BANDUNG, LINTAS – Keberadaan Jalan Tol Jakarta-Bandung diharapkan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat lokal dengan pengembangan area istirahat yang mengakomodasi usaha mikro-kecil-menengah (UMKM).
Demikian salah satu hasil penilairan yang dilakukan oleh Tim Ahli/Pakar Penilaian Jalan Tol Berkelanjutan (JTB) Kementerian PUPR. Penilaian dilakukan Selasa-Kamis (10-12/10/2023).
Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, perlu adanya peningkatan kualitas layanan jalan tol secara berkelanjutan karena kebutuhan dan ekspektasi publik yang semakin tinggi.
“Kehadiran rest area juga didorong untuk dapat memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi perekonomian masyarakat lokal, melalui penyediaan kios-kios bagi UMKM untuk mempromosikan produk dan kuliner lokal,” kata Basuki dikutip dari siaran pers, Sabtu (14/10/2023).
Tim Ahli/ Pakar Penilaian Jalan Tol Berkelanjutan (JTB) Sudirman mengatakan, selain pemenuhan standar mutu penilaian (SPM) yang seharusnya dipertahankan, pada tahun 2023 penilaian juga menekankan pada investasi ekonomi untuk mendukung produk lokal di kawasan sekitar jalan tol.
Selain itu, terdapat juga pemenuhan aspek kesetaraan jender dan kepedulian masyarakat terhadap jalan tol yang sudah dilaksanakan oleh setiap BUJT sebagai pihak pengelola, demi tercapainya Toll for All sebagai tema JTB di tahun 2023.
”Sesuai dengan instruksi presiden melalui Menteri PUPR, UMKM dan usaha lokal perlu diperbanyak untuk meningkatkan kualitas jalan tol dengan baik. Selain itu, perlu adanya peningkatan informasi objek-objek yang memiliki nilai ekonomis dan pariwisata di sekitar ruas jalan tol dan rest area,” kata Sudirman.
Standardisasi Produk
Anggota Tim Ahli/ Pakar Penilaian JTB, Yuana Sutyowati, menambahkan, rest area terintegrasi dengan fungsi-fungsi daya dukung jalan tol yang memengaruhi kenaikan tarif SPM jalan tol. Sehingga kualitas dan value-nya juga perlu dijaga dan ditingkatkan oleh BUJT dan mitra.
“Rest area sebenarnya sudah memberikan dampak positif bagi UMKM lingkungan sekitar. Karena masyarakat diberikan venue dan akses berjualan yang lebih baik dibanding di luar rest area,” kata Yuana.
Yuana juga menyarankan pihak BUJT dan mitra agar bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam melakukan berbagai pelatihan seperti standardisasi produk, sertifikasi halal, hingga pengurusan hak merek.
”Untuk membenahi kios UMKM juga dapat bekerja sama dengan pihak bank dengan kredit usaha mikro (KUR). Semua ini demi meningkatkan kualitas UMKM dan masyarakat yang berjualan di rest area,” tambah Yuana.

Sementara itu, Senior Manager RO 3 PT Jasamarga Metropolitan Tollroad Agni Mayvinna, selaku BUJTm mengatakan, pihaknya terus berupaya mempertahankan dan meningkatkan SPM dari tahun ke tahun, supaya kualitas jalan tol semakin baik. Mulai dari beautifikasi, pemeliharaan sarana pelengkap jalan tol, hingga rencana penambahan signage dengan ornamen lokal sebagai ciri khas dari ruas jalan tol yang dikelola.
Adapun ruas yang dinilai pada Jalan Tol Jakarta – Bandung meliputi ruas Cikampek-Padalarang-Cileunyi (122,9 km), ruas Cileunyi-Sumedang-Dawuan (61,715 km), ruas Soreang-Pasirkoja (8,15 km) dan ruas Cibitung-Cilincing (34,7 km). Selain PT Jasamarga Metropolitan Tollroad, BUJT pengelola lainnya yakni PT Citra Karya Jabar Tol, PT Citra Marga Lintas Jabar, dan PT Cibitung Tanjung Priok Port Tollways.
“Penilaian JTB Tahun 2023 dilakukan mulai 12 Juni hingga 30 November 2023. Hasil penilaian akan diumumkan saat Hari Bakti PU Ke-78 pada 3 Desember 2023,” ujar Sekretariat Pelaksana JTB 2023, Buyung Ridi. (*/HRZ)
Baca Juga: Jalan Tol Surabaya-Probolinggo-Malang Penuhi Layanan Ramah Jender



















