Di balik manfaat yang begitu besar bagi kehidupan makhluk, aliran sungai tidak jarang menimbulkan bencana dalam kehidupan manusia yang diakibatkan oleh ulah manusia itu sendiri.
Namun, bencana tidak menyurutkan keinginan manusia untuk bertempat tinggal di dekat sungai. Sebab, dalam kehidupan pada hakikatnya manusia cenderung mendekatkan dirinya dengan air sebagai sumber kehidupan.
Seperti yang dicontohkan oleh nenek moyang kita yang lebih memilih bertempat tinggal di tepi sungai tidak di tengah sungai agar lebih dekat dengan sumber air, sekalipun bencana menghantui setiap saat. Akan tetapi, apa yang terjadi pada kampung berikut ini adalah justru kampung yang tumbuh dan berkembang di tengah sungai.
Semula tak terpikirkan bagaimana sebuah perkampungan bisa tumbuh dan berkembang di tengah sungai tidak seperti kampung-kampung lainnya yang umumnya berlokasi di tepian sungai.

Kampung Pulo Geulis, demikian nama kampung yang berdiri di atas pulau kecil yang membelah Sungai Ciliwung di Kota Bogor tidak jauh dari Istana Bogor dan kini menjadi kampung etnik dan unik serta terbuka untuk umum sebagai tempat wisata sejarah.
Penemuan Pulo Geulis
Secara historis awalnya Pulo Geulis menjadi tempat peristirahatan keluarga Kerajaan Padjadjaran bernama Parakan Baranangsiang pada tahun 1482. Kemudian Kesultanan Banten menyerang Kerajaan Padjadjaran hingga kerajaan ini hancur di tahun 1579. Sampai tahun 1687, pulau ini bagaikan tanah tak bertuan karena tak pernah lagi dipakai sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan.
Tahun 1703, datang tim ekspedisi Abraham van Riebececk dari Batavia menyusuri Sungai Ciliwung hingga akhirnya menemukan Pulo Geulis. Saat itu tim ekspedisi menemukan adanya situs bersejarah berupa Klenteng/Kuil Phanko Bio dan mulai melihat adanya tanda-tanda kehidupan masyarakat yang terbentuk secara multikultur yang didominasi warga keturunan Tionghoa dan Sunda.
Seiring berjalannya waktu, Pulo Geulis berkembang menjadi kawasan padat penduduk di mana pendatang semakin banyak bermukim di pulau seluas 3,5 ha ini. Umumnya mereka datang menggantikan orang-orang Tionghoa yang mulai pindah ke Suryakencana yang kini dikenal sebagai kawasan Pecinan di Kota Bogor. Perkampungan Pulo Geulis ini semakin padat sejak dibangunnya Terminal Baranagsiang dan Pasar Bogor.
Tahun 1970 wilayah ini secara resmi ditetapkan dengan nama Pulo Geulis dan masuk ke dalam Rukun Warga (RW) 004, Kelurahan Babakan Pasar Kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor.
Ketua RW 004 Hamzah yang ditemui Lintas di kediamannya, mengatakan kini Kampung Geulis dipadati oleh 2.742 jiwa atau sekitar 700 keluarga. Uniknya warga Kampung Geulis sangat menjaga kerukunan dan menghormati toleransi walaupun multietnik dan agama. Hampir semua agama hidup rukun di sini, mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Protestan, Buddha dan Kong Hucu, bahkan di klenteng/vihara terdapat petilasan Kerajaan Padjadjaran yang dikenal dengan Makam Mbah Surya Kencana.
“Tidak hanya itu, beberapa tahun yang lalu utusan dari Vatikan dan Roma pernah berkunjung ke Pulau Geulis,” ujar Hamzah penuh semangat.
Infrastruktur Pulau Geulis
Dukungan Pemerintah Kota Bogor terhadap kelengkapan infrastruktur Pulo Geulis secara bertahap diwujudkan mulai dari pembangunan 3 jembatan penyeberangan orang dan 1 jembatan untuk motor diatas Sungai Ciliwung.
Untuk mencegah pencemaran air sungai, pemerintah kota telah membangun 10 IPAL (Instalasi Pengolahan Air limbah), masing-masing IPAL untuk 10 keluarga dan akan dilanjutkan secara bertahap agar semua keluarga dilengkapi IPAL. Tidak hanya itu, secara swadaya warga melalui gotong royong membuat arisan sampah sehingga tidak sedikit pun sampah yang terbuang ke sungai.
Terkait kekhawatiran warga terhadap banjir Sungai Ciliwung yang kerap terjadi, diakui Hamzah sebelum tahun 2018 bila banjir besar datang maksimal genangan air hanya sampai setinggi lutut dan tidak sampai masuk ke lantai rumahnya, tetapi setelah 2018 dengan dibangunnya Bendungan Ciawi dan Sukamahi di hulu Sungai Ciliwung, kini genangan tidak terjadi lagi.
Kampung Pulo Geulis menjadi contoh dan sebagai inspirasi bagi perkampungan lainnya yang lokasinya berdekatan dengan sungai melalui pengelolaan kampung yang interaktif dengan lingkungannya dengan menjaga dan memelihara sungai beserta ekosistemnya. (MAL)
Baca Juga: Kelola Aliran Sungai Bengawan Solo, 3 BUMN Karya Garap Proyek Bendungan Karangnongko Paket 1



















