Bagi sebagian besar orang, Stasiun Gambir adalah tempat memulai perjalanan menuju berbagai kota di Indonesia. Deru lokomotif, suara pengumuman keberangkatan, hingga lalu lalang penumpang menjadi pemandangan yang akrab setiap hari. Namun, suasana berbeda hadir saat peringatan Hari Anak Nasional 2026.
Di tengah hiruk pikuk aktivitas transportasi, kawasan Parkir Utara Stasiun Gambir berubah menjadi ruang belajar yang penuh warna. Tawa anak-anak menggantikan kesibukan penumpang. Kertas gambar, balok permainan, hingga naskah pidato menjadi teman mereka untuk mengeksplorasi kreativitas, keberanian, dan imajinasi.
Melalui kegiatan bertema edukatif dan kreatif yang digelar PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta pada Kamis (23/7/2026), stasiun tidak lagi sekadar menjadi tempat naik dan turun kereta. Stasiun menjadi ruang tumbuh bagi generasi masa depan.
Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, mengatakan Hari Anak Nasional merupakan momentum untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi anak-anak sekaligus memperkenalkan dunia perkeretaapian dengan cara yang menyenangkan.
“Stasiun bukan hanya menjadi tempat masyarakat memulai dan mengakhiri perjalanan. Melalui kegiatan Hari Anak Nasional ini, kami ingin menghadirkan Stasiun Gambir sebagai ruang belajar yang menyenangkan, tempat anak-anak dapat berkreasi, berani tampil, serta mengenal dunia perkeretaapian secara lebih dekat,” ujar Franoto.
Kegiatan tersebut melibatkan siswa sekolah dasar dengan aktivitas yang disesuaikan berdasarkan jenjang usia. Pendekatan ini dilakukan agar setiap anak memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Bagi siswa kelas 1 dan 2 SD, dunia kereta api dituangkan melalui lomba mewarnai sketsa bertema perkeretaapian. Beragam warna dipilih dengan bebas, menghadirkan lokomotif dan gerbong dalam imajinasi polos anak-anak yang penuh keceriaan.
Sementara itu, siswa kelas 3 dan 4 SD diajak mengasah kemampuan berpikir logis dan bekerja di bawah tekanan waktu melalui lomba menyusun balok. Mereka ditantang membentuk objek tertentu dengan kreativitas dan ketelitian.

Belajar dan Berkreativitas
Berbeda lagi dengan peserta kelas 5 dan 6 SD yang mendapatkan tantangan membaca pidato bertema perkeretaapian Indonesia. Di hadapan para juri dan peserta lainnya, mereka belajar menyampaikan gagasan dengan percaya diri sekaligus melatih kemampuan berbicara di depan umum.
Namun, pengalaman yang diberikan KAI Daop 1 Jakarta tidak berhenti pada perlombaan. Anak-anak juga diajak mengenal lebih dekat berbagai profesi yang ada di lingkungan KAI, mulai dari petugas operasional yang memastikan perjalanan kereta berlangsung aman dan tepat waktu, hingga profesi manajerial yang bekerja di balik layar mendukung operasional perusahaan.
Melalui pengenalan profesi tersebut, anak-anak memperoleh gambaran bahwa dunia perkeretaapian bukan hanya tentang masinis, tetapi juga melibatkan banyak bidang pekerjaan yang saling mendukung agar layanan transportasi berjalan optimal.
Keseruan semakin lengkap dengan hadirnya program edukasi sains interaktif. Berbagai aktivitas dirancang agar anak-anak dapat belajar sambil bermain, memicu rasa ingin tahu, serta menumbuhkan minat terhadap ilmu pengetahuan melalui pendekatan yang menyenangkan.




Proses Belajar
Bagi KAI Daop 1 Jakarta, keberhasilan kegiatan ini tidak diukur dari siapa yang menjadi juara. Yang lebih penting adalah proses belajar yang dijalani setiap peserta.
“Kemenangan bukan menjadi satu-satunya tujuan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak belajar menghargai proses, berkompetisi secara sehat, mengembangkan kreativitas, dan membangun keberanian. Kami berharap pengalaman ini menjadi kenangan positif sekaligus menambah wawasan mereka,” kata Franoto.
Melalui kegiatan tersebut, KAI Daop 1 Jakarta juga ingin menanamkan kedekatan antara generasi muda dengan transportasi kereta api. Edukasi dilakukan dengan pendekatan yang lebih humanis, menyenangkan, dan sesuai dengan dunia anak-anak sehingga pengalaman yang diperoleh tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga membekas dalam ingatan mereka.
Bagi anak-anak yang hadir, Hari Anak Nasional tahun ini mungkin akan dikenang bukan karena hadiah yang dibawa pulang, melainkan karena pengalaman baru yang mereka rasakan. Mereka belajar bahwa stasiun bukan hanya tempat kereta berhenti, tetapi juga tempat lahirnya keberanian, kreativitas, dan cita-cita.
Menutup rangkaian kegiatan tersebut, Franoto berharap ruang-ruang publik seperti stasiun dapat terus menjadi tempat yang ramah bagi anak sekaligus mendukung tumbuhnya generasi Indonesia yang cerdas, kreatif, percaya diri, dan berkarakter.
Di Hari Anak Nasional 2026, Stasiun Gambir pun membuktikan bahwa setiap perjalanan tidak selalu dimulai dari atas rel. Ada perjalanan lain yang tak kalah penting, yaitu perjalanan anak-anak untuk mengenal dunia, mengembangkan potensi, dan mulai bermimpi setinggi mungkin. (CHI)
Baca Juga: Desa Terdampak Kekeringan di Banjar Kalsel Terima Bantuan Air Minum dari Kementerian PU















