JAKARTA, LINTAS – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat peningkatan kinerja layanan infrastruktur dan keselamatan selama penanganan arus mudik dan arus balik Lebaran 2026. Evaluasi ini menjadi pijakan penting untuk meningkatkan kualitas layanan mudik pada tahun-tahun mendatang.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan bahwa periode Lebaran tahun ini bukan hanya fokus pada kelancaran perjalanan, tetapi juga menjadi momentum pembelajaran untuk perbaikan layanan infrastruktur secara berkelanjutan.
“Periode arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 menjadi momentum penting, tidak hanya dalam pelaksanaan, tetapi juga sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas layanan ke depan,” ujar Dody dalam kegiatan Silaturahmi Menteri PU dengan Media di Gedung Pendopo Kementerian PU, Kamis (2/4/2026).
Dalam mendukung kelancaran arus mudik dan balik, Kementerian PU memastikan kesiapan infrastruktur sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor.
“Kementerian PU memastikan kondisi jalan nasional tetap mantap, dan posko serta tim tanggap darurat tetap siaga. Kementerian PU juga melakukan identifikasi titik rawan bencana dengan dukungan Disaster Relief Unit (DRU), serta penguatan koordinasi lintas sektor bersama Kementerian Perhubungan, Korlantas Polri, BMKG, dan pemangku kepentingan lainnya,” lanjutnya.
Secara nasional, panjang jaringan jalan mencapai 47.603,39 km dengan tingkat kemantapan 93,50%. Seluruh ruas dijaga tetap dalam kondisi baik selama periode mudik melalui pemantauan intensif di lapangan.

Posko Mudik
Sebanyak 546 posko mudik juga disiagakan di berbagai wilayah untuk mendukung penanganan kondisi darurat di titik rawan bencana, kemacetan, hingga kecelakaan.
Di sektor jalan tol, panjang ruas operasional mencapai 3.115,98 km yang mencakup 76 ruas tol. Selain itu, pemerintah mengoperasikan 10 ruas tol fungsional sepanjang 291,13 km guna menambah kapasitas layanan selama periode Lebaran.
Volume kendaraan keluar dari Jakarta tercatat mencapai 3,25 juta kendaraan atau meningkat 18,43% dari kondisi normal. Kebijakan diskon tarif tol sebesar 30% turut memberikan manfaat ekonomi sekitar Rp38,69 miliar bagi 1,22 juta kendaraan sekaligus membantu distribusi lalu lintas.
“Kalau saya melihat sepintas, memang kondisinya lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Peningkatan ini antara lain karena kontribusi dari BUJT yang telah banyak berinvestasi, misalnya dalam pemasangan CCTV dan radar. Dengan teknologi tersebut, arus pergerakan kendaraan dapat terdeteksi dengan lebih mudah. Secara keseluruhan kondisi lalu lintas masih cukup baik dan terkendali, meskipun ada beberapa titik yang perlu dibenahi,” kata Dody.
Ia juga mengapresiasi pemanfaatan teknologi oleh badan usaha jalan tol, khususnya Jasa Marga, dalam mendukung pemantauan lalu lintas selama periode Lebaran.
Pemanfaatan Teknologi
“Saya juga mengapresiasi langkah Jasa Marga dalam pemanfaatan teknologi, namun agar tidak bergantung pada satu penyedia layanan saja. Perlu adanya cadangan provider agar sistem pemantauan tetap berjalan optimal. Ke depan, diharapkan sistem ini dapat terintegrasi dengan BUJT lainnya sehingga seluruh ruas tol dapat dimonitor secara bersamaan dan pengelolaannya menjadi lebih baik,” ujarnya.
Dari sisi keselamatan, tingkat fatalitas kecelakaan berhasil ditekan menjadi 5% dari sebelumnya 8%. Respons penanganan darurat juga menunjukkan kinerja positif dengan waktu tanggap rata-rata 5–8,5 menit, lebih cepat dari standar pelayanan minimal.
Meski demikian, sejumlah titik masih menjadi perhatian, terutama kemacetan di beberapa ruas tol serta keterbatasan kapasitas rest area, khususnya di KM 57 dan KM 62.
“Kami sudah melakukan pembahasan dengan BUJT untuk peningkatan kapasitas rest area dan penambahan rest area fungsional. Ke depan hal ini akan terus kami dorong agar pelayanan semakin optimal,” tegas Dody. (CHI)
Baca Juga: PU Gaspol Infrastruktur 2027, Kejar Ekonomi 8 Persen dan Tekan Kemiskinan































