Home Fitur Ketika Warga Petobo Maknai Cinta Lingkungan lewat Sampah

Ketika Warga Petobo Maknai Cinta Lingkungan lewat Sampah

Share

Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan masih lemah. Dibutuhkan usaha ekstra untuk mengajak masyarakat mengatasi persoalan sampah di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah.

Kelurahan Petobo merupakan salah satu wilayah yang paling parah terdampak pascabencana gempa, tsunami, dan likuefaksi tahun 2018. Setelah lebih kurang empat tahun pascabencana pemerintah pusat dan daerah terus bekerja keras untuk memulihkan kondisi. Upayanya, antara lain, melalui program Palu Bangkit.

Peluang bangkit bagi korban tsunami dan likuefaksi di Petobo bisa datang dari mana saja. Termasuk lewat pengelolaan sampah.

Latar belakangnya, semakin meningkatnya serta pertambahan jumlah produk dan pola konsumsi masyarakat produksi sampah menjadi persoalan yang tidak bisa dibiarkan.

Kondisi ini memunculkan kreativitas warga setempat dengan membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Kelompok ini pun menjadi garda terdepan untuk mengatasi persoalan persampahan di Petobo.

Ketua Tempat Pengelolaan Sampah 3R KSM Buvu Bionga, Kelurahan Petobo Suharyadi Sutjipto, mengatakan, TPS 3R adalah program yang membangun kepedulian masyarakat terdapat pengelolaan sampah dan lingkungan di sekitarnya.

“Alhamdulillah, saya bergerak sejak 16 Juni 2022. Kami sudah mengadakan pemilahan dengan pengolahan sampah. Hasilnya berupa kompos dan pupuk cair,” ujar Suharyadi yang juga penggagas Destinasi Wisata Sejarah Likuefaksi Kelurahan Petobo, Kamis (6/4/2023).

TPS 3R merupakan sistem pengelolaan sebagai solusi persoalan sampah dan dampak yang ditimbulkannya, terutama di kawasan wisata. Sementara KSM adalah wadah swadaya dalam upaya merangkul masyarakat supaya memiliki kesadaran untuk bergerak mengatasi persoalan sampah dilingkungannya.

“Tidak semua orang mendapatkan amanah program, apabila tidak peduli tidak akan mungkin kegiatan terlaksana dengan baik,” tegasnya.

Pengelolaan Sampah

Sejak diluncurkannya program TPS 3R hanya baru sekitar 61 keluarga yang tergerak untuk mengikuti program tersebut dari target 400 keluarga.

“Namun, sekarang ini pelanggan yang kami layani sudah mendekati kuota, yaitu 315 keluarga. Pada November 2022, dengan biaya mandiri, kami mengikuti Silaturahmi Nasional di Subang, Jawa Barat. Acara itu selama lima hari dengan para penggiat pengolahan daur ulang sampah. Secara serentak juga Dinas Lingkungan Hidup menyerahkan 4 unit alat pengelolaan sampah. Alat itu meliputi alat pengayak, alat press, alat pengupas label, dan alat pencacah,” lanjut Suharyadi, bangga.

Suharyadi menambahkan, gerakan kepedulian terhadap sampah juga mulai diberdayakan melalui gerakan-gerakan peduli sampah di sejumlah sekolah. Mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA).

“Ada dua kegiatan yang kami canangkan, yaitu sedekah sampah dan bank sampah. Bagi anak sekolah yang ingin menabung sampah bisa disimpan lewat bank sampah. Akan tetapi, apabila hanya ingin menyumbang sampah berarti cukup lewat sedekah sampah saja. Nanti dananya bisa digunakan di lingkungan sekolah tersebut. Apabila sekolah tidak mau mempergunakan, dana akan dilimpahkan kepada yang membutuhkan bantuan,” paparnya.

Sampah-sampah yang disedekahkan di bank sampah, terdiri dari sampah organik berasal dari sisa organisme hidup. Sampah organik itu, misalnya sisa sayuran dan buah-buahan yang dibuang. Adapun sampah anorganik, seperti limbah botol plastik, kardus, plastik pembungkus makanan.

Dari daur ulang sampah plastik di Kelurahan Petobo maupun Kota Palu sudah menghasilkan ekonomi kreatif, seperti pembuatan paving. “Namun, kalau untuk daur ulang bahan-bahan yang lain, kami masih membutuhkan bantuan peralatan dari pabrikan. Hal itu melalui kerja sama dan mereka menentukan berapa nilai. Dengan catatan mereka juga memberikan alih teknologi dengan bantuan alat,” kata Suharyadi.

Hari Peduli Sampah

Peristiwa di TPA Leuwigajah beberapa tahun yang lalu, menjadi perhatian dan fokus ke pengelolaan sampah yang terintegrasi. Namun, dampak yang lebih besar adalah terjadinya perubahan terhadap lingkungan dan ekosistem kehidupan global, yaitu perubahan iklim.

Tahun 2023 ini, Hari Peduli Sampah Nasional mengambil tema “Tuntas Kelola Sampah untuk Kesejahteraan Masyarakat”.

Seperti ditegaskan Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Rosa Vivien Ratnawati, Februari 2023. “Tema tersebut sebagai konstelasi perjalanan panjang sistem pengelolaan sampah di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Vivien, lewat tema ini pihaknya dan seluruh pemangku kepentingan mentuntaskan persoalan sampah sesuai target, yaitu penanganan sampah 70 persen, pengurangan 30 persen pada 2025. Kebijakan itu dikenal sebagai Kebijakan Strategis Nasional dan Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017.

Kendaraan yang digunakan untuk menjemput sampah di hunian tetap. | Dokumentasi Suharyadi Sutjipto

Menurut Suharyadi, bantuan kendaraan dari PT Nindiya Karya, yang menangani Huntap di Kawasan Kelurahan Petobo, membuat mereka bisa menjemput sampah seminggu 3 kali, berarti 2 hari sekali. (PAH)

Oleh:

Share