JAKARTA, LINTAS — PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui Direktorat Pengelolaan Prasarana melakukan pembaruan menyeluruh mulai dari peremajaan rel, modernisasi wesel, pembaruan sistem sinyal, hingga penerapan teknologi digital yang menggantikan metode kerja manual.
Direktur Pengelolaan Prasarana KAI, Heru Kuswanto, menegaskan bahwa modernisasi ini bukan sekadar pembaruan teknis, tetapi merupakan langkah strategis membangun fondasi masa depan perkeretaapian Indonesia.
“Kami ingin memastikan setiap perjalanan pelanggan berlangsung aman, andal, dan didukung teknologi terkini,” ujarnya, Senin (11/8/2025).
Heru menjelaskan, transformasi ini diarahkan untuk memberikan Big Point – High Impact – Powerful – Efficiency Impact serta selaras dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP).
Tiga Fokus Utama
Ada tiga fokus utama yang dijalankan: meningkatkan Reliability, Availability, Maintainability, Safety, and Services (RAMSS) guna memperkuat daya saing dan pendapatan perusahaan.
Transformasi digital dalam pengoperasian dan perawatan prasarana untuk mendorong efisiensi, keselamatan, dan pertumbuhan pendapatan. Program berbasis keberlanjutan yang mengacu pada prinsip Sustainability dan Environmental, Social, and Governance (ESG).
Sejak 2020, KAI telah mengganti lebih dari 1,6 juta meter rel baja di jalur utama. Bantalan kayu yang rawan lapuk diganti dengan bantalan sintetis yang lebih kuat dan tahan lama.
Ratusan wesel diperbarui menggunakan struktur beton untuk meningkatkan stabilitas. Dampaknya, kecepatan operasi meningkat di lebih dari 800 kilometer jalur, sementara Track Quality Index pada triwulan I 2025 mencapai 5.554 — mendekati kategori sempurna.
Transformasi juga menyentuh ranah digital. Pemeriksaan dan perawatan prasarana kini dilakukan melalui aplikasi seperti P3STE Mobile, CMS berbasis web, dan sistem digital lainnya. Data lapangan dapat dicatat secara real-time, tersimpan rapi, dan dianalisis untuk pengambilan keputusan yang cepat.
KAI juga mengimplementasikan sensor digital di daerah rawan untuk memantau kondisi jalur. Sensor tersebut mampu mendeteksi pergerakan tanah, suhu rel, hingga getaran pada jembatan baja yang berusia lebih dari 90 tahun. Semua informasi terintegrasi dalam peta digital 3D yang mempermudah teknisi melakukan analisis dan tindak lanjut.
Pemasangan Panel
Dari sisi keberlanjutan, KAI memasang panel surya di 138 stasiun dan fasilitas operasional dengan kapasitas hampir 4.500 kW. Upaya ini menjadi langkah nyata perusahaan menurunkan emisi karbon.
Tak hanya itu, KAI juga aktif dalam sejumlah proyek strategis nasional seperti elektrifikasi jalur Jakarta–Sukabumi, pengembangan sistem sinyal LRT Jabodebek dan Sumatera Selatan, serta penguatan persinyalan di jalur ganda selatan Jawa.
Heru menyebut, perusahaan juga melakukan penyesuaian struktur organisasi lapangan, mempertegas peran teknisi, dan memastikan semua proses perawatan sesuai pedoman teknis regulator. Hal ini menjamin keseragaman, efisiensi, dan akuntabilitas di lapangan.
Baca Juga: KAI Sediakan 19 Ribu Kursi Tambahan untuk “Long Weekend” 17 Agustus 2025
“Setiap kilometer rel yang kami perbaiki adalah wujud komitmen untuk menghadirkan transportasi yang lebih cepat, ramah lingkungan, dan cerdas. Di balik keheningan rel, ada kerja kolaboratif, teknologi, dan visi yang kami jaga,” pungkasnya. (CHI)

























