Kepala BPJN Wamena Zepnat Kambu bersama Kasatker P2JN Wamena Fadholi Karim sukses membina 14 Kelompok Tani dari Distrik Bpiri, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, sehingga mampu menghasilkan kopi sebanyak 12 ton dalam setahun.
Sebagai Kepala BPJN Wamena Zepnat Kambu bertugas untuk Merencanakan, Membangun dan Mengawasi Jalannya Pembangunan Jalan dan Jembatan Trans Papua di Papua Pegunungan.
”Selama ini, kami merencanakan dan membangun Papua yang dikenal dengan Jalan Trans Papua. Kami membangun secara kontinu untuk menghubungkan dari satu daerah ke daerah yang lain. Terutama untuk menghubungkan dari pelabuhan menuju ke daerah pelosok di Papua Pegunungan,” tutur Zepnat.

(Kepala BPJN Wamena Zepnat Kambu meninjau perkebunan kopi di ruas Jalan Wamena-Pyramid-Tiom. | Dok. BPJN Wamena)
Papua Pegunungan merupakan daerah yang terisolasi, sehingga semua bahan pangan, sandang, papan harus dikirim melalui udara, khususnya daerah Kabupaten Jayawijaya sebagai ibu kota Provinsi Papua Pegunungan sekarang.
Kabupaten Jayawijaya berjarak sekitar 575 km dari Jayapura. Dan pada tahun 2015 sebagian besar wilayahnya sudah menjadi hutan kembali, sehingga tidak ada jalan yang menghubungkan dari Jayapura ke Wamena.
”BBPJN Jayapura mulai merintis untuk melakukan pembangunan jalan Trans Papua pada tahun 2017-2018. Ketika jalan itu terbuka di ruas jalan Jayapura-Wamena ini banyak masyarakat yang berpindah. Pada awalnya tinggal di gunung, mereka mulai turun mendekati daerah di pinggir ruas-ruas Jalan Trans Papua Jayapura-Wamena,” jelasnya.
Selama membangun dan meningkatkan jalan dan jembatan menjadi lebih bagus, di mana banyak lahan di kiri-kanan ruas Jalan Trans Papua yang merupakan lahan tidur dan tidak menghasilkan apapun.
Hal ini yang membuat Kepala BPJN Wamena Zepnat Kambu bersama dengan Kasatker P2JN Fadholi Karim yang akrab disapa Doli yang bertugas untuk membangun Papua melalui bidang perencanaan dan pengawasan di Balai Pelaksanaan Jalan Nasional, menginisiasi untuk membina Masyarakat yang berada di sekitar jalan Nasional BPJN Wamena yang dikenal dengan Jalan Trans Papua untuk menanam kopi.

(Kasatker P2JN Wamena Fadholi Karim memberikan penyuluhan kepada kelompok petani kopi di Wamena.| Majalah Lintas/Firdaus DH)
“Sejak 2017, kami berusaha mengajak masyarakat di sekitar pegunungan untuk mencoba tanam pohon yang bisa menghasilkan demi kehidupan mereka sehari-harinya” ujar Doli.
”Kami memang dari awal meniti karier di Bina Marga, dari tahun 2010 sudah diberikan motivasi dan pengetahuan untuk membangun Papua. Jadi, kami memang diberikan keahlian di bidang perencanaan untuk pengembangan Papua dan Papua Barat. Kemudian di tahun 2015, kami baru menetap di Jayapura,” kata Doli kepada Majalah Lintas.com.
Setelah menetap di Jayapura, Doli sering mendapat tugas ke lapangan di bidang perencanaan, agar mengetahui dan memahami semua ruas Jalan Nasional dan Non-Nasional di Papua.
Hal itu membuat ia sering dikirim ke beberapa daerah pelosok, seperti Asmat, Wamena, Pegunungan Bintang, Puncak Jaya dan Paniai.
Selain itu, ia memiliki keahlian dalam bidang manajemen untuk mengelola kopi dan membina petani kopi di sekitar Jalan Nasional di Wamena.
”Salah satu yang kami tanam adalah pohon kopi. Kenapa pohon kopi ini kami tanam juga? Karena Wamena itu terletak di ketinggian lebih dari 1.000 kaki di atas permukaan laut. Dan itu cocok untuk tanam kopi Arabica, dan juga pohon kopi ini dikenal mudah perawatannya. Tidak sulit juga untuk merawat pohon kopi,” kata Doli.
Kopi yang ditanam di Wamena biasanya panen pada bulan Mei sampai Agustus. Sambil menunggu panen kopi, di sela-selanya ditanami pohon-pohon lain seperti buah-buahan yaitu nanas, jeruk dan sayur mayur seperti cabai dan sayuran lainnya.

