JAKARTA, LINTAS – Kekeringan mulai mengancam lahan pertanian di Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Untuk menjaga pasokan air bagi tanaman dan mencegah potensi gagal panen, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI menyalurkan air irigasi menggunakan pompa ke area persawahan Desa Koto Tuo, Kecamatan Tanah Kampung, Sabtu (22/8/2026).
Penanganan dilakukan mulai pukul 09.00 WIB dengan memanfaatkan air dari Sungai Batang Sangkir yang berjarak sekitar 150 meter dari area persawahan. Air dipompa menuju lahan pertanian yang terdampak kekeringan dan membutuhkan pasokan air tambahan.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kehidupan masyarakat sekaligus keberlangsungan sektor pertanian. Karena itu, pemerintah perlu bergerak cepat ketika kekeringan mulai mengancam kebutuhan air masyarakat.
“Air merupakan fondasi penting bagi kehidupan dan pembangunan. Karena itu, ketika terjadi kekeringan, pemerintah harus bergerak cepat memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang agar masyarakat lebih tangguh menghadapi kekeringan,” kata Dody dikutip Senin (24/8/2026).



Layani 4,9 Hektar Sawah
Dalam penanganan tersebut, BWS Sumatera VI mengoperasikan satu unit mesin pompa air irigasi yang dilengkapi satu set selang hisap dan satu set selang buang.
Sistem pemompaan tersebut melayani area persawahan seluas kurang lebih 4,90 hektar dan memberikan manfaat kepada sekitar 20 petani yang tergabung dalam kelompok tani di Desa Koto Tuo.
Berdasarkan hasil inspeksi lapangan, debit air Sungai Batang Sangkir masih tersedia dan dinilai mencukupi untuk dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi melalui sistem pemompaan.
Pelaksanaan penyaluran air berlangsung dengan kondisi cuaca cerah. Akses menuju lokasi persawahan juga berada dalam kondisi baik sehingga proses mobilisasi peralatan dan operasional pompa dapat dilakukan tanpa kendala berarti.
Disiapkan Solusi Jangka Panjang
Pemompaan air tersebut menjadi langkah awal pemerintah untuk memastikan kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi selama kondisi kekeringan berlangsung. BWS Sumatera VI selanjutnya akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memperkuat penanganan secara berkelanjutan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pengaturan jadwal operasional pompa. Pengaturan tersebut diperlukan agar pemanfaatan sumber air dapat dilakukan secara efektif, merata, dan berkelanjutan sesuai kebutuhan petani.
Selain itu, BWS Sumatera VI akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Kota Sungai Penuh terkait rencana penyediaan sumur bor sebagai sumber air alternatif yang juga akan dilengkapi dengan sistem perpompaan.
Langkah tersebut dinilai penting karena area persawahan di Desa Koto Tuo belum memiliki jaringan irigasi yang memadai. Dengan adanya sumber air alternatif, ketahanan pasokan air bagi lahan pertanian diharapkan dapat ditingkatkan, terutama ketika kekeringan kembali terjadi. (CHI)
Baca Juga: Kebakaran Hanguskan Kampung Adat Sade, NTB Dorong Penguatan Mitigasi Bencana












