JAKARTA, LINTAS – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mulai mengkaji pembangunan trase atau jalur baru di kawasan Jalan Kelok 44, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi ancaman longsor yang terus membayangi ruas jalan tersebut.
Langkah tersebut disampaikan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo usai meninjau langsung lokasi longsor di Kelok 44 pada Jumat (31/7/2026). Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, kondisi lereng dinilai sudah sangat jenuh air sehingga berpotensi memicu longsor susulan apabila tetap mengandalkan penanganan pada trase jalan yang ada.
Menurut Dody, kondisi geologi di kawasan tersebut perlu dikaji secara menyeluruh sebelum pemerintah menentukan bentuk penanganan permanen. Salah satu opsi yang dinilai paling memungkinkan adalah membangun trase baru yang lebih aman.
“Kelihatan lahan di sini sudah penuh air, sudah jenuh air. Saya khawatir terjadi longsor lagi. Karena itu menurut saya lebih baik mulai dikaji kemungkinan membuat trase baru. Kita cari trase yang terbaik terlebih dahulu, dilakukan pengeboran tanah, investigasi geoteknik, kemudian disusun desainnya. Setelah itu baru diputuskan metode penanganan maupun skema pendanaannya,” kata Dody dikutip Sabtu (1/8/2026).




Tidak Bisa Instan
Ia menjelaskan, pembangunan jalur baru memang tidak dapat dilakukan secara instan karena harus diawali dengan serangkaian investigasi teknis, mulai dari pengeboran tanah, survei detail lapangan, hingga penyusunan desain teknis yang komprehensif. Namun, langkah tersebut dinilai lebih tepat apabila kondisi trase eksisting sudah tidak lagi memenuhi aspek keamanan.
“Kita harus memastikan solusi yang dipilih benar-benar aman dan berkelanjutan. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” tegasnya.
Jalan Kelok 44 merupakan ruas jalan milik Pemerintah Daerah yang menghubungkan kawasan dataran tinggi Bukittinggi dengan wilayah sekitar Danau Maninjau hingga Lubuk Basung. Jalan sepanjang sekitar 35 kilometer itu memiliki 44 tikungan tajam dengan karakteristik medan berbukit dan lereng curam, sehingga menjadi salah satu jalur strategis sekaligus kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana geologi cukup tinggi.
Dody menilai, penanganan longsor di Sumatera Barat membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif karena karakteristik tanah dan topografi wilayah yang kompleks. Oleh sebab itu, Kementerian PU siap memberikan dukungan teknis kepada pemerintah daerah agar solusi yang dipilih benar-benar efektif dan berkelanjutan.
“Kami memahami persoalan tanah di Sumatera Barat memiliki tantangan tersendiri. Pemerintah Pusat siap membantu, tetapi penanganannya harus diawali dengan kajian teknis yang komprehensif agar solusi yang diambil benar-benar tepat,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian PU akan segera melaksanakan investigasi geoteknik melalui pengeboran tanah, survei detail, serta penyusunan desain teknis untuk menentukan alternatif trase terbaik. Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menetapkan bentuk penanganan, kebutuhan pendanaan, hingga pelaksanaan pembangunan. (CHI)
Baca Juga: Kementerian PU Tangani 294 Titik Kekeringan, Fokus Jaga Air Irigasi dan Sawah















