Home Berita BK Sipil PII Siapkan “Future-Ready Engineer”

BK Sipil PII Siapkan “Future-Ready Engineer”

Share

JAKARTA, LINTAS – Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (BK Sipil PII) menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai prioritas utama selama periode kepengurusan 2025–2028. Organisasi profesi tersebut menargetkan lahirnya future-ready engineer, yakni insinyur yang memiliki kompetensi global untuk menjawab tantangan transformasi industri, digitalisasi, transisi energi, serta pembangunan berkelanjutan.

Ketua BK Sipil PII Ir. Habibie Razak, IPU., ASEAN Eng., ACPE., ACPE Eng., FIEAust., CPEng., EngExec., IntPE(Aus) mengatakan seluruh program organisasi diarahkan untuk mendukung tiga milestone pembangunan nasional, yakni Making Indonesia 4.0 tahun 2030, Indonesia Emas 2045, dan Net Zero Emission 2060.

Menurut Habibie, tantangan pembangunan nasional saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu. Insinyur tidak lagi hanya dituntut menguasai ilmu teknik, tetapi juga teknologi digital, manajemen proyek, keberlanjutan, hingga kemampuan bekerja lintas disiplin.

Future-ready engineer adalah insinyur yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memahami sustainability, menguasai digital engineering, dan memiliki daya saing internasional,” ujarnya.

Tiga Milestone Nasional 

Habibie menjelaskan bahwa seluruh program BK Sipil PII diselaraskan dengan tiga target besar pembangunan Indonesia. Milestone pertama adalah Making Indonesia 4.0, yang berfokus pada transformasi industri melalui digitalisasi dan teknologi.

Milestone kedua adalah Indonesia Emas 2045, ketika Indonesia ditargetkan menjadi negara maju dengan sumber daya manusia unggul dan infrastruktur berkelas dunia. Sedangkan milestone ketiga adalah Net Zero Emission 2060, yang menuntut pembangunan rendah karbon dan penggunaan energi bersih.

“Insinyur Indonesia harus menjadi bagian dari solusi dalam mewujudkan ketiga milestone tersebut. Mereka harus mampu merancang infrastruktur yang resilien, smart, dan sustainable,” tegasnya.

Habibie mengungkapkan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam jumlah tenaga insinyur. Saat ini rasio insinyur Indonesia diperkirakan baru sekitar 8.000 orang per satu juta penduduk, sedangkan kebutuhan ideal mencapai sekitar 30.000 orang per satu juta penduduk agar mampu menopang pembangunan menuju Indonesia Emas.

“Kalau kita ingin menjadi negara maju, jumlah dan kualitas insinyur harus terus ditingkatkan. Kita masih tertinggal dibandingkan beberapa negara di kawasan Asia,” katanya.

Di tengah kebutuhan peningkatan jumlah insinyur nasional, Badan Kejuruan Sipil masih menjadi badan kejuruan terbesar di lingkungan PII. Dari sekitar 100 ribu anggota PII, sekitar 40 ribu anggota atau sekitar 40 persen merupakan insinyur sipil, sedangkan 60 persen lainnya berasal dari 26 badan kejuruan lain yang menaungi berbagai disiplin keinsinyuran. Komposisi tersebut menunjukkan besarnya peran sekaligus tanggung jawab insinyur sipil dalam mendukung pembangunan nasional.

“Kalau kita melihat komposisi anggota PII saat ini, sekitar 40 persen merupakan insinyur sipil, sedangkan 60 persen lainnya berasal dari 26 badan kejuruan lainnya. Artinya, insinyur sipil memiliki tanggung jawab besar sebagai penggerak pembangunan, namun keberhasilan Indonesia tetap harus dibangun melalui kolaborasi seluruh disiplin keinsinyuran,” tutur Habibie.

Kompetensi Digital

Menurut Habibie, penguasaan Building Information Modeling (BIM), kecerdasan buatan, digital engineering, carbon accounting, hingga konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) akan menjadi kompetensi wajib bagi insinyur masa depan.

Selain itu, pembangunan infrastruktur juga harus memperhatikan aspek ketahanan terhadap perubahan iklim, efisiensi energi, serta pengurangan emisi karbon.

“Ke depan kita tidak cukup hanya membangun infrastruktur yang kuat, tetapi juga harus membangun infrastruktur yang rendah karbon, tahan terhadap perubahan iklim, dan memanfaatkan teknologi digital,” jelasnya.

Habibie berharap insinyur Indonesia tidak hanya menjadi pelaksana proyek nasional, tetapi juga mampu menjadi pemimpin proyek di tingkat ASEAN maupun dunia. Menurutnya, peningkatan kompetensi, pengalaman internasional, serta sertifikasi profesi menjadi modal utama untuk meningkatkan daya saing tersebut.

“Harapan kami, insinyur Indonesia mampu menjadi pemain utama dalam proyek-proyek internasional. Itulah tujuan kami membangun future-ready engineer, agar Indonesia memiliki SDM keinsinyuran yang mampu membawa bangsa menuju Indonesia Emas 2045 sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060,” pungkasnya. (PAH/ROY)

Baca Juga: Bendungan Sidan Resmi Beroperasi, Layani Irigasi 9.598 Hektar

Oleh:

Share