Sore itu, pukul 16.50, Selasa (9/1/2024), Lintas menunggu keluarga, yang naik TJ dari halte CWS, di Halte Adam Malik–sekarang namanya berubah menjadi Halte Petukangan Utara, Ciledug Raya. Persis di depan Kampus Budi Luhur. Dengan memantau Live Location yang dikirimkan via WhatsApp, Lintas bisa memantau yang ditunggu sudah sampai di mana.
Suasana begitu ramai. Penumpang yang pulang kerja turun bergegas dari bus Transjakarta. Empat petugas Transjakarta berseragam lengkap dengan seragam biru, tampak sibuk mengatur kendaraan agar bisa memberi waktu para penumpang dari halte Transjakarta bisa menyeberang.

Dua orang petugas dari kepolisian tampak terus berkoordinasi dengan pegawai Transjakarta untuk mengamankan penumpang. Kehadiran petugas ini sangat dirasakan manfaatnya oleh para pengguna Transjakarta. “Saya waswas juga menyeberang karena kendaraan sangat ramai. Para petugas yang mengatur lalu lintas itu sangat membantu,” kata salah seorang penumpang, yang langsung mampir di salah satu gerai penjual makanan di depan halte itu.
Turun dari halte Transjakarta Petukangan Utara, penumpang sudah langsung “dihadang” oleh jejeran gerobak penjual aneka jajanan. Ada yang jualan nasi uduk, gorengan, cendol, bakso, batagor, dan banyak lagi.

Tidak itu saja, keriuhan bertambah dengan banyaknya penjemput anggota keluarganya, termasuk para ojek nondaring. Para pengojek ini bersiap di atas sepeda motor mereka dalam posisi mesin hidup saat tahu para penumpang Transjakarta turun.
“Saya sudah mengojek sejak dua tahun lalu. Ya, bisa dapat Rp 100.000 sehari. Bisa juga hanya Rp 50.000. Tergantung ada rezeki,” kata Sakri, warga yang mengaku tinggal di Ceger, Tangerang Selatan. Sakri yang sekarang 53 tahun itu mengaku pekerjaan yang termudah yang bisa ia lakoni untuk saat ini adalah mengojek. Ia merasakan betul, persaingan dengan ojek digital sangat terasa. Itu makanya, ojek digital tidak diperbolehkan mengetem atau menunggu penumpang tepat di ujung penyeberangan penumpang yang keluar dari halte.
“Belum lagi harus berebut juga dengan puluhan anggota ojek lain. Ya, mesti sabar. Kalau ada sewa yang mau naik, ya Alhamdullilah,” kata ayah tiga anak ini. Ia bercerita, ada orang yang tugas di Bali, kalau pas di Jakarta selalu memakai jasanya untuk mengantar di berbagai tempat di Jakarta. “Tapi orangnya sudah lama enggak pulang nih. Kalau dia datang, berarti penghasilan saya sudah terlihat berapa itu, ha-ha,” kata Sakri, sambil tertawa.
Penjual Makanan
Di sepanjang bahu jalan, yang dibatasi pagar Gedung Auto2000, di depan Halte Petukangan Utara, para penjaja makanan dan minuman mengais cipratan rezeki dari para penumpang Transjakarta. Sejumlah perempuan karyawan terlihat langsung menuju gerai Nasi Uduk yang menggelar jajanannya di atas sebuah meja. Sambil melayani pembeli, suami istri itu terlihat sambil mengusir lalat dengan sebilah bambu yang ujungnya diikatkan tas kresek putih. Lalat terlihat ramai di setiap wadah makanan yang dibiarkan terbuka tanpa tutup itu.

Lintas, sambil menunggu, mencoba menyantap nasi uduk dengan lauk ikan teri dan bihun. Tak sedikit yang mampir di gerai nasi uduk itu membeli dengan dibungkus. Ada yang membeli hanya berupa lauk saja, ada juga yang paket lengkap dengan nasi. Si ibu penjual nasi uduk mengaku sudah lebih dari dua tahun juga berjualan di tempat itu.
Saat ditanya apakah dia menyewa lapak itu, ia menjawab, iya. Ia tidak bersedia menjawab berapa nominal sewa yang harus dia bayar. “Adalah Pak. Ada yang dibayar untuk kelurahan, ada yang dibayar untuk ormas,” katanya, sambil menyebut nama satu ormas.
Penjual nasi uduk ini sangat bersyukur bisa jualan di situ. Sebelum jualan di Halte Transjakarta Petukangan Utara, dia berjualan di rumahnya saja, di daerah Kreo, Tangerang Selatan. “Alhamdullilah, di sini lancar. Dagangan selalu laris,” katanya.
Penjual Batagor juga mengamini. Dia juga merasakan bahwa di tempat ia menjajakan dagangannya sekarang cukup memberi keuntungan. “Karena selalu ramai kali ya.” kata penjual batagor.
Pak Sakri dan para pedagang merasakan betul dampak kehadiran Transjakarta di Koridor 13. Para penumpang juga terbantu dengan tersedianya berbagai jajanan dan transportasi yang bisa membawa mereka langsung ke rumah begitu turun dari halte.
Ketika layanan transportasi makin baik, artinya banyak penumpang yang memilihnya karena mereka menginginkan keamanan dan kenyamanan. Kalau penumpangnya banyak, itu berdampak pada penjaja makanan di sekitar Halte Transjakarta.
Hanya, pemerintah daerah tidak boleh menutup mata juga untuk tetap memelihara keindahan dan kebersihan. Kesan jorok dan semrawut yang sudah mulai terlihat, jika tidak segera ditangani, akan mengurangi kenyamanan siapa pun. (HRZ)
Baca Juga: Pak Udin, Nyaman Mudik Pakai Kereta Api



