(Kasatker P2JN Wamena Fadholi Karim memberi penyuluhan kepada petani kopi. | Majalah Lintas/Firdaus DH)
”Memang menanam kopi ini membutuhkan waktu 4 sampai 5 tahun kemudian untuk bisa menghasilkan kopi yang bagus. Dan syukur alhamdulillah sejak kami mulai tahun 2017, sehingga pada 2020-2021 mulai menghasilkan produksi kopinya. Bahkan, pada tahun lalu, kami bisa menghasilkan 10 ton biji hijau Kopi. ami mulai melakukan pengiriman biji kopi hijau ini ke berbagai daerah di Indonesia. Dan kami mulai mengenalkan kopi Papua ini, terutama di wilayah lokal dahulu yaitu Jayapura,” jelasnya.
Selama ini di Jayapura, banyak sekali coffee shop mengambil kopi dari luar Papua yaitu Pulau Jawa.
Padahal, Wamena sejak dahulu merupakan penghasil kopi, tapi masih diragukan kualitas dan harganya sangat mahal. Untuk itu, Kepala BPJN Wamena, Zepnat Kambu dan Doli mulai membina petani kopi di Distrik Bpiri.
“Kami punya kelompok petani binaan. 14 kelompok tani ini kami ajari dan bina bagaimana cara dari mulai tanam, merawat pohon kopi, sampai dengan proses dari mulai panen sampai menjadi biji hijau kopi yang baik,” tutur Doli.
Dari 10 Ton Menjadi 12 Ton Kopi
Usaha tanam kopi itu akhirnya berbuah manis. ”Alhamdulillah, kami bisa menjual kopi sebanyak 10 ton sampai akhir tahun 2022. Tahun ini, panen kami sudah menghasilkan 12 ton dan sekarang sudah terjual hampir habis dan tinggal 1 ton,” tuturnya.
Kopi itu disuplai ke berbagai daerah yakni Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Bali dan Sulawesi.
Produksi kopi ini dikelola dengan manajemen yang baik dan mampu memberikan pengetahuan bagaimana cara mengelola produksi kopi yang baik dan berkualitas kepada masyarakat petani kopi di Papua.
Sehingga hasilnya bermanfaat untuk kehidupan mereka sehari-hari serta untuk biaya sekolah anak-anaknya.
Perjuangan Tak Mudah
Perjuangan untuk menghasilkan kopi berkualitas di Wamena tak mudah. Dikarenakan pada tahun 2017, di mana kopi yang dihasilkan kualitasnya masih kurang baik.
“Kami pernah tawarkan kopi Papua ke Jakarta. Kami sempat dibilang ini kopi Papua harganya sangat mahal tetapi kualitasnya kurang baik,” lanjut Doli.
Doli pun mulai mempelajari bagaimana cara mendapatkan pengetahuan produksi kopi yang berkualitas. Ia akhirnya mengenal dua organisasi yang bisa memberikan sertifikasi secara internasional yaitu SCA (Specialty Coffee Association) dan CQI (Coffee Quality Institute). CQI merupakan wadah belajar mengelola kopi secara berkualitas.

(Sertifikat keahlian profesional mengelola kopi Fadholi Karim. | Dok. pribadi)
Ia pun mengetahui mekanisme kopi dari hulu sampai hilir. “Di hulu namanya Q-processor, sedangkan di hilir Q-grader. Semuanya untuk memproses kopi menjadi lebih baik. Juga menghindari hama-hama terhadap biji kopi,” ungkapnya.
”Akhirnya kami coba menerapkan pengetahuan yang didapatkan di Wamena, di Bpiri khususnya, sehingga kami bisa mendapatkan biji kopi green bean yang terbaik. Kemudian di tahun 2022, kami mengambil sertifikasi lagi di CQI (Q-Processor Professional), agar lebih profesional lagi di dalam memproses produksi kopi,” jelasnya.
Doli juga mengambil sertifikasi SCA (Specialty Coffee Association) sampai tersertifikasi Brewing (menyeduh), Sensory (mengecap/mencicip) serta Roasting (menyangrai) dari SCA.

(Sertifikat keahlian Roasting Fadholi Karim. | Dok. pribadi)
Doli setelah mendapatkan ilmu pengetahuan tentang kopi bisa mengajarkan secara profesional kepada para petani untuk menghasilkan kopi dengan kualitas yang lebih baik atau menjadikan kopi specialty.
Dari panen kopi sebanyak 10 ton pada tahun 2022, kemudian pada tahun 2023 menjadi 12 ton dan sudah habis terjual, Doli meyakini produksi kopinya telah mengalami peningkatan kualitas atau mutu.
“Karena dengan peningkatan mutu ini, para petani bisa mempertahankan harga dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujar Kepala BPJN Wamena, Zepnat Kambu. (FDH/EDW)
Baca Juga: Kementerian PUPR Tingkatkan Konektivitas 18 Pulau Terluar dari Aceh hingga Papua































