GORONTALO, LINTAS – Penanganan longsoran di ruas jalan Molingkapoto-Tolango, yang menjadi penghubung vital antara Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Tengah, terus dikebut. Hingga 24 Agustus 2025, progres fisik proyek ini telah mencapai 20,05%. Proyek ini ditargetkan selesai pada Desember 2025.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) II Gorontalo, Jemmy Dunda mengungkapkan, bahwa penyebab utama longsoran ini adalah faktor hidrologi dan geologi.
“Curah hujan di wilayah Gorontalo Utara tergolong sedang hingga tinggi, yang membuat tanah rentan jenuh dan kekuatannya menurun,” jelasnya.
Selain itu, wilayah ini juga berada di zona tektonik “Pacific Ring of Fire” yang aktif, sehingga rawan terhadap bencana alam seperti gempa bumi.
Saat ini, ruas jalan sepanjang 50 meter di lokasi longsoran hanya bisa dilalui satu lajur kendaraan, meskipun secara keseluruhan jalan tetap fungsional. Jemmy menjelaskan, tim di lapangan tidak menghadapi tantangan atau hambatan besar saat penanganan berlangsung karena jenis longsorannya relatif mudah ditangani.
Setelah kejadian, langkah darurat yang diambil adalah melakukan penimbunan pada badan jalan yang ambles agar jalan tetap berfungsi. Penanganan permanen tidak menggunakan teknologi khusus, melainkan metode yang disesuaikan dengan tipe longsoran.

“Tipe longsorannya adalah longsoran rotasi, yaitu pergerakan massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung,” kata Jemmy. Oleh karena itu, penanganannya dilakukan dengan cantilever wall yang dikombinasikan dengan pondasi sumuran.
Alokasi Anggaran
Jemmy memaparkan, alokasi anggaran untuk paket pekerjaan Penanganan Longsoran dan Berkala Jembatan Ruas Isimu-Molingkapoto-Tolango, Molingkapoto-Kwandang-Atinggola, Kwandang-Pelabuhan Kwandang, Sp. Pelabuhan Anggrek-Pelabuhan Anggrek dengan total sebesar Rp 7,4 miliar yang terbagi untuk pekerjaan Penanganan Longsoran sebesar Rp 3,1 miliar dan pekerjaan Berkala Jembatan sebesar Rp 4,2 miliar.
Realisasi progress fisik hingga tanggal 24 Agustus 2025 telah mencapai 20,05%. Total anggaran yang dialokasikan untuk paket pekerjaan Penanganan Longsoran dan Berkala Jembatan ruas Isimu-Molingkapoto-Tolango sebesar Rp 7,4 miliar.
Dari jumlah tersebut, alokasi untuk penanganan longsoran adalah Rp 3,1 miliar. Meskipun demikian, longsoran ini memiliki dampak yang signifikan terhadap mobilitas dan perekonomian.
“Longsoran ini sangat mengganggu arus transportasi,” ungkap Jemmy. Pasalnya, ruas jalan ini tidak hanya menjadi akses menuju Pelabuhan Anggrek, tetapi juga penghubung utama antara Gorontalo dan Sulawesi Tengah.
Baca Juga: Fenomena Orkestra Pengelolaan Infrastruktur Tanpa Dirigen
Mengenai mitigasi dan pencegahan, Jemmy menegaskan bahwa penanganan yang dilakukan BPJN Gorontalo saat ini berfokus pada pemeliharaan fungsi jalan agar lalu lintas tidak terhenti.
Untuk rencana jangka panjang, diperlukan mitigasi yang lebih komprehensif dengan melibatkan semua pemangku kepentingan.
“Mitigasi dan pencegahan adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko dan dampak bencana melalui langkah-langkah sebelum, saat, dan sesudah bencana terjadi,” tutur Jemmy. (ROY/DWO)































