema Sustainable Water Finance dalam rangka World Water Forum ke-10 di Bali pada 18-24 Mei 2024 mendatang.
Untuk menghadapi berbagai permasalahan global di sektor air, Herry mengatakan, World Water Council mengadakan pertemuan tiga tahunan yang disebut World Water Forum.
Dan Indonesia terpilih menjadi tuan rumah pada pertemuan berikutnya pada tahun 2024 sehingga harus berperan aktif.
“Sebagai tuan rumah, Indonesia mengangkat enam subtema, salah satunya yaitu Pembiayaan Sektor Air yang Berkelanjutan (Sustainable Water Finance), dari subtema tersebut dibagi lagi ke dalam lima topik, salah satunya yakni terkait pengembangan pembiayaan untuk akses dasar ke air bersih dan sanitasi untuk semua,” kata Herry dalam keterangan yang diperoleh MajalahLintas.
5 Topik Bahasan

Di workshop ini, lima topik dibahas para pakar air dari dalam dan luar negeri. Lima topik itu yakni soal praktik baik manajemen air bersih berbasis komunitas, peran para pemangku kepentingan, kebijakan dan tata kelola air bersih, kemitraan skala kecil pengelolaan air bersih, hingga peluang pendanaan alternatif untuk air bersih.
“Tujuan dari workshop ini adalah untuk membahas tantangan dan peluang utama pembiayaan air yang berkelanjutan dalam mengamankan dan meningkatkan pendanaan untuk akses dasar air bersih dan sanitasi untuk semua skala,” lanjut Herry.
Wakil Ketua Program World Water Forum Ke-10 Arie Setiadi Moerwanto menyatakan pendanaan air bersih secara berkelanjutan masih jadi masalah dunia.
“Jadi hari ini kita akan coba berdiskusi apa problemnya dan mencari jalan keluar. Salah satu tawaran solusinya adalah menyiapkan dana bersama, termasuk pendanaan skala mikro dan berbasis komunitas,” ujarnya.
Wakil Rektor UGM Arief Setiawan yang hadir dalam acara teraebut mengatakan, isu air bersih semestinya tidak hanya menjadi suatu pembahasan dan karya akademik. “Tidak hanya wacana dan tulisan tapi diimplementasikan benar-benar solusi permasalahan air yang ada di Indonesia dan bagaimana persoalan tersebut bisa diselesaikan,” ujarnya. (EDW)
Baca Juga: Menteri Basuki Usulkan Hari Danau Sedunia dalam Pertemuan di Madrid

























