SUBANG, LINTAS – Pembangunan Jalan Tol Akses Patimban terus menunjukkan progres signifikan. Salah satu segmen penting, yakni Paket 4, kini tengah dikebut pengerjaannya oleh kontraktor pelaksana WIKA-ADHI JO (Wijaya Karya dan Adhi Karya Joint Operation). Paket ini merupakan bagian paling ujung dari jaringan tol akses menuju Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat.
“Paket Patimban 4 ini adalah segmen paling ujung dan langsung terkoneksi ke jalan akses pelabuhan. Panjangnya sekitar 3,5 kilometer,” kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Bebas Hambatan 1 Provinsi Jawa Barat, Andika Mulrosha, saat ditemui tim Lintas di lokasi proyek, Jumat (23/5/2025).
Kendala Bukan di Konstruksi, Tapi Lahan
Menurut Andika, proses konstruksi berjalan relatif lancar. Tantangan utama justru terletak pada pengadaan lahan yang belum seluruhnya tuntas.
“Sejauh ini, kendala utama kami adalah pembebasan lahan yang masih belum 100% selesai. Namun kami tetap optimistis dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai target,” tambahnya.
Paket 4 dari Tol Akses Patimban akan menjadi solusi transportasi yang efisien dari dan menuju Pelabuhan Patimban.

Akses ini menghubungkan langsung dengan Tol Cipali, sehingga kendaraan logistik tidak perlu lagi melalui jalan provinsi dan kabupaten yang berliku dan memakan waktu.
“Dulu, untuk menuju Pelabuhan Patimban dari Cipali harus memutar melalui Pandura, Pamanukan, hingga Begaden. Sekarang, dengan tol ini, akses sepanjang 37 km bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 37 menit,” jelas Andika.
Ia berharap keberadaan jalan tol ini akan mempercepat distribusi barang serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional.
“Semoga Paket 4 ini bisa segera beroperasi dan memberikan manfaat nyata, khususnya bagi pelabuhan, serta berdampak positif pada perekonomian Subang, Jawa Barat, dan Indonesia,” pungkasnya.
Sementara itu Yasir Fajri Arrofiq, selaku General Superintendent (GS) proyek dari WIKA-ADHI JO, menambahkan bahwa meskipun proyek ini berada di lahan datar, tantangannya tetap ada—terutama terkait sistem drainase.
Baca Juga: 4 Proyek Strategis Ditawarkan Lewat Skema KPBU di 2025, Investor Siap-Siap!
“Berbeda dengan proyek saya sebelumnya di Kisumdawu yang berbukit dan rawan longsor, di sini justru tantangannya adalah dataran sawah yang tergenang air. Karena kemiringan lahan sangat kecil, maka aliran air sulit mengalir ke saluran existing,” ungkap Yasir.
Masalah ini berpotensi menimbulkan sedimentasi dan genangan air, sehingga pemeliharaan ke depan harus lebih intensif.
“Kami berkoordinasi dengan Kementerian PU dan stakeholder seperti BBWS untuk memastikan air dialirkan ke sungai-sungai terdekat melalui saluran yang aman, seperti saluran Asdem,” tambah Yasir. (PAH/ROY/CHI)





