JAKARTA, LINTAS – Antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali, mencapai sekitar 12 kilometer pada Jumat (4/9/2026). Kementerian Perhubungan menambah tiga kapal besar berkapasitas sekitar 5.000 GT untuk mempercepat arus penyeberangan.
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan melalui Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jawa Timur menyiapkan berbagai langkah untuk mengurai kepadatan di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Aan Suhanan, mengatakan dua kapal besar akan didatangkan dari Pelabuhan Padangbai, Bali, sedangkan satu kapal lainnya berasal dari Pelabuhan Merak, Banten.
“Untuk mempercepat pengangkutan muatan, akan dilakukan penambahan operasional kapal besar sebanyak dua unit dari Pelabuhan Padangbai dan satu unit dari Pelabuhan Merak,” ujar Aan dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).




Skema Tiba, Bongkar, Berangkat
Selain menambah kapal, Kemenhub tetap menerapkan skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk. Skema tersebut ditujukan untuk memangkas waktu sandar kapal sehingga kendaraan dapat segera keluar-masuk kapal dan perjalanan dapat dilanjutkan.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Kemenhub Pastikan Operasional Bandara Masih Normal
“Untuk mempercepat proses bongkar muat kami terapkan skema TBB. Skema ini juga mempersingkat waktu sandar kapal dan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas layanan sekaligus mempercepat pergerakan kendaraan secara bertahap,” kata Aan.
Menurut dia, kapal yang tiba di Pelabuhan Gilimanuk dari Ketapang maupun sebaliknya akan langsung melakukan pembongkaran muatan dan kembali berangkat untuk mengangkut kendaraan berikutnya.
Kapal di Lintasan Alternatif Ditambah
Kemenhub juga berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kepolisian Daerah Jawa Timur, Pemerintah Daerah Jawa Timur, serta PT ASDP Indonesia Ferry untuk menambah operasional kapal pada lintasan alternatif.
Dua kapal akan dioperasikan pada lintasan Tanjung Wangi-Lembar dan Jangkar-Lembar sebagai salah satu upaya mengalihkan sebagian pergerakan kendaraan dari lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Selain itu, antrean kendaraan juga dipisahkan berdasarkan berat muatan. Pengaturan dilakukan melalui sistem stikerisasi untuk mengarahkan kendaraan ke dermaga yang sesuai dengan kapasitas daya dukungnya.
“Kami juga menerapkan pemisahan antrean kendaraan berdasarkan berat muatan melalui stikerisasi. Kendaraan dengan berat ≤35 ton diarahkan ke dermaga dengan daya dukung ≤35 ton dan dengan berat >35 ton diarahkan ke LCM atau dermaga dengan daya dukung minimal 50 ton,” ujar Aan.
Revitalisasi Dermaga Dipercepat
Sejumlah langkah lain juga disiapkan untuk mengatasi kepadatan. Di antaranya mempercepat revitalisasi Dermaga II Ketapang, menyiapkan buffer zone alternatif, serta mengaktifkan Pelabuhan Jangkar untuk kendaraan logistik tujuan Pelabuhan Lembar.
Pelabuhan Jangkar juga disiapkan untuk melayani kendaraan kecil yang menuju Pelabuhan Celukan Bawang.
Kepadatan di Ketapang-Gilimanuk dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi peningkatan volume kendaraan logistik. Di sisi lain, kapasitas angkut penyeberangan turut terdampak pekerjaan peningkatan kapasitas Dermaga MB II, dari sebelumnya 35 ton menjadi 50 ton.
Jumlah kapal yang beroperasi di lintasan tersebut juga turun dari kondisi normal 28 unit menjadi 23 unit. Sebanyak 14 kapal beroperasi di Dermaga MB, sedangkan sembilan kapal berada di Dermaga LMC.
Kondisi serupa terjadi pada lintasan Tanjung Wangi-Banyuwangi menuju Gili Mas, Lombok Barat. Dari kondisi normal empat kapal, saat ini hanya dua kapal yang beroperasi.
Sementara itu, Dermaga Bulusan yang menjadi salah satu dermaga penyangga juga masih mengalami kerusakan sehingga belum dapat digunakan secara maksimal.
Pengguna Jasa Diminta Ikuti Arahan Petugas
Aan mengimbau pengguna jasa penyeberangan untuk mengikuti pengaturan antrean dan arahan petugas di lapangan selama kondisi kepadatan berlangsung.
“Kami memahami kondisi saat ini adanya kepadatan sehingga masyarakat sebagai pengguna layanan penyeberangan harus menunggu lebih lama dan kami berharap masyarakat tetap mengikuti pengaturan antrean yang berlaku,” katanya.
Ia juga meminta pengguna jasa bekerja sama dengan petugas untuk menjaga kelancaran, ketertiban, dan keselamatan selama proses antrean hingga penyeberangan.
“Kami mengimbau juga para pengguna jasa penyeberangan untuk selalu ikuti arahan petugas, kerja sama masyarakat sangat dibutuhkan untuk kelancaran dan keselamatan penyeberangan,” pungkas Aan. (CHI)
Baca Juga: KAI Properti Tawarkan Hunian Strategis di KAI Expo 2026, Cicilan Mulai Rp 1 Juta












