Di tengah padatnya tugas sebagai Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum, Boby Ali Azhari tetap menjaga keseimbangan hidup dengan dua kegemaran yang tampak sederhana namun penuh makna: olahraga dan memasak.
Baginya, keduanya bukan sekadar hobi, melainkan cara menjaga disiplin, ketenangan, sekaligus kreativitas di luar ruang rapat. Jabatan eselon I yang identik dengan rapat maraton, target kinerja, dan kebijakan strategis sektor konstruksi nasional, sosok Boby Ali Azhari menyimpan cerita lain tentang bagaimana ia merawat energi dan pikirannya.
Sejak kecil, olahraga telah menjadi bagian dari hidupnya. Sepak bola adalah pintu masuk, disusul berbagai aktivitas fisik lain seiring perjalanan pendidikan dan kariernya.
“Olahraga itu sudah saya jalani sejak SD. Dari sepak bola, lalu berlanjut ke berbagai jenis olahraga sampai sekarang. Buat saya, olahraga bukan soal prestasi, tapi soal konsistensi dan disiplin,” ujar Boby saat diwawancarai Lintas, Rabu (25/02/2025).
Aktivitas berolahraga itu, menurutnya, membentuk karakter kerja yang terstruktur. Disiplin waktu latihan di masa kecil terbawa hingga dunia birokrasi. Ia mengakui, semangat kompetisi yang sehat dari lapangan olahraga kerap memengaruhi cara berpikirnya dalam bekerja. Target tidak sekadar angka, tetapi tantangan yang harus dicapai dengan strategi.
“Di olahraga kita belajar kalah dan menang karena usaha sendiri. Itu sama seperti pekerjaan, kalau mau hasil bagus ya harus latihan, harus serius,” tuturnya.
Kini, di sela kesibukan memimpin Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, Boby tetap meluangkan waktu untuk bergerak aktif. Olahraga menjadi ruang jeda dari rutinitas administrasi dan teknokrasi. Baginya, tubuh yang bugar membuat pikiran lebih jernih dalam mengambil keputusan.
Namun, bukan hanya olahraga yang menjadi penyeimbang. Dapur juga menjadi “ruang alternatif” bagi Boby untuk melepas penat. Ia mengaku menikmati proses memasak sebagai aktivitas yang menenangkan sekaligus kreatif.

“Kalau memasak itu rasanya seperti eksperimen kecil. Kita atur bahan, bumbu, dan waktu. Mirip dengan merancang program kerja, hanya saja hasilnya bisa langsung dinikmati,” katanya sambil tersenyum.
Kegemaran memasak ini lahir dari kebiasaan saat ia menjadi pelajar Pascasarjana di Delft Belanda, kemudian berkembang menjadi aktivitas personal yang memberi kepuasan tersendiri.
Dari dapur, ia belajar bahwa ketelitian dan kesabaran sangat menentukan hasil akhir, sama halnya dengan pembangunan konstruksi yang membutuhkan perencanaan matang.
Pemimpin Harus Membumi
Di mata Boby, jabatan struktural tinggi tidak seharusnya menjauhkan seseorang dari sisi manusiawinya. Justru, keseimbangan antara pekerjaan dan kegemaran pribadi membuat seorang pemimpin tetap membumi.
“Kita boleh sibuk, tapi tetap perlu waktu untuk diri sendiri. Olahraga dan memasak itu cara saya menjaga agar tetap waras dan fokus,” ungkapnya.
Sebagai Direktur Jenderal Bina Konstruksi, Boby memikul tanggung jawab besar dalam pembinaan jasa konstruksi nasional, mulai dari peningkatan kualitas tenaga kerja hingga penguatan sistem penyelenggaraan proyek. Namun di balik itu, ia menunjukkan bahwa kepemimpinan juga bertumpu pada ketahanan pribadi.
Cerita Boby Ali Azhari memberi gambaran bahwa jabatan tinggi bukan alasan untuk meninggalkan hobi dan kesenangan sederhana. Dari lapangan olahraga hingga dapur rumah, ia merajut keseimbangan antara profesi dan passion—sebuah pelajaran bahwa kerja keras perlu ditopang oleh ruang jeda agar tetap bernilai dan berkelanjutan. (ROY/PAH)
Baca Juga: Irigasi Digenjot 750.000 Hektar pada 2026
































