Home Fitur Mengelola Sumber Daya Air dengan Smart Water Management

Mengelola Sumber Daya Air dengan Smart Water Management

Share

Air adalah sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan di Bumi. Namun, pengelolaan sumber daya air yang tidak efisien dan berkelanjutan dapat mengakibatkan berbagai masalah, seperti kekurangan air, banjir, dan pencemaran air.

Oleh karena itu, mengutip Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, diperlukan strategi pengelolaan sumber daya air yang cerdas dan inovatif, salah satunya adalah dengan menggunakan Smart Water Management (SWM).

Saat menghadiri Workshop Hari Ulang Tahun Ke-34 Perum Jasa Tirta I dengan tema “Transformasi BUMN Pengelola Sumber Daya Air yang Berkelanjutan” di Kota Malang, Jawa Timur, Senin (19/2/2024), Basuki mengatakan,  bahwa perusahaan air minum di Indonesia sudah mulai menerapkan SWM.

“Saya bangga dan berterima kasih karena, menurut saya, PJT I telah mulai mengimplementasikan Smart Water Management dalam transformasinya. Saya juga titip kepada PJT I untuk selalu mengutamakan aspek operasi dan pemeliharaan,” kata Basuki dikutip dari rilis pers Kementerian PUPR, Selasa (20/2/2024).

Dari berbagai sumber, Lintas menemukan bahwa SWM merupakan pendekatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mengelola sumber daya air. Ini melibatkan penggunaan sensor, perangkat lunak, dan teknologi lainnya untuk memantau, mengendalikan, dan mengoptimalkan penggunaan air.

Beberapa cara SWM dapat membantu dalam pengelolaan sumber daya air, pertama, pemantauan real-time. Ada sensor dan perangkat IoT dapat digunakan untuk memantau kondisi sumber daya air secara real-time.

Sebagai gambaran, penelusuran Lintas dari berbagai sumber, sensor dan perangkat IoT dalam Smart Water Management berperang penting. Sensor dan perangkat IoT dipasang pada pipa dan pompa untuk mengumpulkan data real-time tentang suhu air, tingkat air, aliran air, dan lainnya. Sensor ini dapat mencakup sensor aliran, ultrasonik, salinitas, suhu, konduktivitas, tekanan, kelembaban, dan sensor cahaya.

Ilustrasi: Salah satu antarmuka pemantauan air menggunakan Smart Water Management dengan Internet of Things (IoT). | Dok. www.trendhunter.com

Kemudian data yang dikumpulkan oleh sensor dan perangkat IoT kemudian ditransmisikan melalui Internet ke server cloud untuk diproses dan dianalisis. Setelah itu, di server, data diproses dan dianalisis. Pengembang sering menggunakan alat AI yang dapat mendeteksi pola dalam data yang terkumpul, menentukan penyimpangan dari norma, serta membuat prediksi yang akurat.

Setelah diproses, data tersebut menjadi tersedia untuk karyawan dari otoritas yang relevan atau perusahaan. Informasi ini dapat digunakan untuk mendeteksi pola dalam konsumsi air dan menganalisis penggunaan air di wilayah yang berbeda.

Informasi ini dapat digunakan untuk mendeteksi kebocoran, mengukur kualitas air, dan memantau tingkat air di reservoir dan sungai.

Ilustrasi: Penerapan Smart Water Management untuk mengontrol kondisi air secara real time.

Kedua, prediksi dan peringatan dini. Dengan menggunakan data historis dan algoritma machine learning, sistem dapat memprediksi pola penggunaan air dan memberikan peringatan dini tentang potensi kekurangan air atau banjir.

Ketiga, optimalisasi penggunaan air. SWM dapat membantu dalam mengoptimalkan penggunaan air dengan mengendalikan aliran air berdasarkan permintaan dan ketersediaan.

Keempat, pendidikan dan kesadaran masyarakat. Melalui aplikasi dan platform digital, masyarakat dapat diberikan informasi tentang pentingnya penghematan air dan cara-cara untuk melakukannya.

Implementasi

Dikutip dari Journal.unnes.ac.id,  pelaksanaan konsep SWM sedang diintegrasikan dengan kearifan lokal sebagai upaya konservasi sumber daya air. Meskipun konsep SWM belum sepenuhnya diterapkan dalam pengelolaan sumber daya alam, keberadaan konsep ini dapat diintegrasikan dengan kearifan lokal masyarakat, dalam upaya konservasi sumber daya air.

Masih menurut Journal.unnes.ac.id, Indonesia memiliki potensi air hujan sebesar 308 miliar/meter kubik yang masuk ke cekungan air tanah, memiliki bendungan dengan kinerja baik sebesar 21,28 persen, dan memiliki lahan rawa sebesar 10,8 juta hektar yang dapat dikembangkan untuk menampung air.

Namun, tantangan utama adalah penurunan ketersediaan air menjadi 1.200 meter kubik per tahun pada 2020, perlambatan pengembangan infrastruktur dalam pengelolaan sumber daya air, kurangnya penyimpanan yang tersedia untuk aliran air hujan, dan implementasi eco-efficient yang kurang optimal.

Penerapan di perusahaan air, seperti Perum Jasa Tirta I, menjadi salah satu contoh implementasi SWM.

Beberapa perusahaan air lainnya telah mulai menerapkan sistem SWM Sistem ini bertujuan sehingga bisa mengontrol penggunaan air secara efektif dan efisien.

Dengan demikian, meskipun masih ada tantangan yang harus dihadapi, pelaksanaan SWM di Indonesia menunjukkan prospek yang menjanjikan untuk pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan dan efisien.

Perlu diingat, pada 18-24 Mei 2024 Indonesia menjadi tuan rumah World Water Forum (WWF) Ke-10. Acara yang digelar di Bali ini menunjukkan bahwa di tingkat global, Indonesia mengambil peran dalam pengelolaan air.

Air sangat berguna bagi kehidupan manusia. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, air juga bisa menjadi sumber bencana bagi kehidupan manusia. (HRZ)

Baca Juga: Menjelang WWF-10 Bali, Indonesia Siapkan Rancangan Kesepakatan Bersama

Oleh:

Share